TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
TENTANG CAKRAWALANYA KAMELIA


__ADS_3

Waktu terus bergulir, entah telah berapa lama Toni terbaring koma di ruangan berbau obat-obatan itu. Iffahlah yang selalu menghitung setiap detik, menit, jam, hari, minggu dan bulannya.


Dia selalu datang di setiap kali jam besuk ada. Dia tidak pernah absen sama sekali untuk menemui suami tercintanya itu.


Pagi itu Iffah datang dengan membawa sebuah foto di tangannya. Setiap kalli dia masuk ke ruangan itu, dia akan bersandar terlebih dahulu di dinding luar kamar. Dia akan mempersiapkan senyuman termanisnya untuk Toni. Tidak hanya itu, bahkan dia memoleskan sedikit bedak di wajahnya yang terlihat pucat.


“Assalamu,alaikum… Pagi suami tampanku…” Sapanya dengan senyuman yang merekah sembari mendaratkan sebuah kecupan di kening Toni.


“Kamu tau? Hari ini aku akan mengabari satu hal yang akan membuatmu bahagia sekali.” Iffah kembali tersenyum. Tapi siapa yang tau hatinya sangat terpukul saat itu. Berbicara dengan seseorang yang sangat dicintainya, namun seseorang itu tidak mampu menyahuti pembicaraannya.


“Kamu penasaran, bukan? Kalau iya, tebak dulu…” Pintanya seolah-olah berbicara dengan seseorang yang bisa menjawab setiap ucapannya.


“Hari ini aku akan bawa kabar dari Milka. Ya, Milkanya kamu, dan sekarang juga sudah jadi Milkanya aku kan?


Dia titip salam untuk kamu sayang…” Seru Iffah berbisik di telinga Antoni dengan nada dan ekspresi yang begitu menggoda.

__ADS_1


“Tapi kamu tenang saja, kami semua bilangnya kalau kamu sedang sibuk sekali. Sehingga kamu tidak bisa menemuinya. Dia sangat merindukan kamu, bahkan beberapa kali dia mengomel kepadaku agar membawa papanya kesana untuk menemui dirinya.” Tutur Iffah begitu leluasa menyampaikan pesan dari Milka.


“Oh iya, satu lagi. Cakrawalanya Kamelia dan Kemil sudah terlahir ke dunia, senja kemarin. Aku tidak bisa datang, karena aku tidak mau meninggalkan kamu sendirian disini. Aku akan pergi kesana nanti, nanti jika bersamamu. Maka dari itu, kamu cepat bangunnya… “ Iffah memanyunkan bibirnya.


“Karena kamu tidak bisa nemenin aku untuk mengunjungi cakrawala, jadi kami Cuma melakukan panggilan video saja semalam. Dan Milka juga sudah cukup tenang kelihatannya dengan kehadiran Cakra, adik lelakinya yang


menggemaskan itu.” Iffah menarik nafasnya dan menghempaskannya lagi dengan kasar.


“Kita kedahuluan oleh Kamelia, dia telah memberi putranya dengan nama Cakrawala. Padahal kan, kamu juga menyukai cakrawala.” Celutuknya sambil mengelus-elus lengan Toni yang di tegakkannya di depan wajahnya saat


“Oh iya, semalam Kamelia sudah mengirimkan foto Cakra kepadaku. Dan tadi sempat aku print. Kamu mau lihat nggak? Kalau mau, buka matanya. Jangan tidur terus, kenapa sih?” Gerutu Iffah dengan manja.


“Hmmmm, ya sudah deh. Nih aku lihatin saja.” Ujar Iffah tampak menyerah. Iffah memperlihatkan foto yang dibawanya tadi ke hadapan Toni yang masih belum kunjung membuka matanya saat itu.


“Dia tampan, bukan? Matanya mirip banget sama matamu, sipit. Hehe… Aku kan sempat lihat foto mama kamu waktu di desa. Mata mama kamu sipit, sama dengan mata Om Idris. Mata Kemil juga, pastinya. Tapi dia juga punya belah dagu loh, sama seperti Kamel. Kulitnya putih, rambutnya tebal, alis matanya juga, bulu matanya lentik sekali… Hmmm gemeees… Tengok, tengok pipinya… Tembem bangeeet. Ah, sudah tidak sabar pengen cubit pipinya… Cepat bangun ya,, Aku mohoon.” Meski dia berbicara sambil tersenyum, tapi air matanya tetap lolos

__ADS_1


dengan begitu saja.


“Kamu tahu? Ada hal yang banyak saat ini jika kamu tanyakan kepadaku seberapanya.” Iffah menidurkan kepalanya di lengan Toni.


“Merindukanmu. Ya, merindukanmu adalah hal yang banyak saat ini aku rasakan. Cepatlah kembali… Aku sudah hampir mati dibunuh rindu ini.” Pinta Iffah dengan suara yang mulai serak.


“Ya, sudah. Aku takut jika lama-lama disini kamu tidak akan merindukanku lagi. Aku pulang saja, ya.” Iffah mengecup kening Toni dan beranjak tanpa menoleh lagi. Dan itulah hal yang palling berat ia lakukan selama meninggalkan suaminya terbaring lemah di atas tempat pembaringan ruang kecil dari besarnya rumah sakit itu.


Dan setiap kali dia usai menutup pintu ruangan itu kembali, dia akan bersandar lagi di dinding yang sama sebelum ia masuk. Dan disitu dia akan menangis sejadi-jadinya, meluahkan beban yang ditahannya selama di dalam.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2