TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
ADA APA?


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke rumahnya, Iffah tak sekalipun mengeluarkan suaranya.


Entah mengapa, saat itu dia lebih ingin tertidur di dalam mobil yang membawanya bersama Toni hingga dia menemukan jawaban dari segala gundahnya.


Kata-kata yang di ucapkan wanita paruh baya tadi terus saja menghantui pikirannya. Dia hanya mampu menitikkan air matanya saat itu.


"Iffah, ada apa? Apa sebuah kesalahan bagiku membawamu ke pemakaman Arjuna?" Toni merasa panik dan begitu menyalahkan dirinya sendiri.


Dia selalu percaya bahwa itu semua adalah kesalahannya.


Tapi ada apa?~ Toni terus bertanya, hingga pertanyaan itu tetaplah menjadi benalu di dalam benaknya.


"Aku hanya ingin cepat sampai di rumah, Antoni. Itu saja yang aku inginkan saat ini." Ungkap Iffah di sela-sela isak tangisnya.


"Apa kamu tidak lapar? Bahkan sedari tadi kamu belum makan." Tanya Toni berusaha membuat Iffah lupa barang sejenak tentang apa yang membuat istri cantiknya menangis saat itu.


Iffah menggeleng. "Aku tidak lapar, Antoni. Bisakah kita sampai ke rumah dengan segera?." Tanya Iffah lagi seraya menatap sendu penuh permohonan kepada suaminya itu.


Toni memperhatikan wajah Iffah yang sedikit menyembab, mata merah dan masih menelaga yang siap membanjiri pipi tembamnya itu.


"Akan aku usahain, ya. Kamu tenang, dan jangan menangis lagi. Aku mohon..." Pinta Toni lirih. Sesekali dia tetap fokus kepada kemudinya.


Iffah mengusap kasar pipinya seraya mengangguk, namun air matanya terus bergulir meski dia telah berusaha menahan kesedihannya saat itu.


Toni mengambil tangan kanan Iffah dengan tangan kirinya. Dia mengusap lembut punggung tangan istrinya itu.

__ADS_1


Perlahan, Iffah merasakan kenyamanan dari usapan lembut jemari Toni. Dia mulai terkantuk dan memejamkan matanya yang terasa perih saat itu.


Apa perempuan tadi mengenal Iffah dan mengetahui semua yang terjadi? ~ Batin Toni.


Toni kembali menormalkan laju mobilnya ketika dia rasa Iffah benar-benar telah terlelap saat itu.


*****


Toni dan Iffah akhirnya sampai di kediaman mereka.


Toni terus saja menatap istrinya yang masih terlelap di bangku sampingnya saat itu. Dia sama sekali tidak berniat hendak membangunkan Iffah yang terlihat kelelahan seharian.


Apa yang membuatmu seterluka ini? Kenapa kamu seakan tidak ingin membicarakannya kepadaku? Apa artinya aku di hidupmu?~ Toni terus saja menatap sendu ke wajah Iffah yang begitu tenang dalam tidurnya.


"Iya, aku disini." Sahut Toni segera. Dia terlihat begitu senang ketika Iffah menyebut namanya.


Toni mengelus lembut pipi Iffah dan mengecup lembut dahi lebar Iffah. Bagian yang sangat disukainya itu.


Perlahan-lahan, Iffah membuka matanya yang tambah menyembab. "Kita sudah sampai?" Tanyanya seraya mendongakkan kepalanya dan memerhatikan kearah sekelilingnya.


"Sudah, baru saja." Toni sedikit berbohong. Dia memang sengaja tidak ingin membangunkan Iffah sedari tadi.


"Oh, ya sudah. Aku turun, ya." Seru Iffah segera membuka pintu sampingnya.


Baru saja Toni hendak mencegahnya, Iffah telah meloncat terlebih dahulu dan berlarian ke dalam rumah mewah yang belum berapa lama ditungguinya itu.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum..." Serunya seraya terus berlarian masuk. Bahkan dia tidak menyadari keberadaan Bobi dan chellin yang tengah bersantai di ruang utama kala itu dan malahan sempat menyahuti salamnya.


"Assalamu'alaikum..." Toni yang terakhir masuk berusaha mengejar Iffah, namun dengan segera ditahan Bobi. Mereka merasa ada yang salah dengan sikap Iffah saat itu.


"Toni... Toni..." Panggil Bobi seraya berdiri mencegah langkah Toni.


"Eh. Pa, Ma... Maaf Toni terlalu fokus sama Iffah..." Ungkapnya gusar.


"Apa semua baik-baik saja, Nak?" Tanya Chellin ikut cemas.


"Sepertinya tidak untuk Iffah, Ma. Dan Toni tidak tau apa yang terjadi kepadanya sedari tadi ketika dia bertemu seseorang di kampungnya." Tutur Toni lirih. Wajahnya terlihat sendu saat itu.


"Apa mungkin Iffah sudah mengetahui cerita yang sebenarnya?" Terka Chellin, Toni menoleh kearah wanita yang dipanggilinya mama itu. Dia seakan merasakan ketakutan jika hal itu benar-benar terjadi.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2