
"Assalamu'alaikum..." Toni muncul dari balik pintu ruangan istrinya.
"Wa'alaikumussalam..." Sahut Iffah, Bobi dan Chellin hampir bersamaan.
Mata Iffah menyambut heran kedatangan suaminya itu. "Assalamu'alaikum..." Tiba-tiba, keluarga Toni dari desa datang dan ikut masuk mengekori Toni dengan bersemangat. Apalagi Kamelia. Dia begitu antusias menghampiri istri dari sepupu suaminya itu.
Perkenalan mereka tidak hanya sebatas istri-istri dari suami mereka yang bersaudara. Tetapi mereka juga sudah seperti sahabat yang saling mengenal sejak dari lama.
"Bi Chellin, Om Bobi..." Sapa Kamelia sembari menyalami mereka secara bergantian. "Aaah lucunya... Perempuan ya?" Kamelia meraih bayi Jingga dari gendongan Bobi.
"Iya, Ibu Kameel... Jingga namaku..." Bobi dengan akrabnya menyahuti Kamelia seolah mewakili cucunya itu.
Mata Kamel berkaca-kaca menatap wajah bayi mungil yang saat itu sudah berada dalam gendongannya. Dia melangkah kearah Kemil.
"Sayang... Milka kita lahir kembali." Ujar Kamel seraya melihatkan wajah bayi Jingga ke hadapan Kemil.
"Masya Allah... Kamu benar, sayang. Hmmm lucunya..." Kemil membenarkan ucapan istrinya itu.
Toni hanya tersenyum simpul mendengar obrolan sepupunya dengan sahabatnya. Dia duduk di samping Iffah, di atas brankar Rumah Sakit yang ditempati istrinya saat itu.
Iffah menggenggam jemari Toni. Dia mengerti apa yang saat itu ada dalam pikiran Antoninya.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Bisik Iffah ke telinga Toni.
"Iya, Sayang... Aku baik-baik saja..." Sahut Toni seraya melemparkan senyumannya.
"Jadi nama putrimu Jingga, Iffah?" Tanya Kamelia seraya mendekat kearah Iffah.
"Iya, Kamel..." Sahut Iffah seraya mengangguk antusias.
"Nama yang cantik, secantik dirinya." Puji Kamelia. "Lengkapnya?"
"Jingga Fadhilah Husna..." Sahut Iffah lagi.
"Wah... Benar-benar, nama yang bagus." Mata Kamelia tidak henti-hentinya menampakkan binar-binar kebahagiaan. Ikut bahagia dengan tulus, terhadap kebahagiaan yang dirasakan oleh Toni dan Iffah.
"Sayang... Kok kamu ada disini? Ghali bagaimana?" Iffah kembali mengingat keadaan adik tirinya itu.
"Ada seseorang yang menemaninya, Sayang." Sahut Toni begitu tenang.
"Seseorang?" Tanya Iffah keheranan.
"Calon adik iparmu sepertinya, Iffah. Kami tadi sempat bertemu dengannya. Karena sebelum kesini, kami sudah kesana terlebih dahulu. Ghali pun juga belum sadar." Kamelia yang menyahutinya.
__ADS_1
"Apa seseorang yang akan dibawanya ke rumah?" Tanya Iffah membatin. Dia masih bingung.
Telpon Bobi berdering. Seseorang meneleponnya. Dan dengan semangat, dia menerima telpon itu.
"Ada apa, Pa?" Tanya Toni. Dia begitu penasaran dengan percakapan papanya bersama seseorang, sehingga wajah papanya itu berubah menjadi tegang dan tak terbaca.
"Ghali sudah sadar, Ton." Sahut Bobi begitu girang.
"Alhamdulillah..." Ucap mereka bersamaan. Iffah tampak begitu senang mendengar kabar yang disampaikan oleh papa suaminya itu.
"Sekarang, kamu temanilah Iffah terlebih dahulu, Ton. Biar Jingga bersama kami. Nanti kita akan bergantian..." Perintah Bobi menyarankan.
"Baik, Pa." Sahut Toni segera mengambil kursi roda untuk Iffah.
*****
Iffah, Toni dan Ghali hanya diam dalam pertemuan mereka di ruangan tempat Ghali dirawat saat itu.Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan memulai percakapan diantara mereka.
"Tadinya, Ghali akan menghabisi siapa pun yang akan berusaha membahayakan dan mencelakai nyawa kakak, kakak ipar, serta calon keponakan Ghali. Tapi, kakak tau sendiri, Bukan? Ghali bahkan tidak bisa jika melihat perempuan jahat itu terluka." Ghali mencoba mencairkan suasana canggung yang terjadi.
Iffah memukul lengan Ghali sekuat tenaga yang dimilikinya. "Dasar bodoh..." Umpat Iffah. "Kamu tidak tahu bagaimana kakakmu ini hampir mati menyaksikan keadaan kamu saat itu, huh?" Maki Iffah lagi sambil terus memukuli lengan Ghali sekuat tenaga yang dimilikinya. Namun berapalah dengan kuatnya tenaga wanita yang masih saja menggunakan selang infus di tangannya.
