The Bodyguard

The Bodyguard
Suprising Words


__ADS_3

Miabella terbangun di atas karpet rasfur dengan tangan kekar Carlo yang melingkar di atas perutnya. Gadis itu tersenyum simpul mengingat kegilaan yang telah dia lakukan semalam bersama sang suami. “Astaga, suamiku.” Dia terus mengulang-ulang kata itu, lalu tertawa pelan. Iseng, dirinya meniup kelopak mata Carlo yang masih rapat terpejam.


Sang ketua klan Serigala merah pun langsung terbangun, kemudian memicingkan mata. “Ada apa, Cara mia? Apa kau ingin makan sekarang? Aku bisa memasakkan untukmu ….” Carlo terdiam sejenak sambil mengumpulkan seluruh kesadaran. Dalam bayangannya tadi, pria itu merasa bahwa dirinya masih menjadi pengawal pribadi sang istri. Dulu, ketika dia menjadi bodyguard Miabella, Carlo sering membuatkan berbagai macam makanan yang menggugah selera, spesial untuk kekasihnya.


“Apa kata anak buahmu nanti jika kau memasak untukku?” Miabella terkekeh pelan seraya menggeser tubuh polosnya ke atas badan Carlo yang juga dalam keadaan sama.


“Jangan mulai lagi, Cara mia. Jam berapa ini? Aku ada janji bertemu dengan tuan Vasiliev untuk membahas beberapa hal,” ujar Carlo. Dengan mudah, dia membalikkan tubuh sang istri, sehingga wanita muda itu kini terkungkung di bawahnya.


“Entah jam berapa sekarang, yang jelas di luar sudah mulai terang,” ucap gadis cantik bermata abu-abu itu tertawa geli.


“Jam lima pagi.” Gumam Carlo pelan sambil menatap ke arah jam besar berbentuk unik, dan sudah terpasang di kamar yang ditempatinya sejak Carlo pindah ke sana. “Masih ada sedikit waktu.” Pria rupawan itu menyeringai. Dia bermaksud hendak membenamkan wajahnya di dada Miabella yang membusung indah. Akan tetapi, gerakannya harus terhenti ketika dia mendengar bunyi yang teramat mengganggu. “Ponselmu berdering, Sayangku. Apa kau ingin aku yang mengangkatnya?” tawar Carlo.


“Sudahlah, jangan pedulikan itu.” Miabella mengerling nakal sambil merengkuh tubuh atletis. Dia melingkarkan tangannya dengan mesra di leher Carlo. Miabella kemudian mengarahkan sang suami agar melanjutkan aktivitas tadi yang sempat terjeda.


Namun, dering telepon itu tak jua berhenti meskipun beberapa saat telah berlalu, sehingga membuat Carlo merasa terganggu. “Mungkin ada hal yang penting,” ujarnya seraya bangkit dan berjalan ke arah nakas. Carlo terdiam sebentar saat membaca nama yang tertera di layar ponsel Miabella.


“Siapa?” tanya sang pemilik telepon genggam itu, yang akhirnya merasa penasaran dan ikut bangkit.


“Nyonya Mia. Ibumu,” jawab Carlo singkat. Perasaan canggung tiba-tiba hadir dan memenuhi dadanya saat itu.


“Kenapa kau masih memanggilnya nyonya? Bukankah kita telah menikah.” Miabella meniru perkataan Carlo semalam, kemudian tertawa. “Baiklah, mungkin ada sesuatu yang penting. Aku akan menelepon balik ibu.” Gadis itu merebut ponsel dari tangan sang suami, lalu menelepon kembali sang ibu.


“Hai, Bu. Apa kabarmu hari ini?” sapa Miabella ceria. Akan tetapi raut muka riang tadi berubah tegang seketika. “Apa?” gumamnya lirih.


Carlo pun penasaran. Dengan menggunakan isyarat, dia meminta Miabella untuk menekan tombol loud speaker supaya dirinya bisa ikut mendengarkan percakapan.


“Ayahmu marah besar karena kau tak jua pulang ke Casa de Luca. Apalagi Marco bersikeras tetap melanjutkan pesta sayembara yang kemarin sempat ditunda,” terang Mia. Suaranya jelas terdengar di telinga Carlo.

__ADS_1


“Untuk apa paman Marco meneruskan ide konyol itu, bu? Aku tidak mau diperebutkan di acara bodoh seperti yang sudah dirancangnya! Aku bukan barang!” tolak Miabella dengan tegas.


“Karena itulah, Bella. Datang dan bicarakan baik-baik semuanya dengan ayah dan pamanmu. Mereka juga ingin bertemu langsung dengan kau, sayang. Apalagi Adriano. Dia sungguh-sungguh mengkhawatirkanmu, nak,” bujuk Mia lembut.


“Ibu juga harus tahu satu hal,” ucap Miabella kemudian. Akan tetapi, sebelum dia melanjutkan kata-katanya, Carlo lebih dulu menggeleng lalu mengambil benda pipih itu dari tangan Miabella.


“Nyonya D'Angelo,” sapa Carlo sopan.


“Carlo, anakku. Tolong bujuklah Miabella agar bersedia pulang ke Casa de Luca. Bukan begini caranya menyelesaikan masalah,” pinta Mia masih dengan nada bicaranya yang teramat lembut.


