
Cakrawala langit senja menampakkan wujudnya kala itu, senyuman kebahagian mereka di wajah Toni.
Dia begitu bersemangat melepas layangan kecil yang di anjung tinggi oleh Iffah. Mata sipit Milka tak henti memandangi layangan yang siapa diterbangkan papanya itu. Dia bersorak-sorai penuh kebahagiaan sambil menepuk-nepuk tangannya.
“Papa… Mil juga mau taik benangnya…” Pinta Milka berharap.
“Nanti ya sayang, kalau layangannya sudah tinggi. Kalau sekarang dia belum terlalu bisa terbang.” Larang Toni.
“Ooo begitu,” Meski dia menurut, tapi wajahnya tampak kecewa saat itu.
“Sini sayang, kita tungguin disini sampai layangnya terbang tinggi oleh papa.” Ajak Iffah sembari mengulurkan tangannya ke gadis mungil yang merupakan putri suaminya itu.
“Baik, mama.” Sahut Milka segera menyambut tangan Iffah dan berjalan mengikuti Iffah ke tempat yang sedikit teduh.
“Papaaa.” Seru Milka dari tempatnya sambil menutupi wajahnya dari paparan sinar matahari senja yang menyilaukan matanya ketika melihat kearah Toni yang berjarak sedikit jauh darinya saat itu.
“Iya sayaaang…” Toni menyahuti seruan putrinya dengan sedikit berteriak pula.
“Semangat…” Serunya lagi sambil mengangkat kepalan tangannya yang kecil ke dadanya. Dia duduk di atas pangkuan Iffah yang bersila di padang rumput itu.
“Iya, Nak. Ini sudah mau tinggi. Kamu sabar ya, sayang.” Balas Toni dengan sedikit nafas yang terengah engah.
Yaa Allah… Siapapun yang menyaksikan mereka bertiga, maka akan jelas bahwa mereka benar-benar terlihat bahagia kala itu.
Jika di masa lalu aku tidak melakukan kesalahan, mungkin aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang menyakitkan seperti ini.
Aku memiliki putriku, tapi aku tidak bisa bersamanya di setiap waktu. Tapi aku bersyukur dan juga berterimakasih kepada Kamelia karena telah berani melahirkan anak dari lelaki yang begitu di bencinya kala itu. Dan lelaki itu adalah aku, lelaki yang telah menodainya dengan sengaja.
Dan aku juga tidak bisa serakah untuk putriku sendiri, karena ada Kemil yang juga menyayanginya dan membantuku agar bisa tetap mengunjungi Milkaku.
“Papaaaa… Sini, Mil sudah ingin main.” Seru Milka lagi tidak sabaran.
“Iya sayang… Tunggu disana ya sama Mama.” Sahut Toni seraya mendekat kearah Milka dan Iffah.
“Sudah boleh, Pa?” Tanyanya begitu antusias.
__ADS_1
“Sudah sayang, tapi Milka bagian yang di bawahnya ya. Bagian yang diatasnjya biar papa. Nanti tangan Mika luka karena benangnya.” Bujuk Toni seraya mengulurkan benang yang terurai dari tanngannya.
“Ooo begitu…” Jawab Milka seraya meraih benang yang di urai Toni.
Mereka bertiga berdiri menghadap ke langit, dimana layang-layang mereka terbang dengan begitu tinggi menembus cahaya jingga di langit sore itu.
Toni tersenyum penuh ketulusan terhadap Iffah yang berdiri di hadapannya saat itu, lalu mengecup dahi Iffah yang sejajar dengan bibirnya saat itu.
“Mil tidak lihat kok, pa…” Ungkap Milka sambil menutup matanya dengan jemarinya yang merenggang.
“Hehehe…” Toni menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari menyeringai. Sedang Iffah tampak malu karenanya.
“Untuk Milka juga deh kalau gitu.” Ujar Toni seraya membungkukkan badannya untuk mengecup kepala Milka kecilnya.
“Aku boleh coba?” Tanya Iffah masih dengan malu.
“Memang bisa?” Tanya Toni sedikit ragu.
“Makanya aku ingin coba…” Pinta Iffah lagi.
“Boleh dong Pa.” Sahut Milka.
“Kalau gitu Milka lepas dulu ya, sayang. Anginnya kencang sekali di atas sana. Nanti tangan kamu terluka, Nak” Bujuk Toni kepada Milka kecilnya.
“Oke papa…” Milka melepaskan benang yang sedari tadi di peganginya.
“Terimakasih sayang..” ucap Iffah dengan tersenyum lembut kepada Milka.
“Sama-sama, Mama.”
“Hati-hati…” Pesan Toni ketika memberikan benangnya dengan pelan ke tangan Iffah.
Iffah terlihat begitu senang memainkan layangan yang dipeganginya itu.
“Loh… Loh… Loh… Kok tarikannya jadi kuat gini… Antoniiii” Seru Iffah seraya melepas benang layangan yang sudah melukai jari telunjuknya.
__ADS_1
Toni dengan segera meraih tangan Iffah dan refleks mengisap jari istrinya yang terluka. Iffah memandangi wajah suaminya yang tampak begitu mengkhawatirkan dirinya. Debaran itu kembali datang dan memberikan kehangatan
untuk dirinya. Matanya tampak berkaca-kaca melihat tulusnya cinta Toni terhadapnya.
“Ka ka kamu menangis? Apa begitu sakit?” Tanya Toni gugup seraya melepaskan tangan Iffah yang baru di turunkannya.
Iffah menggeleng pelan. Dia mengusap cairan bening yang begitu nakal dan lolos saja dari matanya.
“Lalu kenapa menangis?” Tanya Toni semakin khawatir.
“Tidak, aku hanya Khawatir saja.” Jawabnya berbohong.
“Papa, kenapa tangan mama papa isap? Sama dengan ayah, jika tangan ibu terluka, maka ayah akan mengisapnya.” Tanyja Milka yang terlihat kebingungan.
Toni menjatuhkan dirinya di hadapan Milka, dan memegangi bahu gadis itu.
“Itu hanya pertolongan pertama sayang. Untuk menghilangkan darah dan meredakan perihnya saja. Nanti kalau sudah sampai rumah, jari mama baru dikasih hansaplas.” Tutur Toni mengurangi kebingungan di wajah putrinya.
“Ooo begituuu” Milka mangut-mangut. “Papa, lihat. Layangan kita jadi jatuh… sudah tidak ada lagi” Teriaknya histeris.
“Waaah, yaa ampuun. Maafin mama sayang… Ini gara-gara mama.” Iffah tampak merasa bersalah karenanya.
“Hadeuh” Milka menepuk jidatnya. Dan itu membuat Toni tertawa karenanya.
“Besok-besok kita mainnya lagi ya, sayang. Udah mau malam.” Bujuk Toni.
“Oke papaa.” Milka menurut dan bergelayut di lengan papa dan Iffah.
.
.
.
.
__ADS_1
.