TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
AKHIR PEKAN


__ADS_3

Akhir pekan adalah hari yang paling ditunggu-tunggu pegawai kantoran, apalagi bagi mereka yang telah berkeluarga.  Namun berbeda dengan Ghali, dia mungkin akan memilih terus-terusan bekerja dari pada harus mendengar ledekan secara bertubi-tubi dari kakak iparnya. Lantaran dia belum juga kunjung memperkenalkan sosok wanita sebagai calon pendamping di usianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahunan itu.


“Kakak ipar…” Seru Ghali ketika melihat Toni dan Iffah hendak keluar rumah.


Toni dan Iffah menoleh kembali ke belakang dan melihat Ghali sudah berlari menghampiri mereka.


“Kakak mau kemana?” Tanya Ghali sedikit terengah-engah.


“Jalan-jalan…” Sahut Toni singkat.


“Ikut dong kakak Ipar…” Pinta Ghali memelas.


“Oh tidak bisa… Saya merasa kasihan denganmu, kamu akan menjadi obat nyamuk saja nantinya.” Tolak Toni mentah-mentah.


“Yah, kakak ipar… Nggak apalah. Nanti kalau kakak ipar sibuk jagain kak Iffah, siapa yang akan menjaga kakak ipar?” Rengek Ghali. Dia benar-benar merasa bosan hari itu.


“Ishh anak ini, kamu pikir saya tidak bisa jaga diri saya sendiri meskipun saya harus menjaga istri saya?” Ketus Toni tampak kesal.


“Ayolah kakak ipar… Saya sangat bosan di rumah.” Ghali tampak memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


“Pokoknya tidak boleh… cari pacar sana, kemudian segera halalkan…” Tolak Toni tetap pada pendiriannya dan segera menggandeng tangan istrinya menuju ke dalam mobil.

__ADS_1


“Ishh dasar… Punya kakak ipar pelit sekali.” Rutuk Ghali seraya masuk kembali ke dalam rumah.


Ketika Toni dan Iffah sudah berada di dalam mobil, Toni memandang sungkan kearah Iffah.


“Maaf ya, Sayang. Aku hanya membuat Ghali membenarkan ucapanku. Sampai kapan dia akan mengkhawatirkan kita. Dia sudah mapan dan juga sudah patut untuk beristri.” Tutur Toni dengan lembut. Dia berharap istrinya itu tidak salah paham menilai dirinya.


“Tidak apa-apa kok, sayang. Aku paham dengan maksud dan tujuan kamu. Bahkan aku sangat mendukung sekali.” Ujar Iffah seraya meraih tangan suaminya itu. “Terimakasih ya, sayang. Kamu tidak pernah memperlakukan Ghali seperti orang lain. Dan aku sangat senang untuk itu.” Tambah Iffah lagi.


“Dia memang bukan orang lain lagi bagiku, Sayang. Aku senang memiliki banyak saudara lelaki. Kak Adan, Kemil dan juga Ghali. Mereka begitu menyayangiku, memaafkan kesalahanku, dan memberi aku banyak kesempatan setelah kesalahan fatal yang aku perbuat.” Ungkap Ghali begitu jujur dari dalam hatinya yang terpancar dari cahaya matanya.


******


Ghali terlihat bersungut dan hendak kembali ke dalam kamarnya.


“Eh Papa…” Sahutnya seraya menghentikan langkahnya.


“Kenapa dengan wajahmu, Nak? Kok ditekuk begitu?” Tanya Bobi seraya mendekati adik dari menantunya itu.


“Tidak kenapa-kenapa kok, Pa. Ghali kesal saja sama kak Toni.” Ungkapnya jujur.


Bobi dan Chellin terkekeh mendengar pengakuan Ghali. “Memangnya kakak Iparmu itu ngapain lagi, Nak?” Tanya Chellin berusaha menghentikan gelak tawanya.

__ADS_1


“Ghali mau ikut saja tidak dibolehin.” Adunya.


“Kalau begitu, kamu ikut dengan Papa dan Mama saja. Kamu mau?” Tawar Bobi masih sedikit tertawa.


“Memangnya Papa dan Mama mau kemana?” Tanya Ghali sedikit riang. Kemanapun saat itu, yang penting dia tidak sendiri di hari weekend seperti itu.


“Papa mau ke panti asuhan. Seperti biasa, kami akan kesana setiap minggunya untuk berkunjung ke tempat yang sudah membesarkan Papa.” Ujar Bobi menampakkan senyuman di bibirnya.


Ghali terperangah mendengar penuturan Bobi. Sesuatu yang belum pernah dia dengar sebelumnya.


“Bagaimana? Kamu mau?” Ulang Bobi.


“Mau Pa, Ghali senang sekali Papa dan Mama mau mengajak Ghali kesana.” Sahut Ghali tampak begitu bersemangat sekali. Dia tersenyum senang karenanya. “Papa dan Mama tunggu sebentar ya. Ghali siap-siap dulu.” Pintanya bergegas dan segera berlari menuju kearah kamarnya tanpa menunggu sahutan Bobi maupun Chellin. Yang jelas, dia tampak antusias sekali saat itu.


Bobi dan Chellin tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Ghali. “Ayo, Ma. Kita tunggu di dalam mobil saja.” Ajak Bobi seraya menggandeng tangan istrinya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2