
Berbahagialah orang yang dapat menjadi tuan untuk dirinya sendiri, menjadi pemandu untuk nafsunya dan menjadi kapten untuk bahtera hidupnya. (Sayyidina Ali).
Sudah beberapa kali Iffah ditemani Toni memeriksakan perkembangan rahimnya ke rumah sakit, khusus menemui spesialis kandungan sekaligus untuk konsultasi mengenai program hamil. Karena waktu itu rahim Iffah dinyatakan lemah untuk dapat mengandung.
Iffah terlihat begitu semangat dengan rencana mereka. Sedangkan Toni masih terlihat kikuk dan gugup, dia masih belum percaya diri untuk bisa memiliki keturunan lagi semenjak kepergian Milka kecilnya, meskipun dia telah berjanji kepada Iffah agar percaya dengan kemudahan yang telah dijanjikan Allah kepada hamba-hambanya yang bersabar.
Iffah melihat raut wajah Toni, ada ketakutan di sana. Dengan segera dia menggenggam jemari suaminya itu dengan erat. Dia tersenyum, seakan membagikan kekuatannya yang begitu banyak tersisa dalam dirinya saat itu.
"Jangan takut sayang. Aku akan ikhlas dengan apapun takdir yang ditentukan oleh-Nya untuk kita. Aku tidak akan menuntut lebih darimu, selain dari kesabaranmu menghadapi sikapku." Bisik Iffah menenangkan kegundahan di hati Toni.
Toni berkali-kali mengedipkan matanya yang mulai menelaga, agar cairan bening yang entah dari mana keluar begitu saja membasahi pipinya. Dia berusaha keras untuk tersenyum. "Aku baik-baik saja, sayang." Ungkapnya berbohong.
"Sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan untuk rahim ibu Iffah. Alhamdulillah, berkat kegigihan bapak dan ibu dan juga pertolongan Yang Maha Esa, semua benar-benar menjadi baik.
Dengan memasangkan dilator pada mulut rahim ibu Iffah selama sebulanan ini, telah mampu melebarkan kembali mulut rahim ibu Iffah yang sempat mengecil akibat spinal stetonis. Kita tunggu saja hasilnya dalam dua minggu ini. Mudah-mudahan, bapak dan ibu bisa segera menjadi orang tua setelah ini." Tutur sang dokter.
__ADS_1
"Aamiin Yaa Mujiib…" Ucap Iffah dan Toni hampir bersamaan.
Memang, kala itu Toni masih takut. Hanya saja, tidak bisa dipungkirinya bahwa dia sangat senang dengan penuturan sang Dokter.
"Sayang…" Panggil Iffah sambil terus berjalan menggandeng lengan suaminya itu di lorong Rumah Sakit menuju ke parkiran tempat mobil yang membawa mereka berada.
"Hmm" Sahut Toni kecil. Rasa bahagia dan juga takut bersarang dalam dirinya kala itu. Dia seperti orang linglung yang tidak tahu arah. Bahagia ataukah bersedih.
"Aku sudah tidak sabar dengan hasilnya. Andai nanti aku benar-benar hamil, aku akan meminta kepada-Nya agar diberi anak seperti dirimu. Tidak peduli dia lelaki ataupun perempuan. Yang penting sebaik dirimu, sepintar dirimu, serajin dirimu, pokoknya hanya dirimu dalam jiwanya." Angan Iffah dengan begitu manja.
"Itu hanya di masa lalu, sayang. Orang-orang tidak akan bisa belajar tanpa masa lalu, karena masa depan itu hanyalah sebuah perencanaan." Iffah menatap lekat manik hitam yang terlindungi kelopak sipit di area bawah kening lebar suaminya itu. Dia seakan meminta pengertian dari suaminya yang selalu saja merendahkan diri seperti itu.
"Sebaik-baik manusia, yang manusia itu belajar dari masa lalunya sendiri. Lagian, semenjak aku mengenal dirimu, aku tidak pernah mengenal sisi burukmu sama sekali. Kecuali ghaib, dan Dia-lah beserta malaikat-malaikatnya yang tahu. Dan itu, yang ada di dalam sini." Telunjuk Iffah menekan dada bidang Toni. "Hatimu, niat di hatimu sayang."
Hampir saja air mata Toni mengalir. Dia segera mengedipkan matanya berkali-kali seraya mengambil dalam udara dari hidungnya untuk pernafasannya yang tidak teratur saat itu, kemudian membuang kembali udara itu dari mulutnya.
__ADS_1
Dia menepiskan sedikit senyuman di bibirnya, dan kemudian merangkul bahu istrinya itu kembali untuk melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.
"Terimakasih sudah mempercayaiku, Sayang. Meski kamu telah melihat dengan mata kepalamu sendiri, apa yang telah terjadi dan dialami Milka saat itu." Ungkap Toni mempererat dekapannya.
"Terimakasih juga sudah mau berjuang untuk bangkit dan terlihat baik-baik saja, Sayang." Balas Iffah seraya menggamit dan memeluk pinggang suaminya itu dari belakang dengan lengannya. "Dan satu hal lagi. Sebelum menjadi imamku, kamu merupakan pemimpin untuk dirimu sendiri. Jadi, kamu harus meyakinkan dirimu bahwa kamu bisa menjadi kapten dalam bahtera rumah tangga kita." Pinta Iffah dan dibalas anggukan kepala Toni dengan sungguh-sungguh.
.
.
.
.
.
__ADS_1