“Baik, Nyonya. Aku akan mengantarkan nona pulang nanti malam, setelah urusan pekerjaanku di sini selesai,” sahut Carlo yang seketika membuat Miabella membelalakkan matanya lebar-lebar, lalu memukul kuat-kuat lengan kekar yang dipenuhi oleh tato tersebut.


“Aku akan mengantarkan nona, sekaligus ingin menyampaikan sesuatu pada tuan Adriano,” lanjut Carlo yang tak terpengaruh oleh kemarahan Miabella.


“Kuhargai niat baikmu, nak. Kutunggu kalian nanti malam,” pungkas Mia sebelum mengakhiri panggilannya.


“Aku tidak gila, Cara mia. Setelah berjuang habis-habisan untuk mendapatkan dirimu, kenapa aku harus meninggalkan kau lagi? Itu sangatlah tidak masuk akal,” ujarnya sambil terus mendekatkan wajah pada paras cantik sang istri. Dengan gemas, diciuminya Miabella sampai puas. “Percayalah padaku, kumohon.” Lekat, mata biru Carlo saling beradu dengan warna abu-abu milik Miabella.


“Jadi, nanti malam kita akan kembali ke Italia?” tanya wanita muda berambut cokelat itu meyakinkan diri. “Padahal sudah susah payah kita berkendara untuk tiba di tempat ini. Kita bahkan sampai diikuti oleh orang-orang tak dikenal,” gerutu Miabella tanpa henti.


“Aku harus melakukan ini, Sayang. Cepat atau lambat, kita harus memberitahukan status antara kau dan aku pada kedua orang tuamu,” bujuk Carlo.


“Baiklah,” jawab Miabella pada akhirnya setelah berpikir sejenak. Dia lalu merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami. “Nanti malam kita berangkat?” gadis cantik itu mendongakkan wajah.


“Nanti malam,” ulang Carlo sembari mengecup bibir manis itu berulang kali.


......................

__ADS_1


Seperti yang telah Carlo katakan, tepat pukul delapan malam pasangan pengantin baru itu sudah bersiap di hanggar khusus milik Organisasi Serigala Merah. Tempat itu berada di bandara Pulkovo, St. Petersburg. Setelah semuanya siap, dua sejoli tadi memasuki kabin pesawat pribadi bersimbol kepala serigala dengan gugup. Terutama Miabella, gadis itu tampak gelisah.


“Semua akan baik-baik saja, Cara mia,” ucap Carlo lembut. Dia lalu membantu sang istri memasang sabuk pengaman dan memastikan bahwa Miabella duduk dengan nyaman.


Dua jam kemudian, mereka tiba di bandara Malpensa, Milan. Dari sana, mereka melanjutkan perjalanan dengan mobil yang telah disiapkan oleh Grigori beberapa menit sebelumnya. Perjalanan itu cukup lancar sampai Carlo dan Miabella tiba di halaman depan Casa de Luca.


Tampaklah Adriano yang sudah berdiri gagah pada undakan anak tangga teratas. Sedangkan Mia berdiri tepat di sebelah kirinya. Sorot mata biru penguasa organisasi Tigre Nero itu tajam mengarah pada Carlo yang berjalan semakin mendekat sambil menuntun tangan Miabella. “Buona sera, Tuan Adriano,” sapanya sopan.


Adriano hanya menanggapi dengan anggukan pelan. “Masuklah,” ucapnya sebelum membalikkan badan dan melangkah ke dalam bangunan mewah tersebut.


“Bella.” Mia yang juga terlihat gugup, segera memeluk putri sulungnya itu dengan penuh kasih, lalu beralih memeluk Carlo.


“Kenapa semua orang terlihat tegan?,” Carlo mencoba untuk melemparkan candaan demi menutupi debaran dalam dada yang sudah mulai tak terkendali. Perasaan tak karuan itu semakin jelas terasa, ketika mereka tiba di ruang pertemuan tak jauh dari ruang tamu.


Di sana, Marco, Romeo, serta Adriano sudah berdiri gagah menyambut kedatangan Miabella beserta Carlo. “Ini dia penculiknya,” kelakar Marco. Bibirnya boleh tersenyum, tetapi matanya seakan menyimpan amarah yang cukup besar kepada Carlo.


“Aku terpaksa membawanya pergi, Tuan-tuan,” sahut pria tampan itu memulai pembelaannya.


“Itu yang kusesalkan. Kenapa harus dengan cara yang tak pantas seperti ini?” Marco berdecak pelan, lalu melirik ke arah Adriano yang sama sekali tak menampakkan ekspresi apapun di wajah rupawannya. Raut wajah ayah sambung Miabella itu tampak datar.


“Harusnya kau mengikuti sayembara dan berusaha memenangkan Miabella dengan cara yang adil,” celetuk Romeo, ikut menimpali.


“Aku tak perlu mengikuti sayembara, Tuan-tuan, karena Miabella sudah menjadi milikku sepenuhnya,” jawab Carlo penuh keyakinan.


“Apa maksudmu?” desis Adriano.


“Aku sudah menikahi putri Anda kemarin,” jawab Carlo.

__ADS_1


__ADS_2