
Kemil benar, aku harus segera memberitahukan semuanya kepada Iffah. Meski dia saat itu berada di tengah-tengah acara yang berlangsung, namun pikirannya tetap kepada ucapan Kemil yang memintanya untuk segera jujur kepada Iffah.
Toni merogoh kantong celananya dan mengeluarkan benda pipih yang begitu penting baginya dari dalam kantong celananya itu.
Meski duduk di deretan yang sejajar dengannya, tapi dia tidak dapat melirik gadis pujaan hatinya itu. Jarak ujung ke ujung memisahkan mereka berdua.
Sedari tadi, tangannya begitu kuat memangku Milka yang sudah mulai terlelap di atas pangkuannya di tengah kebisingan acara peresmian Villa yang di kelola perusahaannya itu.
*****
Desa kelahiran Toni tampak begitu bewarana hari itu. Acara demi acara terus berlangsung dengan khidmad. Tarian-tarian tradisional entah berapa kali sejak tadi di tampilkan oleh pelajar-pelajar yang begitu aktif. Sambutan demi sambutan dari beberapa orang penting juga telah mereka dengarkan secara bersama-sama.
Beberapa klien Toni dan klien Kemil juga tampak hadir menyaksikan peresmian Villa bak hotel disana. Mereka sangat memuji kekompakan dan kerja sama warga desa disana demi mewujudkan kemajuan desa mereka. Mereka
bahkan memperoleh keuntunga yang sesuai atas kerja sama yang telah mereka lakukan beberapa hari itu.
Tidak hanya pemandangan indah perkebunan teh yang dimiliki oleh desa itu, tetapi keelokan dan kebersihan desanya begitu terjaga. Meski beriring waktu, zaman mengubah banyak tata letak bangunan-bangunan kecil maupun besar milik pribadi maupun umum di desa tempat Toni dibesarkan itu namun desa mereka tetaplah desa yang asri dan indah.
Di kursi tamu paling depan, Kamelia dan Iffah sesekali bercerita dengan akrabnya sambil memerhatikan acara demi acara yang berlangsung di depan mereka. Sekali-kali juga tawa kecil mereka tampak menghiasi wajah mereka yang cantik dengan kadar kecantikan yang berbeda pula satu sama lainnya.
__ADS_1
“Kamu sudah lama mengenal sepupu suamimu itu?.” Iffah bertanya dengan sedikit ragu.
Kamelia terdiam sesaat. Jika tidak mengingat perempuan itu menyukai Toni, mungkin dia akan enggan untuk menjawabnya. “Sedari kami SMA, aku dan Toni satu sekolah dulunya.”
“Hmmm, begitu. Pantas saja Milka memanggilinya papa,” Kamelia ternganga mendengar penuturan Iffah. “Ternyata tidak hanya ayah Milka sepupu Antoni, tetapi ibunya Milka ini teman Antoni juga rupanya.” Iffah tersenyum dengan pemikirannya sendiri, namun Kamelia tetap hanya diam karena ucapan Iffah yang bukanlah sebenarnya alasan mengapa putrinya itu memanggili Toni dengan sebutan papa.
“Bukankah begitu, Kamel?.” Tanya Iffah membenarkan pernyataannya.
“Hmmh.” Kamelia hanya menampilkan senyuman terpaksa di bibirnya tanpa membenarkan atau menyalahkan ucapan Iffah.
Jadi dia belum tau cerita tentang Milka dan Toni yang sebenarnya?. ~ Tanpa mereka sadari, seorang perempuan yang duduk di leretan mereka dengan memakai selendang dan menutupi sebagian wajahnya mendengarkan pembicaraan mereka sedari tadi.
Ponsel Iffah berdering memberitahukan ada pesan masuk melalui WhatsApnya.
Jika kamu berkenan.” Balas Iffah singkat. Dia tampak membentuk lengkungan tipis dengan bibir yang ada di wajahnya yang terlihat ayu bewarna kuning langsat itu.
Tunggu aku di pelataran belakang rumah. Kamu tau jalannya, bukan?. Sebelum aku datang, kamu bisa menikmati cakrawala yang indah disana.” Pesan Toni lagi.
Baiklah, aku akan menunggumu.” Setelah mengirimi balasan, Iffah kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas jinjingnya.
__ADS_1
“Toni memintaku menunggunya di pelataran belakang rumahnya, Kamel. Menurutmu, tidak mengapakah?.” Tanyanya sedikit ragu.
“Jika kamu ragu karena disana kalian hanya akan berdua saja, kamu tidak usah khawatir. Di bagian bawah padang itu ramai kok. Sekarang sudah banyak yang suka bermain disana.” Ujar Kamelia menghapus keraguan Iffah.
“Kamel, terimakasih ya.” Iffah menatap Kamelia sambil tersenyum.
“Terimakasih untuk apa?.” Kamelia tampak kebingungan mengartikan pandangan perempuan berhijab di sampingnya itu.
“Terimakasih sudah menjadi teman untukku selama disini. Sehari begitu singkat untukku.” Jawab Iffah dengan begitu tulus.
“Aku juga senang bisa mengenalmu, lain kali aku berharap agar kamu kembali berkunjung.” Timpal Kamelia.
“Insya Allah Kamel. Ini menyenangkan ketika memiliki teman sebaik kamu.” Bisik Iffah di tengah kebisingan acara yang hampir selesai siang itu.
.
.
.
__ADS_1
.
.