TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
HIPOTERMIA


__ADS_3

Iffah tersandar di dinding IGD Rumah Sakit tempat Toni di tangani para medis. Setelah menghubungi Bi Chellin, Iffah masih terpaku menatap layar ponselnya yang berisikan banyak pesan tertulis dan beberapa pesan suara dari Toni.


Ya, semenjak dia merasa kecewa pada hari itu, Iffah mematikan ponselnya. Dan baru pagi tadinya dia mengaktifkan ponselnya kembali.


Berkali-kali Iffah menyeka air matanya yang berjatuhan membanjiri pipinya.


“Kakak, semua akan baik-baik saja. Pak Antoni pasti tidak akan kenapa-kenapa. Kakak tenang ya.” Ghali merangkul bahu Iffah agar suasana hatinya ikut membaik. Tidak hanya Iffah yang menyesalinya, Ghali juga tidak


menyangka pemuda itu akan nekat menunggu Iffah sampai harus kehujanan seperti itu.


Iffah menyodorkan ponselnya kepada Ghali agar adiknya itu membaca dan mendengarkan pesan dari Toni.


Di Terminal desa kala itu…


Iffah, kamu dimana?”


Iffah, jangan membuatku cemas…


Iffah, kumohon… Dengarkan penjelasan **dari**ku dulu.”


Di depan rumah Iffah…


Iffah, benar Milka adalah putri kandungku. Aku mohon, dengarkan dulu penjelasan dariku Iffah.”

__ADS_1


Iffah, semua tidak seperti yang kamu pikir. Aku tidak tau harus menjelaskannya darimana. Tolong buka pintunya, Iffah…"


Iffah, aku tidak akan memaksa kamu untuk menerimaku yang buruk di masa lalu. Tapi aku berharap kamu mendengarkan penjelasan ku terlebih dahulu… Aku tidak pernah menganggap kamu hanya sebatas permainan… Aku sungguh mencintai kamu… Kamu sama berartinya dengan Milka dalam hidupku. Percayalah…**"


Ghali terdiam setelah membaca semua pesan dari Toni. Tak sengaja, dia menitikkan air matanya.


Kakak begitu istimewa, dulu Arjuna juga begitu hingga hati kakak luluh karenanya. Dan sekarang Pak Antoni. Ghali berharap kak Iffah akan selalu bahagia.


“Iffah…” Chellin, Bobi dan Nenek Toni datang menghampiri mereka.


“Nenek…” Iffah menjatuhkan tubuhnya di depan perempuan tua yang memakai kursi roda itu dan berlutut seraya meraih tangannya. “Nenek… Hiks… Hiks… Hiks… Maafin Iffah Nek, maafin Iffah. Semua salah Iffah Nek.” Isaknya di kaki Nenek.


“Iffah, bangunlah sayang. Ceritakan semuanya sama Nenek. Toni kenapa? Apa yang terjadi?” Nenek meraih bahu Ifah agar berdiri.


“Bagaimana dok?.” Ghali dengan cepat menghampiri sang dokter.


“Beruntung pasien segera di bawa ke Rumah Sakit, pasien menderita Hipotermia, dimana suhu pasien menjadi abnormal atau turun drastis ke level yang jauh dari normal. Suhu badan pasien hanya dua puluh delapan derajat celcius. Hipotermia yang dideritanya sudah mencapai fase sedang.


Jika terlambat sedikit saja, organ-organ di dalam tubuh pasien akan mengalami kerusakan dan bukan tidak mungkin akan menyebabkan pasien tidak dapat terselamatkan lagi.” Mereka semua ternganga mendengar penuturan dokter, Iffah bahkan terduduk di kursi tunggu di belakang tempatnya berdiri. Air matanya kembali berjatuhan dengan deras tanpa bersuara.


Dia terlihat syok dan semakin merasa bersalah setelah mendengar penuturan dari Dokter. Nafasnya tersengal-sengal menahan isak tangisnya.


“Lalu sekarang keadaan cucu saya bagaimana, Dok?” Bayangan Bram ketika kritis dulu kembali menari di benak Nenek. Rasa takut kehilangan Toni merasuk ke dalam hati dan pikirannya. Dia seperti tidak ingin lagi kehilangan orang-orang terkasihnya.

__ADS_1


“Alhamdulillah, pasien telah mendapatkan tindakan ‘cuci’ rongga perut (peritoneal lavage). Dan beberapa tindakan lainnya. Memang saat ini pasien belum sadarkan diri, tapi keadaan cucu ibu sudah mulai membaik. Saat ini cucu ibu menggunakan oksigen yang sudah dilembabkan melalui masker untuk meningkatkan suhu tubuhnya. Kami harap keluarga tetap bersabar dan berdo’a kepada-Nya.” Tutur sang dokter menghilangkan rasa khawatir mereka


“Apa kami sudah boleh menemui putra kami, Dok?.” Bobi bertanya dengan setengah berharap.


“Silakan Pak.” Tutur sang Dokter mengizinkan.


“Terimakasih dokter.” Bobi bernafas lega dan kemudian mendekap Chellin dengan begitu kuat.


“Iffah, sudahlah nak. Kamu kan dengar sendiri dokter mengatakan bahwa Toni tidak apa-apa.” Ujar Chellin meyakinkan Iffah, meski hatinya juga cemas saat itu.


“Maafin Iffah, Bi.” Ucap Iffah lagi tetap merasa bersalah karena keegoisannya.


“Iya, kami semua mengerti perasaan kamu, Nak. Toni sudah menceritakan semuanya kepada kami. Saat ini yang dibutuhkan Toni adalah kamu. Dan nanti pengertian dari kamu untuk mendengarkan penjelasannya setelah dia sadar.” Nenek mengelus lembut pipi Iffah dan menarik tangan Iffah, mengajaknya ke dalam untuk menemui Toni yang masih terbaring lemah disana.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2