TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MANUSIA MAKHLUK YANG SEMPURNA


__ADS_3

Meski sudah hampir setengah jam mereka berdiri mengelilingi Toni di ruangan itu, namun Toni belum menampakkan tanda-tanda akan tersadar.


Tangan Neneknya bahkan sudah mengeluarkan keringat karena sedari tadi mengenggam telapak tangannya yang masih terasa dingin.


Tiba-tiba, cairan bening mengalir dari tepi ruas mata Toni yang masih terpejam.


Apa begitu sakit? Sampai-sampai kamu menangis dalam ketidak sadaran seperti ini… Maafkan aku Antoni. Setelah ini, aku janji akan menjadi pendengar yang baik untukmu…


Aku bahkan tidak pernah tau, derita apa yang sudah banyak kamu lalui selama ini.


Aku minta maaf… Cuma kata itu yang bisa aku ucapkan saat ini…


Toni mengerjapkan matanya, pandangannya begitu kabur ketika pertama kali matanya terbuka. Dia berusaha mengedipkan matanyja dengan pelan beberapa kali.


“Nenek,,,” Tangannya yang mulai panas merasakan sentuhan tangan keriput neneknnya.


“Iya sayang, nenek ada disini.” Sahut Nenek dengan mata menelaga. Dia begitu senang cucunya telah tersadar dan memanggil dirinya terlebih dahulu.


Apa Nenek sudah menjadi orang terpenting bagimu, Nak? Tidak ada hal yang membahagiakan bagi nenek di usia nenek yang sudah tua ini melainkan kedekatan kamu dengan Nenek. ~ Nenek menciumi tangan Toni sejadi-jadinya dan mengelus lembut kepala cucu terkasihnya itu.


“Nenek, kenapa papa meninggalkan Toni lagi setelah ingin menjemput Toni?” Cairan bening semakin menderas dari tepi ruas matanya yang menyembab.

__ADS_1


“Tidak boleh, nenek tidak akan izinkan Bram menjemputmu. Dia tidak boleh mengambil kamu dari Nenek. Nenek tidak mau, Nak…” Nenek menangis sejadi-jadinya sambil membenamkan kepalanya di lengan Toni yang masih terlihat kekar meski terkulai lemah. Dia begitu terkejut mendengar pertanyaan Toni.


Chellin ikut terisak mendengarnya, Bobi merengkuh tubuh Chellin yang terlihat lemah. Sedangkan Iffah yang juga mengetahui bahwa papa Toni telah meninggal, ikut menangis mendengar pertanyaan Toni terhadap Nenek.


Toni melenguh seraya tersenyum tipis. Dia memutar bola matanya, menyapu seluruh bagian ruangan yang di tempatinya saat itu. Matanya tertuju kepada Iffah yang terlihat sesenggukan berusaha mehan tangisnya.  Iffah menundukkan kepalanya, tidak berani membalas pandangan Toni.


Dia begitu takut untuk saat itu.


“Maafkan saya, Pak Antoni.” Ghali yang sedari terdiam menikmati suasana haru menyaksikan keharmonisan keluarga atasan kakaknya itupun bersuara.


“Tidak ada yang pantas, yang bisa saya ucapkan selain kata maaf kepada Anda, Pak. Saya sungguh menyesalinya.” Tutur Ghali begitu tulus dari posisi tempatnya berdiri.


Toni memaksakan ucapannya.


“Kami rasa kalian berdua butuh bicara, ayo Bu, sayang.” Bobi mengajak Nenek Toni dan Chellin keluar dari ruangan itu ketika melihat Iffah begitu canggung dan gugup.


Ghali mengelus pundak Iffah perlahan sebelum keluar mengikuti keluarga Toni.


“Iffah,” Toni seolah bersiap membuat penjelasan terhadap gadis yang masih berdiri di sisi kakinya itu. Saat itu mereka sudah ditinggal berdua dalam ruangan yang dipenuhi bau obat-obatan yang menyengat hidung.


“Ssssst,” Iffah meletakkan telunjuk kanannya di bibirnya yang tipis seakan mengisyaratkan kepada Toni agar tidak melanjutkan ucapannya. Iffah beringsut mendekat kearah Toni. “ kamu terlalu banyak bicara.”

__ADS_1


“Kamu tau? Aku hampir saja tidak bisa memaafkan diriku sendiri melihat keadaanmu seperti itu. Kamu membuatku takut, Antoni.” Iffah kembali terisak mengingat bagaimana tidak berdayanya Toni saat ditemuinya kala membuka pintu tadi pagi.


“Sekarang kamu lihat akku tidak kenapa-kenapa, kan?.” Toni berusaha menenangkan Iffah dari sesenggukannya.


“Berjanjilah, semarah apapun aku, jangan pernah sakit lagi.” Pinta Iffah terlihat memanyunkan bibirnya.


“Aku berjanji. Tapi berjanjilah juga, kamu tidak akan pernah lari lagi sebelum mendengar penjelasan dariku.” Pinta Toni dengan berharap penuh.


“Iya, aku minta maaf.” Sungut Iffah mencebikkan senyuman tipis di bibirnya. Dia mengusap kasar pipinya yang digelitiki oleh derai air matanya sendiri.


Lari bukanlah cara untuk berdamai dari sebuah masalah, tapi cara menciptakan masalah baru karenanya. Hadapilah masalah dengan kepala dingin dan kerendahan hati. Sesungguhnya manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan Allah karena dilengkapi dengan akal dan pikiran.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2