"Maafin Ghali, Kakak." Ghali menahan pergelangan tangan Iffah, agar berhenti memukulinya. Bukan lengannya yang akan merasakan kesakitan, namun tubuh kakaknya itulah yang akan menjadi lemah nantinya.
Dengan perlahan, dia membenamkan kepala Iffah ke dalam dadanya. Disana, Iffah mulai tersedu-sedu dalam melepaskan segala rasa cemasnya yang terpendam sedari tadi untuk adik tirinya itu.
"Adik ipar..." Panggil Toni.
"Iya kakak ipar?" Sahut Ghali seraya menoleh kearah Toni yang berdiri di sampingnya.
"Jangan pernah mengulanginya kembali." Ujar Toni seakan memberi peringatan terhadap adik iparnya itu.
"Kakak tenang saja. Tidak akan ada lagi yang akan melakukannya, kakak. Bukankah ibuku sudah ditangkap Polisi?" Ujar Ghali getir.
Iffah mengangkat kepalanya keluar dari dada bidang milik adik tirinya itu. Dan menatap wajah pucat Ghali dengan tatapan yang tidak suka.
"M-maksud Ghali... Entah jika perempuan sakit yang kakak ceritakan itu." Ujar Ghali mencari-cari alasan. Dia tahu, baru saja dia berbicara seolah menyesali tentang penangkapan ibunya.
"Perempuan sakit? Misya maksudmu?" Toni membelalakkan matanya ketika menyadari adik iparnya itu membahas tentang Misya.
"Sepertinya begitu..." Sahut Ghali acuh.
"Hey... Saya pikir, perempuan yang ingin kamu kenalkan kepada kami adalah si Misya itu?" Ledek Toni. Satu cubitan bersarang di pinggang Toni dari istrinya, sehingga Toni sedikit meringis karenanya.
__ADS_1
"Yaa Allah... Bukan dia kakak ipar... Kakak ipar lihat sendiri kan tadi? Perempuan yang menjadi harapanku begitu sangat terdidik dan berpendidikan. Dia begitu manis dan baik kakak ipar." Elak Ghali seakan tidak terima dengan dugaan kakak iparnya itu.
"Ya mana tahu... Salah kamu sendiri pakai rahasia-rahasiaan segala." Ujar Toni tanpa dosa.
"Haiihhh... Menyebalkan... Saya masih sakit loh, kakak ipar." Rutuk Ghali kesal.
"Iya... Saya tahu kamu masih sakit. Maka dari itu, segeralah sembuh. Tidakkah kamu ingin membawanya ke rumah dan segera menghalalkannya? Nanti dia bisa berubah pikiran dan mencari lelaki lain." Ujar Toni memanas-manasi adik iparnya.
"Aaah... Kakak... Lihatlah suamimu ini..." Adu Ghali merasa merinding mendengar penuturan Toni.
Iffah membelalakkan matanya kearah suaminya yang merasa menang telah menggoda Ghali habis-habisan.
"Lagian, apa yang dikatakan kakak iparmu ada benarnya juga, Ghali." Sahut Iffah membenarkan ucapan Toni, sehingga Toni semakin dibuat keras kepala untuk terus saja menggoda adik iparnya itu.
"Cepatlah sembuh... Tidakkah kamu ingin bertemu Jingganya kami?" Tanya Toni kemudian.
"Jingga keponakanku, kakak ipar?" Ghali begitu antusias.
"Hmm" Toni menyahuti dengan acuh.
"Aaaah... Pasti kakak ipar. Saya sangat tidak sabar untuk itu." Ujar Ghali terlihat bersemangat.
Dia begitu bahagia menjadi bagian dari keluarga suami kakaknya. Yang menjadikan dirinya si bungsu jika di rumah. Membelanya dan menyayangi dirinya dengan begitu tulus dan penuh kasih.
Bayangan Ibunya dibawa oleh Polisi kembali terlintas di benaknya. Namun dia benar-benar lega untuk itu. Dia yakin, ucapan lelaki yang dipanggilinya Papa merupakan sebuah kebenaran. Bahwa, tidak semua orang yang jahat itu benar-benar jahat hingga akhir. Dan dia berharap, ibunya adalah salah satu dari orang jahat yang tidak akan jahat untuk selamanya.
.
.
.
.
.
.
Ok teman2... Kisah Ghali memang tidak di tulis detail ya..
Radetsa mau kasih kejutan saja di kisah Ghali yang akan Radetsa tulis nanti, di lain waktu.
Terimakasih sudah mengikuti Radetsa hingga ke TML ini.
__ADS_1
Jangan lupa like rate koment dan vote ya. kalau perlu, share... hehehe
Salam satu layar🤗