TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
PERMINTAAN ANEH


__ADS_3

Iffah terduduk lesu di bangku taman Rumah Sakit tempat dia dan Toni memeriksakan diri dalam rencana program hamil yang telah mereka bahas dari jauh hari. Dia masih menggenggam sebuah kertas di tangannya, pikirannya melayang pada penuturan dokter yang baru saja mereka temui.


Cairan bening yang menelaga sedari tadi dengan tiba-tiba mengalir begitu saja dari matanya yang bulat dan memancarkan kesedihan dari dalamnya.


Toni mengambil bahu Iffah dan menariknya dengan pelan ke dadanya yang bidang.


“Tidak apa-apa, sayang.” Ucapnya tampak menenangkan istrinya itu. Akan tetapi, Iffah semakin tersedu dibuatnya.


“Sayang… Dengarkan aku, tidak apa-apa. Kata Dokter masih ada harapan kan sayang.” Bujuknya lagi sembari mengusap lembut pundak Iffah.


“Apa yang aku takutkan, pada akhirnya itulah menjadi kenyataannya. Hiks….” Ujar Iffah di sela-sela sesenggukannya.


“Sayang… Hey… Coba lihat aku sekarang.” Toni berusaha mengeluarkan wajah Iffah yang masih bersembunyi di dadanya. “Kamu lihat aku, apa aku terlihat menyesal? Tidak, bukan?” Toni semakin berusaha menghapus kesedihan di hati istrinya itu.


“Tapi aku akan sulit memberikan Milka seorang adik lagi dariku sendiri, sayang.” Tutur Iffah getir.


“Tidak masalah, selagi masih ada jalan, kita akan tempuh jalan itu. Yang penting bagiku, kamu sehat dan terus berada di sisiku sayang. Itu sudah lebih dari cukup untukku. Karena aku mencintaimu apa adanya, bukan karena ada apa-apanya.” Toni semakin menghapuskan kegetiran yang dirasakan Iffah saat itu.


Dia juga bersedih atas penjelasan dokter yang baru saja mereka temui di Rumah Sakit itu mengenai hasil tes yang tertulis di kertas yang mereka terima. Hanya saja, kesedihannya lebih besar jika melihat air mata


istrinya itu mengalir.  Dia seperti memperoleh double kehancuran sekaligus.


“Apa perlu kamu istirahat saja di rumah untuk sementara waktu, sayang.?” Tanya Toni sambil menarik kembali bahu Iffah ke dalam dekapannya.


Iffah kembali menggeser tubuhnya dan menoleh kearah wajah Toni. “Jika aku menolaknya, kamu akan marah?” Iffah tidak menjawabnya, tetapi malah kembali melontarkan pertanyaan balik terhadap Toni. Matanya dengan lekat menatap mata suaminya itu.


“Tidak. Tentu tidak sayang…” Toni sedikit memaksakan senyumannya. “Tapi tolong jelaskan kenapa kamu menolaknya.” Tanya Toni begitu penasaran.


“Aku… Tidak ingin jauh dulu dari kamu.” Iffah terlihat malu mengakui perasaan yang sebenarnya ada di hatinya saat itu.

__ADS_1


“Hmmm… Baiklah… Jadi istri cantikku yang shalehah ini tidak bisa jauh-jauh dari Antoninya ya?” Gumam Toni memutar bola matanya memandang ke sembarang arah.


“Iiiih, aku beneran loh. Aku takut rindunya jadi banyak. Memangnya kamu mau, jika kamu pulang dari kantor tiba-tiba melihatku sudah mati terbunuh rindu?” Sungut Iffah sembari menyandarkan kepalanya di bahu Toni kembali. Dia hanya ingin berusaha menghibur kepedihan hatinya saat itu. Dan bermanja dengan Antoninya adalah satu-satunya cara untuk hal itu.


“Hehehe, tentu tidak mau dong sayang. Aku ingin kamu terus merindukan aku, tanpa harus membunuhmu karenanya.” Ujar Toni seraya mengecup kepala istrinya yang tertutup kerudung bewarna hijau Army kala itu. “Kamu mau apa sekarang? Katakan…”


“Mau jalan-jalan ke Mall.” Sahut Iffah cepat tanpa berfikir.


“Mall?” Toni sedikit terkejut mendengar permintaan Iffah yang terasa aneh olehnya.


“Iya, Mall. Kenapa? Tidak boleh kah?” Tanya Iffah bersiap hendak merengut.


“Hmmm, tentu boleh dong sayang. Meski agak aneh permintaanmu kali ini.” Sahut Toni segera bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk digandeng Iffah menuju kearah mobilnya terparkir. Iffah dengan riang menyambut tangan Toni, mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan saling menguatkan satu sama lainnya.


*****


Mata Iffah menampakkan binar-binar kebahagiaan dari dalamnya, ketika melihat Mall besar tujuan mereka sudah berada di depan mereka saat itu.


“Tidak terlalu, bukan berarti tidak suka kan sayang?” Sahut Iffah ketus yang dibuat-buatnya. Dia mendahului Toni beberapa langkah sambil menyeringai senang karena telah berhasil membuat suaminya menjadi kebingungan.


“Jangan duluin aku, nanti kamu digodain orang.” Toni berusaha menahan lengan Iffah yang selangkah lebih dahulu darinya.


“Iya suami tampanku… Aku mau es krim, boleh?” Rengek Iffah kembali.


“Booleeh…” Toni bergegas mengikuti Iffah yang berjalan menuju tempat penjualan ES krim.


Sepanjang jalan, Iffah sama sekali tidak meminta apa-apa kecuali es krim yang dimakannya saja. Dia terlihat begitu senang dan tertawa jika melihat sesuatu yang lucu di sekitarnya. Mata Toni tidak lepas memerhatikan


senyuman yang menghiasi wajah istrinya itu setelah rasa sakit yang baru saja mereka terima.

__ADS_1


“Kamu mau beli sesuatu?” Tawar Toni.


“Tidak…” Sahut Iffah sembari menggelengkan kepalanya.


“Perasaan kamu tidak beli apa-apa, sayang. Cuma es krim saja.” Ujar Toni heran. Iffah hanya tersenyum mendengarnya.


“Memang tidak ingin beli apa-apa. Tapi aku mau beliin Sesutu untuk Milka, kapan kita berkunjung lagi sayang?” Tanya Iffah manja.


“Kamu maunya kapan?”


“Lusa, boleh? Lusa kamu kan free, sayang.”


“Ya sudah, memangnya kamu mau belikan Milka apa?” Tanya Toni segera meraih tangan Iffah kembali.


“Hmm, boneka doraemon saja bagaimana?” Tanya Iffah meminta saran kepada suaminya itu.


“Bagus juga, Milka pasti akan senang untuk itu.” Ujar Toni tanpa berpikir lagi. Dia juga tau Milkanya menyukai karakter pemilik kantong ajaib itu.


“Ya, sudah. Ayo, sekalian untuk Cakrawala. Pasti mereka sangat senang.” Ajak Iffah seraya menarik lengan Toni kearah tempat penjualan boneka.


Tidak peduli apa pun, caramu tetap membuatku khawatir saat ini sayang. Dalam bersedih, tiba-tiba kamu bisa tertawa secepat ini. Dan yang aku tau dari Ghali, kamu tipe perempuan yang tidak suka jalan-jalan ke Mall seperti ini.


Yaa Allah, biarkan sejenak istriku melupakan kesedihannya. Kami percaya padamu Yaa Wahab…


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2