
Aku tidak hanya terjatuh, tapi aku sudah terpuruk saat ini. Mungkin aku harusnya menyerah dari awal, agar aku tidak merasakan sakit, sesakit ini. Tapi hatiku yang salah, terus memaksakan kehendaknya menerima kata cinta yang hanya keluar dari omong kosongmu semata.
Pagi mengantarkan aku menemui kenyataan, bahwa kamu hanyalah debaran sementara yang akan membuatku kembali sulit menerima kata cinta.
Tapi Antoni Zulherman, kenapa ungkapan perasaanmu itu berasa nyata terdengar di telingaku?.
Aku ingin menutup telingaku, menutup mataku dan menerimamu, meski aku tahu kamu penjahat cinta. Tapi aku bagai tak memiliki harga diri setelah itu. Biarlah rindu ini sementara menyakiti perasaanku, daripada aku harus berpura-pura bahwa aku baik-baik saja.
Iffah terbangun ketika gema Adzan shubuh berkumandangan, suara rintik gerimis masih sayup terdengar menimpa atap pelindung mereka di dalam rumah itu.
“Hujan dek, jadi imam kakak saja ya di rumah.” Pinta Iffah kepada Ghali seraya membentangkan dua sajadah di ruang tengah rumahnya.
“Baik kak.” Sahut Ghali seraya mengambil posisi di depan Iffah.
Mereka berdua Shalat dengan begitu khusuk menghadap kepada Sang Khaliq, Pencipta Dunia Dan Seisinya. Lantunan demi lantunan ayat yang dibacakan Ghali menyayat naluri yang mendengarnya. Suara Ghali begitu merdu menghafidzkan ayat-ayat suci di dalam shalatnya.
Seusai shalat, kebiasaan Iffah untuk menghirup udara pagi yang bersih sebelum polusi kota menyerbak hingga ke wilayah tempat tinggalnya. Dia membuka pintu rumahnya itu dengan perlahan seraya mendesirkan kalimat basmallah.
“Ghaliiii.” Iffah terpekik ketika menatap pemandangan yang membuat dirinya terkejut.
Kedua tangan Iffah menutup mulutnya yang sempat ternganga, matanya membulat seketika.
“Ada apa kakak?” Ghali berlarian dari dalam rumah karena khawatir sesuatu terjadi kepada kakaknya itu. “Pak Antoni…” Mata Ghali ikut membulat ketika dia mendapati Toni tergeletak tidak sadarkan diri disana.
__ADS_1
Kanopi minimalis teras rumah itu tidak mampu melindungi Toni dari guyuran hujan yang membasahi dirinya.
“Yaa Allah, kakak. Sepertinya Pak Antoni tidak pulang dari semalam.” Ujar Ghali seraya mendekati Toni yang terbaring pucat dan basah kuyup. Tangannya yang kekar menyilangi dadanya. Toni terlihat dengan posisi bergelung menahan kedinginan.
Ghali mengangkat tubuh Toni dan berusaha memapahnya ke dalam. “Kak, tolongin selimut. Ambilkan baju Ghali yang tebal dan buatkan teh hangat.” Pinta Ghali dengan tubuh yang gemetaran karena khawatir melihat kondisi Toni.
Sama halnya dengan Iffah, dia tampak hilang akal dan bingung harus mengerjakan perintah Ghali yang hanya samar terdengar oleh telinganya. Air matanya bercucuran dengan deras.
“Kak… Selimut,” Ulang Ghali kembali.
Iffah berlarian ke kamarnya, dan mengambil selimut miliknya yang lumayan tebal dan menghangatkan.
“Kak, tolong ambilkan bajuku yang tebal beserta celananya.” Pinta Ghali lagi berusaha tenang. Dia tahu, kondisi saat itu hanya dirinyalah yang bisa diharapkan.
Dan saat itu, Iffah mengemukakan perasaan cemasnya kepada sosok lelaki yang terbaring lemah di hadapannya.
Sementara Iffah mencarikan baju di kamar Ghali, Ghali melucuti semua pakaian Toni yang basah dari balik selimut tebal millik Iffah.
“Kak, Tolong buatkan teh.” Pinta Ghali lagi.
Setelah Ghali mengenakan bajunya ke badan Toni, ghali berusaha memberikan CPR. Berkali-kali mengusap-usap telapak tangan Toni secara bergantian. Namun semua usahanya tidak menampakkan hasil, Toni masih tetap dalam diamnya.
“Kak Iffah, ini semua sama sekali tidak bekerja kak. Ghali takut sesuatu yang buruk terjadi kepada pak Antoni.” Ujar Ghali semakin cemas.
__ADS_1
“Lalu kita harus apa dek?” Tanya Iffah jauh lebih panik saat itu.
“Kita harus bawa Pak Antoni ke Rumah Sakit dengan segera, Kak. Kakak jangan cemas ya, kakak ambil ponsel kakak untuk menghubungi keluarga beliau.” Perintah Ghali berusaha setenang mungkin.
Iffah segera berlari mengambil ponselnya yang berada di kamar, dan kemudian ikut membantu Ghali memapah lelaki yang dicintainya itu menuju ke mobil milik Toni yang terparkir dari semalam di depan rumahnya itu.
Air mata Iffah tak henti-hentinya mengalir dengan deras dari ruas matanya yang kembali mulai menyembab.
“Maafkan aku, Antoni. Maaf, maafkan aku. Aku salah, aku salah. Aku janji, aku akan dengarkan apapun yang harusnya aku dengar dari kamu. Aku janji, asal kamu bangun.” Pinta Iffah berkali-kali di kursi mobil bagian belakang. Iffah memangku kepala Toni yang terkulai lemah dan tidak berdaya saat itu. Dia tidak henti-hentinya menangis dan menyesali kesalahannya.
Ghali terus saja melirik ke belakang untuk memastikan perkembangan kondisi Toni. Dia ikut menyesali keras kepalanya semalam sehingga membuat Toni seperti itu.
Seperti halnya Toni mendengarkan ceritanya mengenai masa lalu Iffah, seharusnya dia juga melakukan hal yang sama. Mendengarkan cerita masa lalu Toni yang dirasanya juga terlalu rumit. Tapi dia malah egois karena memikirkan perasaan kakaknya yang terluka, dan tidak berfikir bahwa Toni juga memiliki perasaan.
.
.
.
.
.
__ADS_1