
“Assalamu’alaikum…” Toni membuka pintu kamarnya dengan perlahan.
Saat itu, dia menemui Iffah tengah berselonjor di atas tempat tidur sembari memainkan ponselnya dengan mukenah yang masih berselubung di tubuhnya.
“Wa’alaikumussalam… Kamu sudah kembali?” Iffah segera bangkit dan menciumi punggung tangan suaminya yang baru saja selesai menunaikan shalat isya berjama’ah, di masjid dekat rumah mereka bersama Ghali dan Bobi.
“Yaa ampun, apa di luar hujan? Kok kamu basah begini?” Iffah mengusap lembut dahi Toni yang sedikit basah disana.
“Cuma gerimis…” Toni tersenyum memandangi wajah Iffah yang begitu dekat dengannya saat itu.
“Gerimis kok sekuyup ini? Wudhu’ gih, nanti kamu sakit kepala. Biar aku siapkan piyama untukmu.” Perintah Iffah seraya mendorong punggung Toni dengan pelan.
“Ok cantikku…” Toni menurut dengan patuh. Iffah tampak tersenyum ketika mendengar panggilan Toni untuknya, meski bukan untuk yang pertama kalinya Toni memanggil dirinya seperti itu.
Tidak beberapa lama, Toni kembali dari ruang ganti dengan stelan piyama yang telah disiapkan Iffah untuknya tadi.
“Apa kamu ingin aku ambilkan sesuatu?” Tanya Iffah sembari mendekat kearah Toni yang hendak duduk di sofa kamar itu.
“Tidak usah, perutku masih begah.” Tolaknya seraya menarik lengan Iffah, hingga istrinya itu terjerembab ke dalam pangkuannya.
“Ih, kamu ngapain sih?” Iffah sedikit memberontak, namun Toni dengan kuat menahan tubuh Iffah. Toni mengalungkan lengannya di perut Iffah, dan menyandarkan kepalanya di punggung istrinya itu.
“Kamu tau?” Bisik Toni lirih.
“Hmm?” Iffah membalikkan tubuhnya sehingga dengan leluasa dia memeluk kepala Toni.
“Di luaran sana ada kilat saling menyambar bersama guruh. Tetapi hujannya Cuma sedikit.” Tuturnya lembut.
“Lalu?” Iffah tidak mengerti sama sekali maksud dari ucapan suaminya itu.
Hatiku terus merindukanmu meski kamu ada disisiku saat ini. Rasa rindu yang begitu curang, terus bertambah dan tidak pernah tau kapan akan berhenti menyakiti hatiku.
__ADS_1
Dan kilat, membuatku takut. Dia menyahuti gemuruh dan menjatuhkan hujan.
Dalam benakku, dia hanya berisik mengalahkan debaran yang ada di dalam dadaku.
Entah sejak kapan aku mulai membenci hujan, aku seakan takut dia mengambilmu dariku.
“Antoni…” Iffah membuyarkan lamunan Toni.
“Eh, Hmm.” Toni tersentak mendengar suara istri terkasihnya itu.
“Lalu kenapa jika hujan?” Tanya Iffah semakin penasaran dan menatap tajam mata Toni.
“Aku ingin terus memelukmu, mendekapmu dan bersamamu.” Pintanya lirih.
“Hmm pria ini.” Ketus Iffah mempererat dekapannya.
“Kamu cantik, sangat cantik memakai hijab seperti ini.” Toni kembali melepaskan dekapannya dari Iffah. Dia menggamit pipi Iffah yang sedikit berisi dengan kedua telapak tangannya. “Tapi… Bolehkah aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya darimu?” Pinta Toni dengan jantung yang berdebar kencang saat itu.
Iffah menatap lekat mata Toni yang begitu tulus dalam mencintainya, dia membiarkan Toninya membuka satu persatu pentul yang menyemat jilbabnya. Dengan pelan, dia menarik kerudung Iffah dan menaruhnya di atas meja
depan sofa yang mereka duduki.
Toni menjatuhkan rambut Iffah yang bergelung di kepalanya.
“Masyaa allah…” Desir Toni mendapati kecantikan yang dimilliki istrinya Itu. Matanya tidak berhenti menatap wajah cantikdari perempuan miliknya itu.
Buliran bening jatuh dari kelopak mata Iffah yang bulat. Dia begitu terharu dengan cara Toni yang tidak memaksanya. Toni mengangkat tubuh Iffah dan membawanya ke tempat tidur.
Toni menciumi kening Iffah dengan lembut, dan mengusap air mata Iffah yang mengalir begitu saja.
Dada mereka berdesir bagai gemuruh ombak, begitu kuat dan membuat mereka pasrah akan kewajiban mereka.
__ADS_1
Mereka saling mencintai satu sama lain. Saling menerima segala kekukarangan yang ada pada pasangan mereka masing-masing. Puing-puing pertahanan Iffah runtuh, nikmat dunia mereka rasakan malam itu.
Mereka saling berbagi kasih, bertukar cinta dan saling mengerti untuk hal yang mereka berdualah yang mengertikannya.
*****
“Apa sakit?” Tanya Toni, yang masih merengkuh tubuh Iffah dalam dekapannya dan tertutupi selimut tebal di atas tempat tidur mereka.
“Sedikit…” Bisik Iffah dengan pipi yang memerah.
“Apa kamu malu?” Tanya Toni lagi sambil tersenyum. Meski dirinya juga malu, tapi dia menutupinya dengan cara bertanya kepada istrinya itu.
“Sedikit…” Iffah kembali berbisik, dan kemudian menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat ke dalam dada bidang Toni.
Toni menyeringai melihat tingkah lucu Iffah, dan mengacak rambut Iffah yang masih tergerai panjang di lengannya. Berkali-kali dia mengecup kepala wanita halalnya itu.
Tanpa Iffah sadari, buliran bening mengalir dari ruas-ruas tepi mata Toni. Ingatannya kembali ketika dia mengambil paksa keperawanan Kamelia, yang merupakan sahabatnya sendiri. Dan saai ini telah menjadi istri sepupunya.
Toni bahkan sampai memiliki anak karena hal itu. Dan dialah Milka Khumairahnya.
Toni semakin menguatkan pelukannya untuk Iffah agar hatinya bisa lebih tenang dan segera melupakan masa lalunya yang keji.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.