TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
LANGIT DAN BINTANG MENJADI SAKSI


__ADS_3

Sudah lewat waktu Ashar kala itu. Mobil yang membawa Bobi, Chellin dan Ghali beriringan masuk ke halaman rumah yang mereka tempati dengan mobil yang membawa Toni dan Iffah.


"Kalian baru pulang juga?" Seru Chellin ketika baru saja turun dari mobil.


"Iya Ma, Mama dan Papa juga baru pulang?" Balas Toni sembari mengeluarkan sedikit kepalanya di jendela kaca mobilnya.


"Iya Nak. Tadi Papa bertemu beberapa orang donatur yang juga berasal dari sana. Jadinya mereka reunian dulu, deh." Tutur Chellin. "Ya sudah, Mama masuk duluan ya sayang." Pamit Chellin seraya melambaikan tangannya kearah Iffah yang masih ditahan Toni di dalam mobilnya.


"Ghaliii" Seru Toni ketika mendapati adik iparnya itu keluar dari dalam mobil yang membawa Papa dan Mamanya tadi.


Ghali hanya menoleh sebentar kemudian dia mencibir acuh kearah Toni.


"Ishhh, dasar... Adik ipar super duper menyebalkan." Ketus Toni mendapat perlakuan dari Ghali.


Iffah terkekeh melihat kekesalan suaminya.


"Mungkin dia masih kesal sama kamu, Sayang. Tapi sepertinya dia tadi ikut Mama dan Papa deh." Duga Iffah.


"Tidak sepertinya lagi, Sayang. Dia baru saja keluar dari mobilnya Papa. Ya pastilah dia bertingkah seperti itu." Ujar Toni sembari memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.


Toni keluar dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Iffah, hal spele yang menjadi kebiasaannya untuk memanjakan istrinya itu.


"Tapi kalau dilihat-lihat, wajah Ghali kok berseri gitu ya sayang? Benar nggak sih? Atau, apa aku hanya sedikit berlebihan saja kali, ya?" Pikir Iffah mengingat adiknya yang terlihat riang ketika keluar dari mobil tadi.


"Maka dari itu aku panggilin tadi, Sayang. Aku ingin menggodanya. Mana tahu dia bertemu seseorang disana, kan? Secara, gadis-gadis keluaran panti asuhan TAUFIQ HIDAYAH itu memiliki masa depan yang cerah, Sayang. Mereka juga cantik-cantik malahan." Tutur Toni membenarkan dugaan Iffah.

__ADS_1


"Cantikan mana dari aku?" Tanya Iffah terdengar tidak menyukai pernyataan Toni mengenai gadis-gadis keluaran panti asuhan itu.


"Hehe.. Istri cantikku sepertinya tengah dilanda rasa cemburu, nih." Goda Toni menyeringai dan segera melangkah hendak masuk ke dalam rumah.


"Ih... Jawab aku dulu..." Sungut Iffah seraya menahan lengan Toni.


"Cantikkan istrinya, Antoni Zulherman." Ungkap Toni seraya mencubit pipi tembam Iffah. "Tapi semua perempuan di dunia ini hanya akan dikatakan cantik, Sayang. Mereka tidak akan dikatakan tampan, gagah ataupun ganteng, bukan?" Gurau Toni sesuai kenyataannya.


"Ishhh... Kamu ini..." Iffah mencubit pinggang Toni sembari mencebikkan bibirnya. Toni terkekeh, dia segera merangkul bahu Iffah dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.


*****


"Assalamu'alaikum..." Toni masuk ke dalam kamarnya sepulang Shalat Isya berjama'ah di masjid dekat rumahnya.


"Wa'alaikumussalam..." Sahut Iffah seraya menjemput suaminya itu ke depan pintu kamar mereka.


"Sayang... Apa di langit banyak bintang?" Tanya Iffah sembari tersenyum penuh harap.


"Iya. Kenapa memangnya, Sayang. Cuaca begitu cerah sekali tampaknya..." Jawab Toni dengan antusias.


"Kita ke balkon yuk, Sayang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan kepada kamu..." Ajak Iffah seraya menarik lengan Toni.


Meski agak bingung, namun Toni lebih memilih untuk mengikuti kemauan istrinya itu daripada harus bertanya.


"Waaaah... Langitnya jadi indah ya, Sayang." Wajah Iffah begitu berbinar ketika pandangan matanya mendapati keindahan ciptaan Sang Khaliq di langit malam itu.

__ADS_1


"Kamu menyukainya?" Tanya Toni ikut senang melihat kegembiraan yang terpancar di wajah istrinya.


"Dari semua ciptaan Allah, aku lebih menyukai kamu Sayang." Tutur Iffah sembari membalikkan tubuhnya kearah Toni. Toni tersenyum mendengar pengakuan Iffah.


"Kamu tahu?" Tanya Iffah menatap lekat mata suaminya. Kedua tangannya disembunyikannya di balik punggungnya saat itu.


"Hmm?" Toni seakan menunggu sebuah jawaban yang sesungguhnya dia tidak ketahui sama sekali.


"Aku pernah menyesali satu hal lagi." Iffah tampak murung seketika.


"Menyesali apa, Sayang" Tanya Toni semakin penasaran.


Iffah mengeluarkan kedua tangannya dari persembunyiannya. Dia menyodorkan sebuah kotak kecil ke hadapan Toni.


"Aku minta maaf sayang, andai aku tidak bodoh kala itu." Ungkapnya diliputi rasa penyesalan.


"Kenapa kamu harus menyesal, Sayang. Bahkan ini belum terlambat." Bujuk Toni menenangkan hati Iffah. "Kamu lihat ke langit sana. Jika dia bisa bicara, dia akan bersedia menjadi saksi untuk pengikatan janji pernikahan kita." Ujar Toni lagi seraya meraih kotak kecil yang disodorkan Iffah kepadanya.


"Mungkin, tamu undangan pernikahan kita tidak diperkenankan untuk melihatnya. Biarlah langit dan para bintangnya yang menyaksikan aku memasangkan cincin pernikahan kita ini ke jari manismu, Sayang." Pinta Toni seraya meraih jemari Iffah.


Toni dengan perlahan memasukkan jari manis Iffah ke dalam cincin yang pernah diberikannya terhadap Iffah dulu di hari dirinya melamar istrinya itu.


Sebutir cairan bening dengan mudahnya lolos dari mata Iffah.


"Terimakasih sudah mengistimewakan aku, Sayang." Ucap bibir manis Iffah dengan lembut.

__ADS_1


Toni mengecup jemari Iffah dan menarik tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.


"Terimakasih juga karena sudah menjadi yang istimewa dalam hidupku, Sayang." Balas Toni seraya menghujani kepala Iffah yang masih tertutup kerudung itu dengan kecupannya.


__ADS_2