TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
BERBOHONG


__ADS_3

"Bagaimana Sayang? Apa semua aman?". Toni mengendap-endap di belakang istrinya.


"Mama dan Papa lagi asik menonton TV, sayang. Aku akan mencoba untuk mengalihkan perhatian mereka." Bisik Iffah dari balik tembok pembatas ruang keluarga yang akan mereka lalui.


Toni mengangguk. Dia merasa sangat gugup kala itu.


"Mama, Papa..." Sapa Iffah ketika keluar dari tempat persembunyian mereka. Tangannya tidak berhenti menggenggam tangan Toni.


"Eh... Iffah, Toni? Kalian pada mau kemana?" Tanya Chellin sedikit tersentak mendengar sapaan dari menantunya itu.


"Kami mau jalan-jalan, Ma, Pa. Suntuk." Sahat Iffah berbohong. Dia sudah menyiapkan mentalnya sedari tadi. Sedangkan Toni hanya diam saja, meskipun dia tahu bahwa istrinya itu merasa kesulitan telah berbohong kepada orang tuanya.


"Loh, kok tumben?" Tanya Bobi kemudian. Yang mereka tahu, anak dan menantunya itu tidak biasa keluyuran malam, meskipun kala itu masih pukul delapanan. Iffah mulai terlihat gugup. Wajahnya pun tampak sedikit memucat karenanya.


"Ini Pa... Tadi aku cerita sama Iffah, kalau cuacanya bagus dan udaranya juga segar sekali. Jadi, Iffah merengek minta diajak keluar." Sela Toni.


"Oh begitu... Baguslah Nak. Kalian juga harus tahu, bagaimana indahnya kota jika dijajaki pada waktu malam hari. Jangan di rumah terus." Ujar Bobi.


"Betul..." Sambut Chellin menyetujui ucapan suaminya dengan begitu bersemangat.


"Kalau begitu, kami pamit ya Ma, Pa." Ujar Iffah berpamitan. Dia tidak ingin berbohong lebih banyak lagi kepada orang tua suaminya itu. "Assalamu'alaikum..." Ucap mereka hampir bersamaan.


"Wa'alaikumussalam... Hati-hati..." Sahut Bobi dan Chellin juga hampir bersamaan. Toni dan Iffah mengiyakan pesan mereka dan segera berlalu dari sana.


Toni berusaha menahan rasa sakitnya di depan kedua orang tuanya itu dengan jalan sebiasa mungkin, agar mereka tidak curiga dan ujung-ujungnya khawatir dengan keadaannya.


"Sakit ya, Sayang?" Bisik Iffah dengan suara bergetar ketika mereka telah sampai di teras rumah.


"Sakit sedikit kok, Sayang. Kamu tidak usah khawatir. Kamu sudah memesan Taxi online-nya?" Toni berusaha mengalihkan perasaan istrinya itu.

__ADS_1


"Be..."


"Kakak Ipar, Kak Iffah…" Belum sempat Iffah menjawab pertanyaan dari Toni, Tiba-tiba Ghali datang mengejutkan mereka dari halaman rumah.


"Ghali…?" Iffah dan Toni sama-sama terpana dengan kehadiran Ghali di depan mereka.


JLEEEBB...


Toni menelan kasar ludahnya. Dia begitu gugup saat itu.


"Hey... Ini aku Ghali. Kenapa seperti melihat setan begitu?" Sungutnya ketika melihat reaksi kakak dan kakak iparnya itu. "Kakak dan kakak ipar hendak kemana? Kok tumben jam segini berada di luar?"


"K-kamu yang ngapai disini, Ghali?" Toni balik menanyai adik iparnya itu tanpa memberikan jawaban.


"Eee kebiasaan... Orang yang duluan nanya pun..." Decaknya pelan, namun tetap bisa terdengar oleh telinga sepasang suami istri itu. "Cuma nyari angin segar saja, eh tiba-tiba saya lihat darah berceceran disana. Saya jadi merindung. Ya sudah, saya balik la..." Ucapan Ghali terhenti ketika pandangannya mendapati kaki kanan Toni berjinjit.


Toni yang merasa ketahuan oleh adik iparnya itu, dengan segera meluruskan kakinya kembali.


"Sssssttt... Nanti Papa dan Mama dengar." Bisik Toni masih membekap mulut Ghali.


Serasa sudah tenang, Toni baru melepaskan Ghali.


Mata Ghali memerah dan berkaca-kaca. Perasaan bersalah dengan sigap bersarang di benaknya.


"Apa itu darah kakinya, Kakak Ipar?" Tanya Ghali dengan getir. Dia benar-benar merasa bersalah.


Toni hanya mengangguk pelan.


"Yaa Allah... Darahnya bayak sekali, kakak ipar." Perasaan bersalah membuat Ghali tidak mampu menahan air matanya untuk tidak keluar.

__ADS_1


"Aeeehh... Bocah cengeng. Malu sama tubuh. Ganteng-ganteng, tapi cengeng." Rutuk Toni. "Ayo Sayang." Toni segera menarik lembut tangan Iffah hendak meninggalkan Ghali disana. Dia seakan tidak tega melihat adik iparnya itu merasa bersalah.


"Kakak ipar mau kemana?" Cegat Ghali menahan lengan kekar milik Toni.


"Istri kesayanganku ini memaksaku ke Rumah Sakit." Sahut Toni sedikit berbisik.


"Saya ikut... Biar saya antar." Pinta Ghali memaksa.


"Tidak bisa Ghali... Nanti Mama Papa bisa tahu." Elak Toni.


"Tadi kakak ipar bohong sama Mama dan Papa, bukan? Kalian bilangnya kemana?"


Iffah menceritakan bagaimana mereka berbohong kepada mertuanya sebelum mereka keluar dari rumah.


"Tunggu disini..." Perintah Ghali seraya masuk ke dalam rumah.


"Hadeeh... Kakak dan adik sama saja. Kakiku yang terluka, malah mereka yang menangis." Dengus Toni seraya mencari posisi untuk duduk.


Iffah mengekor dari belakang. "Siapa suruh menjadi orang baik?. Juga menjadi suamiku lagi?." Sungut Iffah tidak terima.


Toni terkekeh seraya mengalungkan lengannya ke leher Iffah yang juga ikut duduk bersamanya di jenjang teras rumah berlantai keramik itu.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2