TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

Ternyata Pak Antoni benar-benar ingin membuktikan keseriusannya


terhadap kak Iffah~  Ghali tersenyum


tipis memandangi ponselnya.


Sebuah pesan dari


Toni yang mengatakan bahwa dia akan mengajak kakaknya  itu ke rumah Toni untuk menemui keluarganya.


*****


“Ayo naik.” Perintah Toni kepada Iffah yang menunggunya di depan gedung kantor. Dia juga membukakan pintu untuk Iffah.


“Terimakasih Pak.” Ucap Iffah begitu canggung atas perlakuan Toni terhadapnya.


“Mau mendengarkan musik?.” Toni menoleh sedikit ke arah Iffah dan kemudian kembali fokus memandang ke jalanan.


“Boleh Pak.” Saut Iffah sedikit tersenyum menanggapi pertanyaan Toni yang dianggapnya begitu manis.


“Bisakah kembali ke peraturan awal?.” Toni melunak. Sikapnya memang begitu manis untuk Iffah, dan itu semua dengan sengaja ia lakukan untuk mengambil hati gadis itu.


“M-Maksud Bapak?.” Iffah terlihat bingung akan pertanyaan dari Toni.


“Kitakan saat ini sedang di luar kantor.” Toni terlihat tidak enak jika disangka seolah tengah memaksa Iffah.


“Oh itu, mm maaf… Antoni. Saya lupa.” Iffah terlihat gugup. Dia tidak percaya Toni akan mengingatnya.


Tapi kenapa Pak Antoni begitu manis ya? Dia tidak sedingin kala itu.~ Iffah mengingat kembali bagaimana atasannya itu bersikap dingin kepadanya,  malam ketika Toni mengantarkannya pulang.


“Iffah…” Toni membuyarkan lamunan gadis di sampingnya itu.

__ADS_1


“Iya, ada apa?.” Iffah menolehkan wajahnya ke arah Toni yang masih asik dengan kemudinya.


“Kamu menyukai Dhuha juga ya?.” Tanya Toni ringan.


“Dhuha bukan untuk saya sukai saja, tetepi juga untuk saya raih. Dhuha, kesempatan yang ada ketika semua diuji dengan kelengahan.


Di kutip dari buku The Inner Power of Muslimah, ada lima keutamaan bagi siapa saja yang mengerjakannya.


Meraih surga, terhalang dari melakukan dosa, mencukupi sepanjang hari, diampuni dosa dan mendatangkan rezeki.


Saya berharap memiliki kesempatan di waktu itu sepanjang hidup saya.” Mata Iffah berkaca-kaca menjelaskan bagaimana dia jadi pengagum pada waktu itu.


Andai saya mengenalmu lebih awal, dan andai saya tidak lengah kala itu. Mungkin saya akan cepat memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaanku saat ini kepaadamu, Iffah.


Saya menjadi pengecut jika mengingat salah saya di masa lampau.


Toni menghirup udara dalam-dalam seraya tersenyum pias.


“Saya juga sering melihat kamu mengerjakannya. Kamu bahkan sedikit dari banyak pemuda di Zaman ini.” Puji Iffah dengan sungguh dan dibalas senyuman tipis di bibir Toni.


Di teras rumah itu telah menunggu Nenek dan Bibinya, mereka diberitahukan Toni ketika siang tadinya.


“Mereka bahkan sampai menunggumu.” Toni tersenyum melihat kedua wanita itu melambaikan tangan ke arah mobilnya yang baru memasuki  pekarangan yang begitu luas.


“Apa kamu memberitahukan kedatanganku kepada mereka?.” Iffah tampak senang sekali ketika melihat Nenek dan Bibinya Toni sudah menantikan kedatangan mereka.


“Iya, aku mengirimkan pesan kepada Bi Chellin tadi siang. Bahkan Bi Chellinlah yang memintaku berjanji untuk membawamu kesini.” Tutur Toni seraya memarkirkan mobilnya di depan rumah itu.


Iffah hendak melepaskan seatbelt yang menyilang di dadanya. “Ya ampun,” Wajah Iffah terlihat menegang, dan hal itu sontak membuat Toni ikut terkejut pula karenanya.


“Ada apa?.” Toni benar-benar terlihat khawatir.

__ADS_1


“Saya bahkan sampai lupa membawakan sesuatu.” Iffah menggigit bibir bawahnya karena merasa tidak enak melupakan hal sepele itu.


“Yaa Allah, Saya kira ada apa.” Toni bernafas lega.


“Saya tidak enak datang dengan tangan kosong.” Ujarnya dengan wajah malu.


Toni tersenyum melihat wajah Iffah yang begitu lucu menurutnya saat itu.


“Yang mereka inginkan itu kedatanganmu, bukan apa-apa.” Toni berusaha membujuk Iffah. “Tunggulah sebentar, saya akan membukakan pintnya untukmu.”


“T-Tapi saya bisa,,,” Toni langsung keluar dan mengitari mobilnnya dari depan hendak membukakan pintu tanpa mendengarkan protes Iffah.


“Assalamu’alaikum…” Seru mereka bersamaan. Mereka menyalami dan mencium punggung dua wanita itu secara bergantian.


“Wa’alaikumussalam…” Chellin dan Nenek menyauti dengan begitu semangat.


“Yaa Ampun, kamu makin cantik saja sayang.” Puji Neneknya Toni kepada Iffah sambil menggamit pipi Iffah yang sedikit tembam dengan telapak tangannya.


“Ah Nenek, sama kok seperti waktu pertama Iffah kesisni.” Ujarnya malu-malu.


“Tapia pa yang dikatakan Nenek benar kok sayang.” Timpal Chellin membenarkan.


“Hmm, sudah dapat kehendak hati terus Toni di cueki. Biarlah, Toni akan cari Om Bobi saja.” Toni berlagak cemberut dan segera masuk ke dalam rumah.


Tiga wanita yang dicintai Toni itupun tertawa melihat tingkah Toni yang terlihat seperti anak kecil.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2