
Cantikku, Asalamu'alaikum..."~ Toni mengirimkan pesan singkat kepada istrinya yang hanya berada di meja kerja sekretaris di luar ruangannya.
Wa'alaikumussalam... Iya suami tampanku."~ Balas Iffah sambil cengar-cengir di meja kerjanya.
Aku merindukanmu..."~ Tonipun terlihat sama, dia begitu senang Iffah memanggilnya begitu.
Kita cuma berjarak beberapa meter begini, kamu sudah merindukanku saja?" ~ Celutuk Iffah.
Memangnya kamu tidak?" ~ Toni.
Hehe... Jangan ditanya. Seperti halnya kamu merindukan aku, seperti itu juga aku merindukanmu."~ Iffah.
Sebentar lagi waktunya makan siang, tunggu aku."~ Toni.
Oke..." ~ Iffah.
Sedari pagi, semua staff dan karyawan perusahaan itu beramai-ramai mengucapkan selamat kepada Iffah atas pernikahannya dengan direktur perusahaan itu.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menggoda Iffah.
Iffah jadi merasa sedikit berat menjalaninya dari beberapa jam yang lalu. Ditambah lagi keinginan Toni yang mengajaknya untuk makan siang bersama nantinya.
Iffah memejamkan matanya dan menggeleng seketika, benaknya dipenuhi guyonan-guyonan teman kerjanya nanti setelah itu.
Ah, tenang Iffah... Ini hanya untuk sementara, nanti mereka akan terbiasa melihatmu bersama Antoni~ Gumam Iffah menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Berbeda dengan Toni, sedari tadi dia sibuk melirik kearah jam tangannya berharap waktu cepat berlalu kali itu.
*****
Masih dengan perasaan yang sama, Iffah merasakan debaran di dalam dadanya ketika pintu ruang kerja Toni terbuka dari dalam.
Dengan malu, dia menoleh kearah Toni yang sudah berdiri di ambang pintu itu hendak menghampirinya.
Toni melayangkan senyumannya kepada perempuan halalnya itu. "Ayo..." Ajak Toni seraya mengulurkan tangannya ke depan Iffah.
Iffah membalas senyuman manis suaminya itu seraya meraih tangan Toni. Dia tidak melupakan mukenah parasutnya yang selalu dibawanya kemanapun.
Ya, sebelum makan siang, mereka selalu menunaikan kewajiban mereka terlebih dahulu kepada Dia yang telah mentaqdirkan hubungan mereka berdua, bahkan dari sebelum mereka menikah. Tapi mulai hari itu, mereka akan selalu bersama.
Iffah terlihat risih dan malu terhadap godaan mereka tanpa sepengetahuan Toni, ditambah lagi Toni tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya terhadap Iffah.
"Kamu malu bergandengan tangan dengan suamimu sendiri?" Bisik Toni ke telinga Iffah.
Pipi Iffah memerah seketika. Bukanlah hal yang sebenarnya tuduhan Toni, tapi memang saat itu dia malu karena teman-teman kerjanya masih saja menggodanya sedari pagi.
"Hey... Aku bertanya." Toni kembali berbisik ke telinga Iffah karena tak mendapatkan jawaban dari istrinya itu.
"Kenapa aku malu? Kamu kan suami aku, Pak Antoni." Ujar Iffah sedikit menekankan suaranya.
"Jangan panggil aku, Pak." Pinta Toni sedikit ketus.
__ADS_1
"Ini kan masih jam kantor, Pak." Iffah tidak memerdulikan raut wajah suaminya yang tidak senang dengan panggilan dirinya untuk atasan sekaligus suamunya itu.
"Tapi ini kan jam istirahat." Elak Toni semakin ketus. "Panggil aku sayang, atau tidak... Suami tampanku tadi juga boleh." Goda Toni menahan tawanya.
Iffah segera mendaratkan satu cubitan di pinggang Toni sehingga lelaki itu sedikit meringis karenanya.
"Kamu malu?" Tanya Toni semakin menggoda Iffah karena dia menemui pipi Iffah memerah seketika.
"Sedikit..." Sahut Iffah sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Kalau sedikit kenapa wajahnya ditutupi begitu?" Koridor yang mulai sepi terdengar berisik oleh suara mereka berdua.
"Ah sudahlah, ayo kita shalat. Aku juga sudah mulai lapar." Seru Iffah segera mendahului Toni yang masih berniat hendak menggodanya. Toni hanya tertawa melihat tingkah istrinya yang begitu lucu di matanya.
^^^
Mereka telah menyelesaikan shalat zuhur pada siang itu.
Toni mengajak Iffah untuk makan siang di kafe pertama kali dirinya mengamati Iffah kala itu.
Dan itu pun merupakan makan siang pertama mereka berdua. Bahkan sebelum menikahpun mereka tidak pernah melakukannya.
Mereka terlihat begitu bahagia untuk hari pertama mereka selalu bergandengan tangan kemanapun.
Meski Iffah malu-malu, tapi dia tidak pernah bersikap jauh dari Toni. Dia lebih memilih mengungkapkan malunya 'sedikit' ketika ditanyai suaminya itu.
__ADS_1