
Toni melangkah gontai, sesuatu telah terjadi di dalam hatinya.
“Toni…” Seru Bobi ketika dia melewati mama dan papanya di ruang utama rumah itu.
“Eh Ma, Pa… Mama sama Papa masih disini?” Tanya Toni sedikit tertegun ketika dia tidak menyadari keberadaan orang tuanya.
“Bagaimana, sayang? Apa semua baik-baik saja?” Tanya Chellin sedikit cemas.
“Semua baik kok, Ma, Pa.” Sahutnya lesu, namun masih berusaha tampak tersenyum di depan orang tuanya itu.
“Lalu, sekarang kamu mau kemana, Ton?.” Tanya Bobi, dia seakan merasa kalau putranya itu tengah menyembunyikan sesuatu dari mereka.
“Toni ada keperluan di luar sebentar, Pa.” Ujarnya semakin berusaha menampakkan kenyamanan dengan situasinya yang sangat buruk saat itu.
“Lalu, Iffah?” Chellin menatap bingung ke wajah Toni.
“Dia ada di kamar, Ma. Dia pasti kelelahan saat ini. Toni berangkat ya, Ma, Pa.” Pamitnya, takut akan ditanya-tanya lebih jauh lagi. Ditambah perasaannya yang benar-benar terluka saat itu, membuatnya tidak tahan
berlama-lama di hadapan orang tuanya yang terlihat jelas sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Ya sudah, tapi kamu hati-hati ya, Nak.” Pesan Chellin dan disambut dengan anggukan kepala berat oleh Toni.
“Apa menurutmu semuanya benar-benar baik, Pa?.” Tanya Chellin kepada suaminya itu dengan nada cemas tak menentu.
“Sepertinya tidak, Ma. Papa juga khawatir sebenarnya.” Tutur Bobi menyahuti pertanyaan Chellin.
“Pa, apa sebaiknya kita bicara kepada Iffah. Dan kita tanyakan, apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka.” Usul Chellin semakin khawatir mendengar penuturan suaminya.
“Sebaiknya jangan dulu, Ma. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka terlebih dahulu tanpa campur tangan kita.” Cegah Bobi dengan bijak.
“Tapi kasihan Toni, Pa.” Rengek Chellin begitu mengkhawatirkan putra angkat yang sangat disayanginya itu.
__ADS_1
“Papa tau, Ma. Papa juga tidak tega melihat Toni menyembunyikan kesedihannya seperti itu. Tapi papa takutnya akan jauh lebih buruk, jika kita ikut campur sebelum mengetahui pokok permasalahan mereka. Biarkan mereka berkembang dengan pemikiran-pemikiran mereka. Mereka sudah dewasa, Ma.” Bobi kembali menyampaikan argumentasinya yang begitu bijaksana kepada istrinya itu.
Chellin hanya diam dan menurut saja, meskipun dia begitu penasaran dan kepikiran dengan Toni.
*****
Toni terus melajukan mobilnya kearah yang dirinya sendiri tidak tahu kemana. Kata –kata yang terucap oleh Iffah kepada Ghali tadi selalu saja terngiang di telinganya.
Ya, dia mendengar apa pun yang diucapkan Iffah kepada Ghali ketika di kamar adik iparnya itu tadi. Dia hanya mendengar di balik pintu tanpa ingin ikut campur dalam urusan adik kakak itu, meskipun Iffah sendiri adalah istrinya.
Tapi kata-kata Iffah, sama sekali tidak mencerminkan bahwa wanitanya itu ingin menjadi istrinya.
Bagaimana bisa kamu lupa dengan ucapan kamu di pemakaman tadi, Iffah? Atau itu benarlah hanya untuk menyenangkan hatiku di waktu sesaat saja?
Kamu mengatakan dirinya, Arjuna ku? Kamu bilang, hidupmu sudah tidak berarti lagi setelah mengetahui apa yang menimpa Arjuna mu? Kamu bilang, jika itu tidak terjadi, kamu akan hidup berbahagia bersama Arjuna mu?
Kamu sudah menyalahkan takdir, Iffah…
Semua kata-kata Iffah yang didengarnya tadi memang mengganggu konsentrasi Toni. Kakinya menginjak pedal gas dengan begitu kuat tanpa disadarinya, bahkan sekuat tenaganya. Laju mobil yang ia kendarai benar-benar berada di kecepatan tinggi saat itu.
Toni seakan tidak berada di dunia karena mengingat kata-kata Iffah yang begitu menyakiti perasaannya.
Meskipun dia berada di jalanan yang begitu sepi, akan tetapi Toni tidak mampu menyeimbangkan kemudinya setelah sebuah truk molen melaju dari arah berlawanan. Bahkan dia tidak dapat melihat bahaya yang sedang dihadapinya saat itu.
Kata-kata Iffah bagai adrenalin yang menguasai diri dan pikirannya.
Dia tidak mampu menguasai dirinya, pendengarannya, bahkan penglihatannya.
Dentuman keras terdengar memekakkan telinga dan menyayat hati.
Hening...
__ADS_1
Darah mengucur deras dari dalam sedan hitam yang ditumpangi Toni. Tampak asap yang tidak terlalu tebal pun keluar dari bagian mesin mobilnya. Dan mobil yang sebelumnya terkesan mewah itu pun berubah hancur, bodynya penyok dan terlihat rusak parah.
Seseorang selamatkan lah dia…
Dering ponselnya, berbunyi mengubah suasana semakin terasa mencekam kala itu. Terdapat panggilan video dari Kemil, yang pastinya atas permintaan putri tercintanya, Milka Khumairah.
Toni sudah dalam keadaan tidak sadar, sehingga dia tidak dapat keluar dari dalam mobilnya sendiri.
Seseorang…. Jika Iffah tidak lagi mengharapkannya, demi Milka Khumairah nya… Tolong selamatkan lah dia…
.
.
.
.
.
READERS TERCINTA, DAPAT SALAM DARI RADETSA NIH...
TERIMAKASIH LIKE DAN KOMENNYA...
MESKIPUN RADTSA BELUM SEMPAT MEMBALAS KOMENTAR KALIAN, TAPI RADETSA SUDAH MEMBACA SEMUANYA. MULAI DARI SCP, KCK DI UJUNG SENJA, DAN TML INIPUN SUDAH. CEK SAJA, JIKA SUDAH ADA YANG LIKE BERARTI ITU RADETSA YANG LIKE SALAH SATUNYA YA.
DAN BAGI YANG INGIN RADETSA LANJUTKAN EPS 64, PLEASEEEE KOMENT+LIKENYA YA... SOALNYA PAS NULIS EPS INI RASANYA SAKIT BANGEET
SALAM SATU LAYAR DI MT&NT
KARENA RADETSA CUMA NULIS DI PLATFORM INI AJA..
__ADS_1