TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
CINTA DI WAKTU SHUBUH


__ADS_3

Awalnya mereka tidak ingin tidur sepejam pun, namun pada akhirnya mereka sama-sama tertidur dengan saling berpelukan satu sama lain.


Cinta mereka mengantarkan diri mereka pada satu tujuan, meskipun harus melewati berbagai jalanan yang penuh dengan rintangan. Tirai masa lalu mereka begitu tipis, sehingga seringkali mereka diterpa banyak kesalah pahaman karenannya.


Namun satu yang mereka percaya. Taqdir. Ya, taqdir yang membuat mereka percaya bahwa kekuatan cinta mereka begitu kuat untuk menyatukan mereka kembali setelah keraguan menyelinap masuk ke hati mereka.


Sepanjang malam mereka tertidur saling memeluk satu sama lain, berdendang deru nafas mereka satu sama lain. Tidur sesungguhnya yang sudah lama tidak dirasakan Iffah.


*****


Adzan Shubuh membangunkan Iffah dan Toni dari tidur nyenyak mereka.


“Selamat pagi istri cantikku…” Sapa Toni ketika mendapati mata Iffah mulai terbuka. Iffah sedikit menggeliat sehingga membuatnya malu sesaat.


“Hmm… Pagi suami tampanku.” Balas Iffah seraya mencoba menatap wajah teduh milik suaminya itu.


“Apa tidurmu nyenyak malam ini?” Tanya Toni sambil mengelus lembut pipi Iffah yang memerah.


“Nyenyak sekali…” Jawabnya seraya tersenyum. Toni mengecup kening Iffah dengan begitu lembut dan terasa dalam oleh Iffah. “Setiap kali aku mengingatnya, aku akan terus berterima kasih kepadamu…” Ucap Iffah lirih,


matanya kembali berkaca-kaca menatap mata sipit Toni.

__ADS_1


“Berterimakasih untuk apa?” Toni membelai lembut kepala Iffah.


“Terimakasih karena tetap hidup. Meski demi apa pun, aku tetap berterima kasih.” Suara Iffah terdengar memarau.


“Terimakasih juga sudah tetap menungguku, Sayang…” Ucap Toni yang membuat pipi Iffah semakin memerah semerah tomat. Untuk pertama kalinya dia mendengar Toni memanggilnya sayang seperti itu. “Kenapa merah ini?” Tanya Toni seraya menunjuk pipi Iffah dengan telunjuknya.


“M-m masak iya?” Iffah semakin gugup karenanya.


Toni menyahuti dengan anggukan kepalanya.


“M m m e entahlah…” Iffah segera bangkit dari tempat pembaringan itu.


“Sayang…” Panggil Toni lagi dengan niat menggoda istrinya itu.


“Tidakkah kamu mau membantuku juga, sayang…” Seru Toni lagi semakkin menggoda istrinya itu. Iffah kembali hendak membantu Toni bangkit dari sana. “Kenapa kamu gugup seperti itu? Kamu tidak suka mendengar aku memanggimu sayang?”


“A a aku suka… Hanya saja aku malu.” Iffah menundukkan wajahnya, menyembunyikan pipinyja yang memerah saat itu dari tatapan Toni.


“Mulai dari hari ini, aku akan terus panggil kamu sayang. Dan kamu akan terbiasa, sehingga kamu tidak akan malu lagi nantinya.” Ujar Toni sambil tersenyum manis. Dia mengangkat dagu Iffah dan menghadapkan wajah istrinya itu ke wajahnya.


“Sudah, ayo sholat shubuh. Nanti shubuhnya di patok ayam lagi.” Rengut Iffah berusaha menghindar dari Toni yang tidak habis-habis menggoda dirinya.

__ADS_1


“Shubuh juga dipatok ayam juga istilahnya, ya? Tidak rezeki saja?”  Toni tampak kebingungan.


“Iiiih terserah apa pun istilahnya, nanti waktu shubuh habis… Kamu ini, keasyikan menggodaku.” Rungut Iffah seraya membopong tubuh Toni ke kamar mandi ruangan itu.


Toni dibuat terkekeh oleh tingkah istrinya yang terlihat begitu lucu di matanya.


Waktu shubuh menjadi saksi bagi cinta mereka, betapa bahagianya mereka saling memiliki satu sama lain.


Seusai shalat shubuh, Iffah menciumi punggung tangan Toni. Sedangkan Toni menyambut kening Iffah dengan kecupannya. Membuat mereka saling memaafkan untuk kesalahan di hari-hari sebelumnya, membuat dada mereka terus merasakan debaran setiap detiknya. Dan mengikat hati mereka dengan sucinya cinta mereka. Karena sentuhan seperti itulah yang membuat mereka-mereka bertahan dalam satu ikatan cinta, tanpa terus memikirkan hawa nafsu semata.


Iffah dan Toni juga tidak melupakan satu kebiasaan mereka, berpacu dalam irama, menyegarkan hati dan kepala mereka, serta membersihkan lidah dan telinga mereka dengan lantunan beberapa ayat dari sebaris, dua baris surat


dalam kitab suci Al-Qur’an.


Dan itu hal kecil yang membuat mereka bahagia dan sempat terjeda dalam waktu yang cukup panjang bagi Iffah. Dan begitulah cara mereka memberikan persembahan kepada Sang Pemilik Kasih yang sesungguhnya, Ar-Rahman.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2