TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
BUKAN SEBUAH HUKUMAN


__ADS_3

Hukuman itu datang bertubi-tubi menderaku. Aku bahkan tidak tau, apakah masih akan ada lagi setelah ini?


Teruslah… Terus beri aku hukuman hingga aku benar-benar sudah tidak lagi merasa bersalah terhadap apa yang telah aku perbuat di masa laluku. Meski sakit, tapi aku bahkan tidak pernah tau luka yang dirasakan orang-orang di sekitarku akibat dari perbuatan ku. Dan tidak sepantasnya aku mengeluh.


Hanya saja, akankah dosaku terhapus dengan hukuman ini?


Ini sungguh paling berat yang aku rasakan. Putri kecilku, sosok yang paling membahagiakanku ketika dia memanggilku dengan sebutan papa. Berlari menghampiriku, mendekap ku dengan tangan mungilnya, berceloteh dan bahkan merajuk apabila aku tak memenuhi janjiku kepadanya.


Kenapa dia? Kenapa harus dia yang engkau ambil dari hidupku? Kenapa bukan aku saja? Bahkan aku merasa tidak pantas menjadi papanya meski aku ingin.


Kini aku berada dalam sebuah lubang untuk mengantarkannya pergi tanpa bisa aku jemput kembali. Aku serasa tidak ingin keluar dari sini, aku ingin ikut saja dengannya. Aku mohon, sudah tiga kali aku menyaksikan orang-orang yang aku cintai pergi.


Tangis Toni seakan menandakan hatinya tengah berteriak, ketika tangannya bergetar menyambut jenazah putri kecilnya yang telah terbungkus rapi dengan kain putih bersih.


BRUUUUK…


Tubuh Kamelia ambruk seketika. Dia tidak kuasa menahan kesedihannya di tinggal putri kecil tercintanya itu. Semua kerabat segera membopong Kamelia ke bawah pepohonan rindang untuk meneduhkan dia. Sementara Kemil hanya menatap dari dalam liang dengan perasaan yang sulit diartikan dari wajahnya.


Perlahan, tumpukan tanah bekas galian itu dijatuhkan ke dalam lubang yang telah menyimpan Milka di dalamnya. Rasa sakit semakin melemahkan tubuh Toni. Dia tau, Kemil bukannya tidak bersedih akan kepergian Milka. Namun Kemil berusaha tegar demi Kamelia. Mungkin, jika ada yang sangat kehilangan


saat itu, maka dialah Kemil. Sosok ayah Milka yang telah memberi nama untuk putri kecilnya itu.


Penyelenggaraan pemakaman Milka telah usai, namun Kamelia tak juga kunjung tersadar. Semua orang merasa cemas saat itu. Kemil mengangkat tubuh Kamelia, dan membawanya ke dalam mobilnya yang terparkir di luar TPU desa.


*****


Semua keluarga berkumpul di kediaman Arayan, termasuk keluarga Toni. Toni kembali mengurung dirinya di kamar tempat mamanya dan Kamelia pernah tinggal kala itu. Apalagi yang akan dilakukannya selain menyesali dirinya sepanjang hari? Dialah yang paling bersalah menurutnya. Dia penyebab semua luka yang tergores di hati orang-orang yang disayanginya.


“Toniiii… Kembalikan Milka ku. Jangan bawa Milka… Ku mohon kembalikan… Kamu bahkan telah diizinkan menjadi papanya, tetapi kenapa kamu masih saja ingin mengambil Milka dariku? Toniiii…” Suara ribut-ribut terdengar dari arah luar kamar dan sempat mengusik lamunan Toni.

__ADS_1


Sesaat Toni terdiam. Dia begitu terpana dalam kesedihannya ketika mendengar suara itu, suaranya Kamelia. Toni bergegas membuka pintu kamar dan melihat apa yang telah terjadi.


Kamelia dengan didekap Kemil terlihat kesetanan. Dia terus saja berteriak memanggil nama Toni agar mengembalikan Milka nya.


Toni semakin terpana dan keheranan melihat situasi yang terjadi dari depan pintu kamar yang ditempatinya sedari tadi.


Rasa bersalah semakin menjadi-jadi menyakiti perasaannya.


