
"Ghali...?" Seru Bobi ketika telinganya mendengar langkah kaki seseorang yang masuk.
"P-Papa?" Ghali sedikit terkejut karenanya. Dia menghentikan langkahnya dan segera menghadap kepada Bobi dan Chellin.
"Kamu sudah kembali, Nak? Apa kamu tadi bertemu kakak dan kakak iparmu di luar." Tanya Chellin.
"Oh a ada, Ma." Jawab Ghali dengan gugup.
"Kenapa kamu gugup begitu, Ghali?" Bobi menangkap gelagat aneh pada sikap Ghali malam itu.
Ghali segera bersimpuh di lutut Bobi. "Maafkan Ghali, Pa, Ma." Dia terlihat ketakutan. Suaranya bergetar hebat seketika.
"Kamu kenapa, Sayang?" Chellin bertanya dengan nada cemas. Pikirannya mendadak aneh-aneh saat itu.
"Tapi berjanjilah Pa, Ma. Berjanjilah untuk mendengarkan Ghali sampai akhir." Pintanya terdengar memohon.
"Iya, iya... Ada apa?" Bobi ikut panik dan segera berjanji.
"Sebenarnya... Kakak Ipar dan kak Iffah berbohong kepada Mama dan Papa..." Adunya. Dia sungguh tidak memiliki bakat untuk berakting, sehingga dia tidak mampu berbohong kepada orang tua kakak iparnya itu. "Jadi, Ghali mohon sama Papa dan Mama untuk mengikuti permainan mereka sementara waktu ya... Ghali mohon." Pintanya sambil mengatupkan kedua tangannya berharap.
"M maksud kamu apa, Ghali?" Chellin mendadak bingung. Raut wajahnya dan wajah Bobi berubah menjadi tegang seketika.
"Papa dan Mama janji dulu..." Ulangnya meminta.
"Iya... Papa dan Mama berjanji." Sahut Bobi terpaksa mengiyakan.
"Kakak ipar tidak ingin Papa dan Mama menjadi khawatir. Sebenarnya, kaki kakak ipar terluka ketika pulang dari Masjid tadi." Ungkapnya dipenuhi rasa takut. Dia juga bersalah karenanya.
"Terluka bagaimana, Nak?" Chellin tidak mampu lagi menyembunyikan kecemasannya saat itu. Tubuh Chellin bergetar mendengar pengakuan Ghali.
"Kakak ipar nyeker pulang dari Masjid gara-gara Ghali pakai sendalnya, Ma. Jadi, kaki kakak ipar menginjak beling di jalan." Ghali menangis mengakui kesalahannya di depan orang tua itu.
Chellin membekap mulutnya yang sempat ternganga dengan kedua telapak tangannya. Matanya membulat seketika.
"Lalu bagaimana kakak iparmu, Ghali?" Tanya Bobi berusaha untuk tidak panik saat itu.
__ADS_1
"Kakak Iffah memaksanya untuk ke Rumah Sakit, Pa. Jadi, Ghali akan mengantar mereka. Ghali juga baru tau, ketika Ghali melihat kakak ipar menjinjitkan kakinya tadi di teras depan." Tutur Ghali.
"Ayo kita lihat, Pa" Ajak Chellin seraya menarik lengan suaminya.
"Ma, Ma... Dengar, bukankah Toni tidak ingin kita khawatir?" Cegah Bobi tetap bertahan di posisinya.
"Tapi, Pa." Rengek Chellin benar-benar tidak kuasa menahan kecemasannya saat itu. Air matanya bahkan sudah menderas seketika.
"Kita percayakan kepada Iffah dan Ghali, ya. Kita juga sudah berjanji tadi." Bujuk Bobi menenangkan istrinya.
"Maafin Ghali Ma, Pa. Ini semua gara-gara Ghali..." Aku Ghali dengan sangat merasa bersalah.
"Ini semua bukan gara-gara kamu, Nak. Sekarang pergilah... Jangan lupa, beri kabar kepada Papa dan Mama." Ujar Bobi dengan bijaksana.
"Iya, Pa. Ghali pamit... Assalamu'alaikum..." Pamit Ghali seraya meraih tangan Bobi dan Chellin secara bergantian.
"Wa'alaikumussalam..."
"Hati-hati, Ghali... Jangan lupa kasih kabar Mama dan Papa ya, Nak." Pesan Chellin masih terlihat mencemaskan putranya.
*****
"Kenapa lama sekali, Dek?" Tanya Iffah sembari memapah Toni ke dalam Mobil. Mereka duduk di bagian belakang kala itu.
"Maaf kakak..." Ghali tidak ingin menjawab pertanyaan kakaknya itu. Dia merasa bersalah untuk semua hal yang telah dilakukannya sedari tadi.
"Hey... Jalankan mobilnya, Pak sopir." Seru Toni seray memukul sandaran kursi kemudi yang diduduki Ghali. Perasaan bersalah di hati Ghali membuat dia terus-terusan memandang kakak iparnya itu dengan cemas.
"Eh i iya kakak ipar..." Bahkan tidak ada waktu untuk membalas guyonan kakak iparnya saat itu.
Ghali melajukan mobil yang membawa mereka pergi meninggalkan pekarangan kediaman Zulherman. Tanpa Toni dan Iffah sadari, Bobi dan Chellin mengintip kepergian mereka dari dalam rumah.
Sebuah kepedihan bagi Bobi dan Chellin melihat putranya berjalan dengan terseok-seok seperti itu.
Tidak memakan waktu lima belas menit, mereka sampai di rumah sakit terdekat. Luka di kaki Toni segera di tangani tim medis yang masih bertugas malam itu.
__ADS_1
Karena sayatannya cukup dalam dan lebar, telapak kaki Toni terpaksa harus dijahit dengan empat jahitan.
Iffah tidak berhenti menangis melihat penderitaan suaminya.
"Sakit ya, Sayang" Tanyanya sedikit tersedu.
"Tidak... Aku tidak merasakan apa-apa." Sahut Toni begitu santai.
"Bohong..."
"Beneran, Sayang. Sudah, jangan menangis. Malu..." Toni mengusap lembut pipi Iffah dengan kedua ibu jarinya.
Tenaga medis yang menangani luka Toni tersenyum-senyum dibuatnya.
"Memang tidak sakit kok, kak. Karena kaki suami kakak sekarang sedang dibius. Mungkin nanti..."
Toni mengedipkan matanya kepada suster yang tengah berbicara. Dia tidak ingin suster itu memberitahukan kepada istrinya kapan rasa sakit itu akan kembali terasa.
Suster menundukkan kepalanya merasa bersalah. Mungkin dalam hatinya, dia begitu iri melihat cinta seorang suami kepada istrinya yang jarang terjadi di dunia nyata.
"Mungkin nanti... Kapan, Sus?" Tanya Iffah masih menunggu kelanjutan ucapan suster itu.
"Tidak, kak. Nanti kalau kulitnya sudah menyatu, jahitannya bisa dibuka kembali disini, atau di Rumah Sakit terdekat lainnya." Sahut Suster itu berbohong.
Toni tampak tersenyum melihat Iffah bernafas lega setelah mendengar penuturan suster itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1