TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
PENGAKUAN RINDU


__ADS_3

Malam itu kembali seperti biasa, Toni masih saja berada di ruang kerjanya hingga larut malam. Dan ketika kembali ke kamarnya, dia hanya akan mengambil sebuah bantal untuk tidur di atas Sofa. Begitulah situasi di antara mereka, terus berlanjut sepanjang waktu tanpa ada saling bicara.


Sudah hampir larut, mata Toni sulit untuk ia pejamkan saat itu. Berkali-kali dia menoleh kearah Iffah yang seakan tertidur dengan pulas. Dia menghela nafasnya dengan berat. Entah kenapa dengan adanya Iffah di sisinya, itu lebih menyakitkan baginya.


Toni bangkit dan melangkah kearah luar kamarnya yang menuju langsung ke balkon depan. Disana dia duduk sambil merenung, memerhatikan sekotak rokok yang sudah lama ditinggalinya. Ya, bahkan semenjak putrinya hadir ke dunia, Toni tidak pernah lagi menyentuh barang itu. Namun itu untuk pertama kalinya lagi semenjak Milka lahir.


Malam itu mungkin dia telah terlalu payah menahan perasaannya. Dia mencabut satu batang rokok dari dalamnya, dan memetik korek api untuk membakar ujung rokok.


“Antoni…”  Seru Iffah yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


Toni terkejut seraya berdiri menghadap kearah Iffah dan dia tidak jadi melanjutkan niatnya. “I-Iffah…” Toni terlihat gugup dan merasa malu saat itu.


“Aku tidak pernah melihatmu merokok sebelumnya…” Ungkap Iffah dengan nada kecewa dan mata yang mulai menelaga di pelupuknya.


“Dulu… Dulu, dulu aku merokok.” Dia semakin gugup melihat Iffah yang hampir menangis saat itu.


“Dan kenapa kamu menghentikannya waktu itu?” Iffah semakin menampakkan kekecewaan terhadap jawaban dari Toni yang tidak ingin didengarnya sama sekali.


Toni menunduk, dia sendiri bahkan tidak tahu dengan jawabannya. “Dan sekarang kenapa kamu merokok?” Iffah kembali bertanya tanpa ingin berlama-lama menunggu jawaban Toni. Karena memang dasarnya dia tidak menginginkan jawaban tentang itu dari suaminya.


“Apa kamu merasa kecewa akhir-akhir ini kepada-Nya?” Toni kembali menatap Iffah dengan wajah mulai memerah. Pertanyaan Iffah seakan mampu menebak perasaannya.


“Bukankah kamu ingin mengetahui semua karma yang kamu rasakan untuk menebus semua kesalahan di masa lalu mu? Lalu kenapa kamu begitu tidak terima dengan takdirmu? Bukan kah kamu yang bilang, Allah hanya menguji kita dengan mengambil orang-orang yang kita sayang, tapi Allah tidak mengambil harapan kita untuk bangkit? Bukankah kamu yang bilang, Dia tidak suka kita meratapi terlalu larut hingga kita lupa ada masa depan yang cerah sedang menantikan kita?” Iffah menahan rasa sakit karena setiap ucapannya sendiri. Dia berusaha


kembali mengingatkan Toni tentang apa yang telah diucapkan suaminya, kala pertama kali suaminya mengungkapkan cinta kepadanya di taman senja itu.

__ADS_1


Toni tertegun mendengar pertanyaan demi pertanyaan Iffah yang membuat dirinya tersadar akan hal yang telah dilakukannya beberapa minggu ini.


“Tapi bagaimana dengan kamu?” Tanya Toni lirih seraya menatap Iffah dan berusaha menelusuri kejujuran di dalam mata Iffah.


“Apa yang salah denganku, Antoni?” Iffah mulai terisak. “Aku tau, aku waktu itu telah menyakiti perasaanmu dengan sengaja. Aku sampai lupa dengan sayangnya Allah kepadaku. Dia memberimu sebagai suami terbaik yang menggantikan Arjuna dalam hidupku. Aku tau, aku pernah khilaf kala itu. Tapi bahkan, aku yang terlebih dahulu jatuh dalam cinta ini sebelum kamu memerhatikan aku.


Tidakkah kamu ingat lelaki dingin yang masuk ke kantor pertama kali pada waktu itu, bahkan tidak memandang apapun termasuk aku? Dia hanya menatap kosong penuh keterpaksaan kearah depannya.


Aku yang pertama kali menemukanmu, tertarik denganmu, hingga berdebar dan menyakiti jantungku sendiri ketika beradu pandang denganmu.


Aku juga manusia biasa yang punya kesalahan di waktu-waktu tertentu, Antoni. Bukan sebuah kebohongan dengan cintaku kepadamu meskipun aku lupa ingatan kala itu. Sampai saat ini aku masih merasakannya.” Toni membiarkan Iffah terisak. Dia sendiri bahkan tidak pernah tau bagaimana caranya menggambarkan perasaannya sendiri saat mendengar pengakuan Iffah yang terlihat jujur dari matanya.


 “Lalu hubungan kita ini semacam apa sekarang? Tidakkah kamu memberi kesempatan kepada hati kita


yang sebenarnya saling merindu? Aku tahu itu, kita sama-sama tersiksa akhir-akhir ini karena keegoisan kita dalam mempertahankan gengsi kita masing-masing. Tapi aku juga berhak untuk kamu tanyakan bagaimana hatiku.


Sementara Toni menjatuhkan sebatang rokok yang sedari tadi dipegangnya. Dia perlahan mendekat, hatinya sudah tidak lagi berdaya melihat air mata perempuannya bercucuran dengan deras. Dia membuka sweater yang dikenakannya dan melingkarkan ke tubuh Iffah.


Dengan perlahan, Toni mendekap Iffah ke dadanya dengan erat.


“Berhentilah menangis, jika kamu tidak ingin melihatku menangis pula. Akhir-akhir ini aku terlihat begitu cengeng di depanmu.” Ujar Toni seraya mengusap lembut bahu Iffah.


“Aku merindukanmu…” Bisik Iffah di sela isak tangisnya. Dia sampai tersedu-sedu olehnya.


“Sebanyak apa?” Tanya Toni menarik dagu Iffah dan menghadapkan wajah istrinya itu kearah wajahnya.

__ADS_1


“Sebanyak kamu merindukanku.” Sahutnya dengan bibir yang manyun.


Toni tertawa melihat tingkah Iffah yang bisa terlihat seperti anak kecil di depannya. “Memangnya kamu tau aku merindukanmu sebanyak apa?” Dia mengerutkan dahinya menunggu jawaban Iffah.


“Tahu…, sebanyak ketidakinginan kamu untuk menghisap rokok itu.” Iffah menunjuk Rokok yang sempat dijatuhkan Toni sebelum mendekatinya. “Tapi kamu tetap memaksanya, seperti halnya kamu memaksa hatimu menyembunyikan perasaan rindumu kepadaku, bukan?” Tanya Iffah menapaki kejujuran yang terpancar di mata Toni yang masih memerah.


Toni tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya. Dia kembali memeluk Iffah, dan kali ini begitu serakah.


“Jadi, kita sudah halal ya?” Bisik Iffah menggoda suaminya.


“Tergantung…” Jawab Toni asal.


“Loh, kok tergantung sih?” Iffah melepaskan dirinya dari dekapan suaminya itu.


“Hehe…” Toni menyeringai dan kembali menarik Iffah ke dalam dekapannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2