“Istighfar sayang, Istighfar.” Bisik Kemil ke telinga Kamelia yang didekapnya dengan erat.


“Dia telah mengambil Milka ku, Sayang.” Tunjuk Kamelia dengan tajam kearah Toni yang masih berdiri menatapnya dengan getir. “Tolong kembalikan Milka, Toni. Aku mohon…"


Semakin lama, suara Kamelia terdengar semakin mengiba dan melunak, dan pada akhirnya dia kembali tidak sadarkan diri.


Hati Toni semakin hancur melihat kondisi ibu dari putrinya itu.


Toni kembali masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam, setelah Kemil membawa Kamelia kembali ke dalam kamar mereka. Dia bersandar di belakang pintu itu, kemudian menangkupkan badannya sembari memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangannya sendiri. Rasa sakit itu bertahan di hatinya hendak membunuh jiwanya.


“Maafkan aku, Kamel. Maafkan aku… Tidak sedikit penderitaan mu karena diriku. Aku memang jahat, sangat jahat.” Rutuk Toni sembari memukuli kepalanya berkali-kali.


Tok… Tok… Tok…


Suara ketika terdengar dari luar. Toni segera mengusap kasar wajahnya. Dia begitu memaksakan diri untuk menghentikan tangisnya.


“Sayang… Ini aku. Bisakah aku masuk?” Pinta Iffah dari luar kamar tempat Toni mengurung diri.


Meski sedikit menunggu, namun Toni tetap membukakan pintu untuk istrinya itu. Toni berdiri menatap Iffah sambil memegangi gagang pintu kamar itu.


Iffah menampakkan senyuman tipisnya. Kilatan cahaya dari mata Iffah memberi sedikit kehangatan untuk hati Toni.

__ADS_1


Iffah melangkah ke dalam dan segera menutup pintunya kembali. Toni masih saja berdiri menatap Iffah dengan sendu. Iffah meraih tangan Toni dan menariknya dengan pelan kearah tempat tidur.


Tidak ada aba-aba yang keluar dari mulut Iffah. Hanya isyarat yang menunjukkan apa yang harus dilakukan suaminya. Dan saat itu, entah kenapa Toni menurut saja dan mengerti dengan isyarat yang diberikan Iffah terhadapnya.


Iffah duduk selonjoran di atas tempat tidur, dan kemudian menepuk-nepuk pelan pahanya. Toni mengerti apa yang dimaksud Iffah. Dia tidur disana dengan berbantal paha Iffah.


“Menangis lah…” Perintah Iffah. “Bukankah Allah menghalalkan aku untukmu, agar kamu bisa bersandar di dunia ini ketika kamu bersedih?” Ujar Iffah berusaha kuat.


"Aku tidak boleh menangis, Sayang. Aku pantas merasakan sakit ini. Ini hukuman untuk semua kesalahanku." Ujar Toni datar.


"Ini bukan hukuman, Sayang... Ini cobaan. Dan seberapa kuat kamu menahannya, maka Allah akan menghitungnya dalam bentuk kesabaran darimu." Tekan Iffah.


Toni bahkan menahan air matanya meski sakit di hatinya menggerayangi hendak membunuhnya saat itu.


“Aku tau, rasa sakit mu adalah rasa sakit ku juga, dan air matamu adalah kesedihan yang mendalam bagiku. Tapi untuk kali ini, aku izinkan kamu menangis.” Ujar Iffah lagi terdengar memaksa.


Tangan Toni bergetar hebat. Lengannya memeluk paha Iffah dengan begitu kuat, dan kemudian dia menangis sejadi-jadinya. Terisak-isak, tersedu-sedu.


Iffah menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Dia berusaha menahan air matanya yang hendak keluar dengan mengedipkan matanya itu berkali-kali. Tangisan Toni bagaikan belati yang menyayat hatinya. Sungguh sakit baginya melihat kepedihan yang dirasakan Toni saat itu.


Dia sangat tahu bahwa suaminya itu teramat menyayangi Milka dari apa pun. Dia sangat tahu bagaimana perasaan suaminya setelah kepergian Milka, bahkan semenjak suaminya mendengar kabar Milka sedang sakit


kala itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2