
Malam itu Toni masuk ke dalam kamarnya, dia menemukan Iffah masih mengenakan kerudungnya yang sedada.
Iffah duduk berpangku lutut sembari menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur Toni yang sudah hampir seminggu itu dihuninya. Dia sedikit terkejut akan kedatangan Toni yang begitu sangat tiba-tiba. Matanya menangkap kelelahan di wajah Toni yang terlihat sendu.
“A-Antoni…” Seru Iffah dengan bibir yang bergetar seraya menurunkan kedua kakinya.
“Tidak apa-apa, kamu silakan tidur disana. Biar aku tidur di sofa saja.” Toni menahan Iffah agar tidak turun dari tempat tidur.
“T-Tapi kenapa?.” Iffah terlihat kebingungan dengan sikap Toni yang tidak lagi hangat seperti sebelum dirinya menjadi istri Toni kala itu.
“Aku hanya tidak ingin memaksa kamu dengan ikatan pernikahan kita ini, Iffah.” Tutur Toni seraya berusaha menepiskan senyuman di bibirnya yang tidak terlalu tebal. Wajah Toni masih terlihat memucat, di dalam matanyapun masih menampakkan sedikit kepedihan disana.
“Aku tau ini sebuah kesalahan, dan aku akan menerima konsekuensi dari kesalahan yang telah aku lakukan.” Toni mengambil sebuah bantal dan membawanya ke sofa yang tidak terlalu jauh dari tempat tidurnya itu.
Iffah tertegun mendengar penuturan Toni yang seakan menyindir dirinya. Dia menyadari akan hal yang telah diucapkannya kala itu ketika berada di rumah sakit, hanya saja dia tidak bisa menarik kata-kata itu lagi. Meski hatinya terlalu perih dan mengakui kesalahannya, namun dirinya telah dengan sengaja membuat hati Toni terluka.
Padahal baru saja aku mau menerima pernikahan ini, tapi kenapa dia malah memberikan aku sebuah batas berdinding tebal seperti ini sebagai istrinya?
Tidak bisakah saja dia melupakan apa yang telah terjadi dan terucap dari mulutku waktu itu?
__ADS_1
Iffah berusaha menahan isaknya ketika Toni sudah terlihat menidurkan dirinya di sofa kamar itu.
Bukan pernikahan seperti ini yang aku inginkan Antoni? Aku ingin melihatmu yang bijak seperti sebelumnya. Aku tau, taqdir yang mempermainkan kita. Namun taqdir itulah yang mempertemukkan kita berdua.
Bukankah kamu telah berjanji untuk tidak akan melepaskan genggaman tanganmu kepadaku?
Iffah menitikkan air matanya, berusaha menahan suara dalam isak tangisnya malam itu. Dia membaringkan tubuhnya, dan terlelap dalam sakit yang dia rasakan.
*****
Waktu terus bergulir dan mengantarkan mereka ke pertengahan malam. Itu pertama kalinya Iffah tidur di ruangan yang sama dengan Toni, meski mereka tidur di tempat yang berbeda. Mereka seperti terlibat kawin kontrak di dalam sinetron-sinetron. Satu kamar, tapi tidak seranjang. Dan hal itu menyiksa batin mereka masing-masing.
Suara menceracau terdengar mengusik telinga Iffah, dia bergedik ngeri serasa masih berada dalam mimipinya. Suara deru nafas yang tersengal ditambah sedikit isak tangis, bercampur mengganggu tidurnya malam itu.
Namun semakin dia bersembunyi di balik bantal, suara itu semakin mengganggu tidurnya. Dia mulai merasa iba mendengar suara yang mendayu-dayu mengganggu perasaannya kala itu.
Iffah memberanikan dirinya untuk mempertajam indera pendengarannya. Dia menurunkan bantal yang menutupi kepalanya dengan perlahan-lahan. Suara itu semakin lama semakin berkurang, hanya saja dia menjadi penasaran dengan suara yang sempat membangunkannya tadi.
Iffah bangkit dan turun dari tempat tidur itu dengan mengendap-endap. Langkahnya terhenti ketika matanya menatap kearah sofa yang di tempati Toni. Perhatiannya teralihkan kesana. Toni terlihat menggigil, tubuhnya
bergetar hebat. Dan suara nafas yang menderu tak beraturan itupun ternyata berasal dari dirinya.
Tanpa pikir panjang, Iffah segera mendekat dan menghampiri suaminya itu.
“Antoni…” Panggilnya dengan sedikit takut. Namun tidak ada sahutan, yang ada Toni tetap menggigil dan kembali menceracau.
__ADS_1
“Antoni…” Iffah kembali memanggil suaminya itu dengan perasaan cemas yang tidak menentu. Dia memegangi lengan Toni yang bersilangan di dadanya. Iffah terlihat semakin cemas, telapak tangannya memegangi kepala
Toni yang basah bercucuran keringat dingin. “Yaa Allah, badan kamu panas sekali.” Iffah ikut terlihat menggigil karena kepanikan. Matanya mulai menelaga dan memerah.
“Kamu bertahan ya, aku akan segera kembali.” Ujar Iffah bangkit dan keluar dari kamar itu. Dia meninggalkan Toni yang terlihat tidak sadarkan diri dan menggigil seperti menahan kedinginan.
Tidak beberapa lama, Iffah kembali lagi dengan membawa sebaskom kecil air dingin dan sapu tangan. Dia mengopres dahi Toni dengan sapu tangan yang sudah dilembabkannya dengan air biasa yang dibawanya.
Iffah membenahi cara tidur Toni di sofa itu, karena dia tidak akan kuat untuk membopong tubuh kekar Toni ke tempat tidur. Dia menyelimuti Toni dan menungguinya sepanjang malam. Air mata Iffah akhirnya mengalir begitu saja dari kelopak matanya.
“Aku mohon, jangan sakit lagi. Sudah cukup kala itu kamu membuatku cemas, Antoni.” Rintihnya sambil terus menggenggam tangan Toni yang masih terasa panas. Dalam sejaman itu, entah berapa kali dia mengulang membasahi sapu tangan yang digunakannya untuk mengompres dahi Toni.
Iffah tidak beranjak dari posisinya, dia bahkan terus duduk di bawah sofa samping Toni tertidur malam itu. Hingga akhirnya dia ikut tertidur sambil duduk dan mendekapkan kepalanya di lengan Toni yang masih di peganginya
sedari tadi.
.
.
.
.
.
__ADS_1