
“Kamu tidak pernah mengertikah arti jatuh dalam cinta? Saat ini aku merasakannya…”
Tidak, tidak. Aku juga merasakannya saat ini jika kamu terus saja mengacuhkan aku, tidak mau mendengarkan penjelasanku. Dan terus saja bersembunyi dalam kamar berdinding kekecewaan itu.
Bukalah sedikit celah bagiku untuk masuk ke dalam relung hatimu, disana akan aku kabarkan tentang waktu dimana aku belum bertemu wanita secantik dirimu. Dengarlah, aku bahkan tidak pernah sesakit ini sebelumnya…
“Untuk apa lagi Anda datang kesini, Pak Antoni yang terhormat? Tidak cukupkah bagimu menyakiti perasaan kakakku? Aku fikir Anda begitu gagah dan bijak, sehingga dengan ringannya Anda bersedia menerima kakakku beserta kekurangannya.” Sikap Ghali kembali seperti semula terhadap Toni, garang dan tidak menyukai lelaki itu.
“Semuanya hanya karena cintaku yang salah pada masa itu Ghali… Saya mohon, izinkan saya bertemu dengan Iffah untuk sebentar saja. Saya benar-benar ingin memberitahukannya sebelum perempuan itu menceritakan yang
tidak-tidak kepada kakakmu, Ghali.” Toni terlihat memohon sambil mengatupkan kedua tangannya malam itu, di depan pintu rumah minimalis yang dihuni sepasang kakak beradik itu.
“Cinta yang salah? Apa sebenarnya yang ada dalam fikiran Anda, Pak?” Ghali terlihat begitu geram mendengar penjelasan Toni.
“Ghali, aku tau semuanya salah pada diriku. Aku bahkan tidak tau harus seperti apa menjelaskannya kepadamu. Intinya aku bersalah di masa itu. Tapi masa kini, cintaku tidak salah terhadap Iffah. Aku benar-benar tulus kepadanya.” Mata Toni tampak memerah, berkali-kali dia megusap kepalanya yang serasa ingin pecah menghadapi kegigihan Ghali untuk tidak mengizinkannya bertemu dengan Iffah.
Toni menjatuhkan dirinya di depan Ghali dan berlutut disana.
__ADS_1
“Saya minta maaf, Pak. Saya sudah terlanjur kecewa terhadap bapak. Bapak jangan pernah berharap lebih lagi dari saya, karena saya tidak ingin kakak saya kembali terluka dalam kehidupan barunya ini.” Ghali menutup
pintu rumah itu dan mengacuhkan Toni yang masih berlutut agar hatinya tidak luluh melihat kepedihan yang tergambar di raut wajah lelaki yang mengaku mencintai kakaknya.
“Ghaliii” Toni kembali berdiri hendak menahan pintu. Namun dia terlambat. Pintu itu telah terkunci rapat dari dalam. “Ghali… Buka pintunya, saya mohon…” Pinta Toni sembari menggedor pintu rumah itu berkali-kali.
“Iffaaaah, bukalah pintunya. Aku mohon, aku tau kamu mendengarnya. Iffaaah keluarlah...” Air mata lelaki itu tak lagi mampu terbendung. Teriakannya semakin lama semakin mengiba dan pada akhirnya tak terdengar sama sekali seiring kilat dan petir menyambar saling bersahutan.
*****
Namun teriakan Toni terus saja terdengar dari luar memanggil namanya.
“Tidak, aku tidak ingin luluh mendengar suaranya. Dia lelaki kaya, sedangkan aku hanya sekretarisnya. Aku juga tidak secantik Kamelia, mana mungkin dia akan jatuh cinta semudah itu kepadaku? Dan dia hanya lelaki bejat
yang pernah merusak perempuan yang dicintainya, tidak mustahil bukan? Jika apapun cerita perempuan itu sebuah kebenaran tentang siapa Antoni sebenarnya.” Iffah merengut menahan sakit yang dirasakan hatinya saat itu.
Panggilan Toni semakin lama semakin sayup terdengar, dan lama kelamaan menghilang seiring hujan deras menimpa atap rumahnya.
__ADS_1
“Apa dia sudah pulang?.” Bisik Iffah seraya bangkit dan memprtajam pendengarannya ke pintu kamarnya itu. “Apa yang aku harapkan? Dirinya akan terus berusaha meyakinkanku dan berteriak di luar sana? Huh, yang benar saja? Siapa aku?” Iffah berkata-kata dengan sendirinya. Namun dia tidak menyadari ucapannya adalah kenyataan sebenarnya yang dia harapkan saat itu dari Toni.
Iffah meremas dada kirinya dengan tangan kanannya, rasa sakit begitu menghujam dari setiap ritme yang tercipta oleh rintik-rintik hujan pada bagian organ jantungnya.
Dia begitu kesal dengan perasaannya sendiri. Dia begitu yakin saat itu Toni menganggap sepele perasaannya sehingga Toni diam dan hanya membujuknya dengan sebentaran saja.
Iffah kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dan berkelimun di dalam selimutnya. Dia berusaha memejamkan matanya dan terlelap pada waktu yang dia sendiri tidak tahu kapan dia mulai menemui mimpinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1