
Waktu terus saja berlalu tanpa mau menunggu. Toni dan Iffah memang semakin dekat sejak itu. Namun belum ada perubahan pada status hubungan mereka.
Ya, sekedar atasan dan bawahan. Seperti pakaian.
"Ada apa dengan motormu Ghali?" Toni menepikan sedan yang dikendarainya ketika melihat Ghali mendorong motor Sport miliknya di pinggiran jalan yang searah menuju kantor tempat Toni dan Iffah bekerja. Sedangkan Iffah ikut mengekor di belakang Ghali.
"Eh Bapak Antoni," Ghali dan Iffah dibuat sedikit terkejut karena sapaan Toni yang begitu tiba-tiba. "Ini Pak, mogok. Maklum mesin tua." Ujarnya dengan ngos-ngosan seraya menyeringai.
Iffah hanya tersenyum malu, dia tidak menyangka bahwa adiknya bisa sedekat itu dengan atasannya.
"Apa yang bisa saya bantu?" Toni berusaha menawarkan sesuatu yang bisa saja dilakukannya untuk membantu kakak beradik itu.
"Oh terimakasih Pak Antoni Kalau saya tidak salah, disana ada bengkel. Saya bisa mendorong motor ini kesana kok Pak, hanya saja ini membutuhkan waktu yang sedikit lama. Kalau boleh, saya minta tolong tumpangi kakak saya ya Pak." Ujarnya sedikit sungkan.
"Ghaliii..." Iffah membulatkan matanya ke arah adiknya itu seakan marah.
"Tidak apa-apa Iffah. Ayo..." Ajak Toni ramah.
"Tapi Pak,..." Iffah berusaha menolaknya.
"Ayolah kak, pergi saja. Pak Antoni juga tidak keberatan kok. Lagian Kakak dan Pak Antoni satu tujuan." Seru Ghali seraya mendorong lembut bahu Iffah.
Toni membukakan pintu mobilnya untuk Iffah.
"Terimakasih..." Iffah menepiskan senyuman kecilnya merasa tidak enak karena telah merepotkan atasannya itu.
"Thankyou Brother," Bisik Toni seraya melayangkan kepalan tinjunya dengan pelan ke arah Ghali, dan disambut pula dengan hal yang sama oleh lelaki itu.
"Masih terlalu pagi, Iffah. Apa kamu mau sarapan dulu?" Toni tampak terus berusaha mendekati gadis berkerudung di sampingnya itu. Kesempatan baginya, hanya ketika Tuhan menciptakan waktu kebetulan saja seperti kali itu.
"Tidak usah Antoni, Saya dan Ghali sudah sarapan tadi di rumah." Elak Iffah sungkan, namun bukanlah kebohongan yang telah diucapkannya.
Setiap pagi Iffah selalu membuatkan sarapan untuk dirinya dan Ghali, karena dia tau betul adiknya itu sangat menyukai masakannya.
__ADS_1
"Apa bukan karena kamu sungkan, makanya kamu menolak ajakan saya?." Toni menoleh ke arah Iffah. Dan hal yang sama juga dilakukan Iffah saat itu.
Toni bagai tersihir, dia terus menatap wajah Iffah yang terlihat lebih ayu jika dari jarak dekat.
Tanpa Toni sadari, seekor Kucing datang melintas dari arah kiri hendak menyeberangi jalan yang belum terlalu padat itu.
"Arjuna awaaasss..." Toni begitu terkejut mendengar teriakan Iffah yang begitu tiba-tiba.
Dia segera membanting stirnya ke arah kiri bibir jalan. Beruntung Toni dapat mengendalikan kemudinya sehingga tidak terjadi apa-apa terhadap mereka.
Toni merentangkan tangan kirinya sejajar dengan leher Iffah, agar Iffah tidak terdorong ke depan ketika dirinya menginjak rem dengan tiba-tiba.
Tidak hanya Toni, Nafas Iffah ikut tersengal hebat karenanya.
Sebuah peristiwa kecelakaan yang tidak terlalu jelas di memorinya, terus berputar di benaknya saat itu.
Iffah memegangi kepalanya dengan kuat.
"I-If-Iffaaah," Toni tersadar dari keterkejutannya ketika mendengar isak Iffah.
"Kenapa aku tidak bisa mengingatnya? Siapa dia?" Bisik Iffah dengan sendirinya. Dia begitu kecewa dengan keadaannya sendiri.
Toni segera turun dari mobilnya untuk membelikan air mineral. Dia tau, yang dibutuhkan Iffah saat itu adalah minum. Dan diapun juga lupa membawanya untuk hari itu.
Secepat kilat, Toni kembali menghampiri Iffah yang masih terlihat syok di dalam mobilnya.
"Minumlah, mungkin setelah ini kamu akan merasakan sedikit ketenangan." Ujar Toni seraya menyodorkan segelas air putih kemasan yang telah ditancapkan pipetnya oleh Toni.
Iffah menerima minuman itu, dan dengan segera meminumnya. Satu gelas kecil air mineral yang diberikan Toni tak tersisa sedikitpun oleh Iffah.
Iffah kembali mengatur nafasnya, "Apa kamu menabraknya?." Tanya Iffah cemas.
"Alhamdulillah tidak..." Saut Toni lirih. Dia juga tidak mampu membayangkan jika binatang kesayangan Rasul itu terlindas ban sedannya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, syukurlah Antoni. Dia juga makhluk bernyawa, bahkan binatang terlucu yang sangat disenangi banyak orang. Terutama Baginda Nabi." Iffah menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Maafkan saya Iffah, kamu pasti sangat terkejut karenanya." Toni benar-benar dihantui rasa bersalah saat itu. Cerita Ghali kembali terngiang di telinganya.
"Bersandarlah sejenak. Saya tau, saat ini kamu juga sangat terkejut bukan?." Ujar Iffah seraya tersenyum menenangkan Toni.
Toni menurut untuk menyandarkan pundaknya kepada sandaran kursi kemudi yang didudukinya itu.
*Bahkan ketika kamu tidak mengingat sekalipun, bibirmu masih saja menyebut namanya.
Apa sebegitunyakah kamu mencintai suamimu itu?
Kalau iya, aku tetap tidak akan menyerah Iffah*...
Toni memandang ke arah Iffah dengan sendu.
"Apa sudah baikan?" Tanya Iffah membalas tatapan Toni.
"Aku hampir merasakan penyesalan seumur hidupku, jika seandainya kamu kenapa-kenapa Iffah." Ujarnya lirih tanpa menghentikan pandangan matanya le arah Iffah.
Iffah begitu terkesiap mendengar penuturan Toni yang dirasanya hanya sebuah mimpi.
"M-Maksud kamu?" Iffah bertanya dengan gugup.
"Oh, tidak, tidak apa-apa. Kita akan berangkat sekarang." Ujar Toni, dan segera melajukan kembali mobilnya yang terparkir sembarangan di tepi jalanan yang sudah hampir padat saat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.