
Apa kamu sudah siap?” Sebuah notifikasi pesan masuk dari Toni terlihat di layar ponsel Iffah.
Insya Allah, aku akan selalu siap. Bantu aku agar bisa menjadi makmum yang baik, aku ingin ke surga bersamamu. Dan jangan lepaskan tanganku apabila aku memilih jalan yang salah di kemudian hari.” Iffah begitu
berani menyampaikan semua keinginan hatinya saat itu, meski hanya melalui sebuah pesan.
Untuk itu, aku akan berusaha semampuku. Dan jangan pernah sungkan menegur imammu kelak, apabila dia berada di jalan yang salah.” Balasan dari Toni membuatnya tersenyum-senyum sendiri.
Gaun bewarna putih yang dilapisi full payet membaluti tubuh Iffah. Sedari tadi dia tidak berhenti menatap wajahnya di pantulan cermin meja rias kamarnya itu sambil sesekali memerhatikan layar ponselnya.
Sudah dua kali Ghali melihat kakak secantik ini, menikah dengan lelaki yang teramat kakak cintai. Dan ini, untuk kedua kalinya Ghali akan menjadi wali nikahnya kak Iffah.
Maafkan Ghali yang belum sanggup untuk mengungkapkan semuanya kepada kakak.
“Ahem… Ahem…” Ghali keluar dari persembunyiannya di balik pintu kamar Iffah sembari berdehem menggoda kakaknya itu. “Cieee yang mau nikah, sedari tadi Cuma sibuk bercermin saja. Kakak sudah cantik, bahkan sangat
cantik malah.” Ujar Ghali seraya memeluk kakaknya itu dari belakang. Iffah hanya tersenyum sembari menatap wajah adiknya yang terlihat jelas di pantulan cermin.
“Kakak…” Panggil Ghali lirih.
“Hmm.” Iffah menyahuti dengan singkat panggilan Ghali yang berada di ceruk lehernya.
__ADS_1
“Do’akan Ghali biar dapat perempuan seperti kakak, ya.” Pintanya benar-benar berharap.
“Iya, sayang. Kakak akan selalu do’ain kamu.” Iffah memegangi pipi Ghali dengan lembut.
“Oh iya, kak. Sebutkan satu keinginan kakak kepada Ghali sebelum kakak menikah dengan Pak Antoni yang tampan sejagat itu. Niscaya, Ghali akan mengabulkannya. Insya Allah.”
“Apa Cuma satu?.” Sungut Iffah seakan meminta lebih.
“Lalu, kak Iffah maunya berapa?.” Tanya Ghali kemudian sambil melepaskan Iffah dari pelukannya.
“Biasanyakan Tiga, dek.” Seru Iffah.
“Itu loh, Jinnya lampu ajaib.” Iffah berusaha mengingatkan Ghali kepada sosok Jin yang ada di dalam lampu ajaibnya Aladin di cerita dongeng pengantar tidur.
“Oh… Nah itu yang membedakan adik kakak ini dengan Jin. Sudah, cepat katakan, sebelum Ghali berubah pikiran.” Perintahnya setengah mengancam.
“Iya, iya… Sini, duduklah…” Iffah menarik lengan Ghali untuk duduk di sampingnya. “Kakak sungguh tidak mengharapkan apa-apa dari kamu, dek. Tapi kakak berharap kamu akan menjadi lebih dewasa lagi, dan berbahagia selalu. Itu sudah pemberian yang lebih dari cukup untuk kakak.” Ujarnya seraya mengenggam tangan Ghali.
“Jika Ghali boleh meminta juga, Ghali akan meminta hal yang sama kepada kakak. Ghali berharap, ketika kakak di terpa dua pilihan yang sulit, kakak akan bersikap dewasa dalam menentukan pilihan yang terbaik.” Ghali menepiskan senyumannya kearah Iffah.
“Hahhhh, kakakku akan menikah dengan pujaan hatinya. Aku akan banyak melalui hari-hari yang sulit pastinya, setelah ini.” Keluh Ghali seraya menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
__ADS_1
“Apa akan seperti itu?. Haruskah kakak batalkan pernikahan ini?.” Goda Iffah mengiba.
“Aha, ha… Jangan, jangan… Kala itu Pak Antoni hanya nekat hujan-hujanan di depan pintu rumah untuk menunggu kata maaf saja dari kakak. Tapi untuk kala ini, Ghali khawatirnya Pak Antoni akan lompat dari jurang jika kakak berpikir untuk meninggalkannya lagi. Apa kak Iffah mau?.” Ghali terlihat menakut-nakuti Iffah dengan tingkah kekanak-kanakannya.
“Ih, kamu apaan sih, Ghali. Kok bicara sembarangan gitu. Tidak mungkin juga Pak Antoni akan melakukan hal serendah itu. Memangnya siapa kakak?.” Meski tidak yakin, namun Iffah terlihat tengah membayangkan apa yang di ucapkan adiknya itu.
“Hehehe, Ghali hanya bercanda kakak.” Ghali menyeringai melihat reaksi kakaknya yang termakan oleh ucapannya.
“Tetap saja, itu suatu hal yang sangat mengerikan bagi kakak, Ghali. Yaa Allah, jangan sampai.” Iffah menggelengkan kepalanya, dia bergidik ngeri membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi kepada Toni.
“Kak, sepertinya mobil jemputan kita sudah datang. Ayo kita pergi.” Ghali bangkit dari duduknya, dan kemudian membantu Iffah berjalan menuju keluar rumah tempat mobil yang dikirim Toni terparkir.
.
.
.
.
.
__ADS_1