
Masa lalu, merupakan suatu waktu yang perlu disyukuri. Karena setiap orang, akan merasa diuntungkan ketika pernah berada di masa itu. Hanya saja, ada dua tempat disana. Puncak kejayaan, dan jurang kehancuran. Kedua-duanya pernah kamu lalui, setidaknya salah satu dari tempat itu.
Hidup di masa kinimu, sangatlah berbeda dari dua tempat tersebut. Karena hidup, sebuah proses menuju perubahan. Entah itu jatuh dari puncak kejayaan, atau malah bangkit dari jurang kehancuran.
Taqdirmu bukanlah sebuah kesalahan yang perlu kamu sesali sepanjang hidupmu. Kamu yang akan menentukan taqdirmu sendiri. Karena kamulah pemilik hak yang sebenarnya, tentang kearah manakah perubahan itu akan kamu tujukan.
Sudahkah kamu menangisi masa lalumu? Meski itu hanyalah tentang sebuah ingatan. Karena di masa lalumu itulah, kamu memiliki kenangan. Indah pun, tidak akan lagi mampu kamu ulangi. Dan buruk sekalipun, membuat kamu tersadar, bahwa kamu mampu melewati segalanya.
Toni dan Iffah masih menumpu lutut mereka di gundukan tanah yang berjejer disana. Ada empat makam yang mereka kunjungi sekaligus.
Hari itu, Toni bersama anak dan istrinya berada di desa kelahirannya. Tempat dimana keluarganya bersemayam untuk selamanya. Terakhir kali Milkanya.
Toni memang sengaja mengunjungi putri sulungnya kesana. Dia sangat merindukan Milka, gadis kecilnya yang telah pergi meninggalkan dirinya tanpa ingin kembali.
Toni juga ingin memperkenalkan Jingga kepada keluarganya itu.
Apa Milka senang, Nak? Hari ini, Papa mengajak Dedek Jingga kesini. Dia mirip sekali denganmu... Matanya juga sipit seperti matanya Milka.~ Mata Toni menelaga.
"Jingga. Ini kakak Milka, Nak. Kakaknya Jingga." Kata Iffah mengajak putri kecilnya itu berbicara.
__ADS_1
Dia tahu, saat itu Antoninya tidak ingin mengeluarkan kata-kata untuk sepatah pun. Jingga kecil mengeluarkan senyumannya. Gelaknya berderai memekakkan suasana di pemakaman itu. Seperti, seseorang tengah menggoda bayi mungil itu.
Apa kakakmu menemuimu, Sayang? Kalau iya, betapa cemburunya Papa kepadamu.~ Batin Toni mulai menampakkan senyumannya.
Jingga Fadhilah Husna...
Jadilah kamu seperti namamu, Sayang. Jingga, cahaya senja yang memiliki kemuliaan dan kebaikan di dalam dirimu.
Menjadi kebanggaan orang-orang yang sangat menyayangimu.
Jingga sesungguhnya, telah menampakkan sinarnya di senja itu. Lengkungan cakrawala di ufuk barat terlukis jelas. Mereka menyatu di langit yang tidak lagi banyak menampakkan warna putih kebiru-biruannya.
Toni menggendong bayi Jingganya, sedangkan Iffah, menggamit lengan Atoninya. Mereka benar-benar terlihat bahagia. Segala derita seakan terhapus dalam ingatan mereka, dan hanya meninggalkan bahagia.
Mereka tidak lupa, dan tidak ingin lupa. Karena mereka tahu, masa lalu itu bagai pelajaran bagi mereka.
"Terimakasih, Sayang..." Ucap Toni seraya menghentikan langkahnya.
"Terimakasih kembali, Sayang..." Sahut Iffah sembari menghadiahkan Antoninya dengan senyuman.
__ADS_1
Mereka sudah tidak perlu lagi membahas untuk apa terimakasih dan maaf jika terucap dari bibir salah satu dari mereka. Karena mereka tahu, dua kata itulah yang mempersatukan mereka dari awal.
Debaran yang sebelumnya terasa aneh bagi mereka, saat itu telah mampu beradaptasi dengan perasaan mereka masing-masing. Bahwa debaran itulah yang membuat mereka egois, tidak ingin melepaskan satu sama lainnya. Dan janji yang pernah mereka buat, juga merupakan sebagai penguat cinta mereka.
Mereka juga tidak akan dapat melangkah hingga ke jenjang keluarga bahagia, jika Allah tidak memberi mereka keluarga yang bijaksana. Ada Bobi, Chellin, Nenek dan Ghali serta keluarga Toni di desanya.
TAMAT.
.
.
.
Terimakasih untuk semua teman2 yang sudah berkenan mampir ke karya RADETSA.
Untuk saat ini, Radetsa tidak bisa umumin karya baru dulu ya. Tapi Radetsa akan usahakan secepatnya. Jangan Di unfav dulu...
SALAM SATU LAYAR
__ADS_1