TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MENCERITAKAN


__ADS_3

"Ghaliii..." Iffah datang seraya menyerukan nama adiknya. Dia terus berlarian masuk ke dalam kamar Ghali yang kebetulan saat itu tidak terkunci.


Ghali yang mulanya tengah berbaring sambil mengotak-atik ponselnya langsung saja bangkit ketika pintu kamarnya dibuka secara kasar oleh Iffah.


"Kakak... Mengagetkanku saja..." Celutuknya tanpa melihat situasi pada raut wajah Iffah.


Iffah terus mendekati Ghali dan menarik lengan adiknya untuk berdiri menghadap kearahnya.


"Kak Iffah, ada apa?" Ghali terperangah. Dia baru menyadari kondisi kakaknya sedang tidak baik-baik saja saat itu.


"Katakan dengan jujur kepada kakak, dimana Ibu?" Tekan Iffah dengan suara datar.


"Em... m... I, I, Ibu... Ibu..." Ghali gugup. Sesuatu hal yang tiba-tiba dan tak terduga, Iffah menanyakan keberadaan ibunya kembali setelah sekian lama.


"Ghaliiii..." Iffah mulai meninggikan nada suaranya. Wajahnya mulai tampak garang dan berapi-api. Dia terlihat begitu tidak sabar menantikan jawaban dari Ghali.


"I-ibu, Ghali tidak tau Kak..." Jawab Ghali cepat.


"Kamu tidak usah bohong kepada kakak." Iffah seakan tidak percaya dengan jawaban Ghali.


"Ghali benar-benar tidak tau kak." Sentak Ghali.


"Lalu kenapa kamu tidak pernah cerita sama kakak apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu?" Iffah semakin memanas. Matanya mulai menampakkan cairan bening kembali setelah baru saja kering.


"Bukankah lebih baik jika kakak tidak tau semua itu? Itu masa lalu kakak yang buruk, Kak. Dan Kakak tidak perlu mengenangnya lagi. Sekarang kakak sudah memiliki semuanya." Ujar Ghali tak kalah garang.


"Itu tidak benar Ghali. Itu salah, kamu sama saja menyembunyikan kejahatan ibu kamu sendiri." Tutur Iffah, dia terlihat menggigil. Matanya memerah menampakkan kekecewaan terhadap bungkamnya Ghali.


"Dia perempuan jahat, dan Ghali anak dari perempuan jahat itu, kak." Ketus Ghali. Sebuah penyesalan terlukis jelas di raut wajahnya.


Dia seakan ingin membenci, namun tidak bisa untuk membenci.


Iffah terdiam mendengar ucapan Ghali. Tidak dapat disangkalnya, dia sendiripun tidak akan bisa berbuat apa-apa saat itu.

__ADS_1


"Ghali sayang sama kakak, tapi bukan berarti Ghali sanggup melihat ibu Ghali harus masuk penjara, Kak. Maka dari itu Ghali biarkan ibu pergi. Tapi Ghali juga tidak ingin mencarinya lagi." Ghali menjatuhkan dirinya di depan Iffah. Dia meraih tangan kanan Iffah seakan berlutut di kaki kakaknya itu.


"Bukankah kakak sendiri yang bilang, dia juga ibu kakak, meskipun Ibu tidak pernah menunjukkan rasa sukanya kepada kakak walau hanya sekali pun, kecuali di samping ayah." Ghali terisak dan tidak berani menatap wajah Iffah.


Iffah meraih bahu Ghali, dan kemudian mengangkatnya dengan perlahan.


"Sekarang, ceritakan kepada kakak apa yang telah diperbuat ibu kepada Arjuna." Pinta Iffah dengan sangat.


Dia berusaha tegar dalam rapuhnya.Meski tidak siap, namun dia tetap gigih ingin mendengar cerita yang sebenarnya dari Ghali.


"Ghali minta maaf kak, Ghali..."


"Ghali... Kakak mohon." Potong Iffah cepat. Dia tau, bukan hanya dirinya. Tapi bagi Ghali sangatlah berat untuk menceritakan itu semua kepadanya.


Ghali mengambil posisi duduk di tepi tempat tidurnya, pikirannya kembali ke masa sebelum Iffah dan Arjuna mengalami kecelakaan kala itu. Berkali-kali dia mengedipkan matanya, agar cairan bening yang menggenang di pelupuk matanya itu tidak tumpah.


*****


"Ridaaaa..."


Seorang wanita paruh baya begitu terkejut ketika namanya dipanggil seseorang dengan begitu keras.


"Apa yang telah kamu lakukan, hah? Kali ini kamu benar-benar sudah keterlaluan. Tidak cukup selama ini kamu telah menyusahkan anak tirimu?" Maki seorang wanita tua kepadanya.


"Apa yang terjadi, Nek?" Tiba-tiba Ghali datang menghampiri mereka yang terdengar ribut-ribut dari belakang rumah sederhana milik ayah Iffah.


"Ibu kamu telah mencampur obat tidur pada makanan yang dimakan Arjuna sebelum berangkat tadi, Nenek khawatir terjadi sesuatu kepada kakakmu dan suaminya saat ini, Ghali." Tutur wanita tua yang dipanggilnya Nenek.


"Ibu...." Ghali mencenggkram tangan ibunya. "Apa benar itu semua, Bu?." Ghali menatap garang kepada Rida, Ibu kandungnya sendiri.


Rida terlihat gugup, dia menyentakkan tangannya yang di cengkram Ghali sekuat tenaganya hingga terlepas. Dia segera kabur dan melarikan diri dari sana.


Sebelum Ghali berniat mengejar ibunya, dia berusaha menghubungi nomor Iffah.

__ADS_1


Tut... Tut... Tut...


"Assalamu'alaikum Ghali..." Sapa Iffah.


"Wa'alaikumussalam, Kak Iffah ada dimana?" ~ Tanya Ghali dengan gusar.


"Kakak sekarang... (Arjuna, kamu kenapa? Arjuna... Kamu mengantuk? Hentikan mobilnya... Arjun... Arjun... Arjuna awaaaasss)" Ghali mendengar teriakan Iffah sebelum kecelakaan itu terjadi.


"Kak Iffah, hallo kak... Kak Iffah, semua baik-baik saja kan, Kak? Kak Iffaaah..." Berkali-kali Ghali memanggil kakaknya, namun sama sekali tidak ada jawaban meskipun telponnya belum terputus kala itu.


Ghali semakin panik. Saking paniknya, Ghali sampai menangis tersedu-sedu saat itu, benaknya membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepada kakak dan kakak iparnya.


Ya, Ghali memang sempat menghubungi Iffah sebelum kecelakaan itu terjadi. Namun sayang, dia terlambat sedikit saja.


"Apa yang terjadi Ghali?" Tanya nenek itu pun ikut panik.


"Ghali tidak tau, Nek." Ghali tertegun, pikiran-pikiran buruk menghantui dirinya saat itu.


Kemungkinan kakaknya celaka sangat besar, karena dia mendengar sendiri teriakan Iffah terakhir kalinya.


.


.


.


.


.


Silahkan komentar😁😁


mudah2an tidak kacau alurnya ya

__ADS_1


__ADS_2