TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
BERUNTUNGNYA HIDUP DI ZAMAN SEKARANG


__ADS_3

"Hmmm... Membosankan." Decak Iffah kembali merebahkan tubuhnya di sandaran tempat tidurnya itu dengan pelan.


Entah telah berapa buku yang dibacanya dalam empat bulanan itu.


Semenjak dia mengetahui kehamilannya, Toni benar-benar bersikap overprotektif terhadap dirinya.


Dia hanya akan di dalam kamar sepanjang hari, dan seorang diri setiap kali suaminya itu ke kantor. Beruntung saja jika Chellin berada di rumah, maka dia akan memiliki teman. Tapi Mama suaminya itu lebih sering menghabiskan waktu di LSM yang didirikan oleh Bobi di waktu muda dulunya.


Dan hari itu, Iffah sendiri. Segala keperluannya telah berada di dalam kamar yang ditempatinya itu, sehingga dia tidak perlu keluar untuk mengambil apa pun lagi di luar.


Ponselnya yang tengah berada di dalam genggamannya, tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan vidio dari Kamelia, istri dari sepupu suaminya itu.


"Assalamu'alaikum Mama, Iffah..." Sapa Kamel dari seberang. Wajah cantik itu tampak begitu jelas di layar ponsel Iffah. Dan di dalam pangkuannya, Cakrawala terlihat begitu riang seolah juga ikut menyapa dirinya.


"Wa'alaikumussalam, ibu Kamel... Yaa Allah... Rindu sekali mama Iffah sama dedek Cakra, Nak." Sahut Iffah dengan gemesnya, ketika lesung pipi Cakra tampak begitu jelas di pipi tembem adiknya Milka itu.


"Dedek Cakra juga rindu Mama Iffah nih... Bagaimana kabar Mama Iffah sama calon dedek bayi?" Tanya Kamelia lagi dengan begitu semangat. Senyumannya merekah seperti tanpa beban. Tampaknya Kamelia benar-benar tidak lagi larut dalam dukanya setelah kepergian Milka kecilnya kala itu.


"Alhamdulillah... Mama Iffah dan calon dedek bayi sehat, Sayang. Dedek Cakra dan Ibu Kamel bagaimana kabarnya?" Balas Iffah.


"Alhamdulillah Mama Iffah... Kami semua sehat disini."


"Kapan berkunjung kesini? Aku rindu sekali Kamel…" Sungut Iffah ketika mulai berbicara santai dengan perempuan yang sudah seperti saudara baginya.

__ADS_1


"Insya Allah Iffah... Nanti kalau ada waktu, aku akan segera kabarin kamu."


"Bener ya... Jangan lama-lama..." Wajah Iffah tampak berbinar mendengar pernyataan Kamelia.


"Iya... Aku tutup, ya... Kapan-kapan aku telpon lagi." Pamit Kamelia.


"Lah... Kok cepat sih? Padahal aku suntuk sekali hari ini di rumah..." Sungut Iffah lagi.


"Kamu sendiri di rumah? Bibi Chellin dimana?"


"Iya... Mama ke LSM bersama Papa."


"Oh iya.... Sekarang hari Rabu, ya? Aku sampai lupa hari. Padahal aku mau ke pasar Tradisional, tapi tetap saja lupa kalau hari ini adalah hari Rabu." Tutur Kamel cengengesan.


"Oh iya... Kamu mau ke pasar Tradisional... Ya sudah... Hati-hati ya..."


"Wa'alaikumussalam..." Balas Iffah, kemudian panggilan pun terputus.


"Alhamdulillah, sudah di usia lima bulan lebih kamu di dalam rahim Mama, Sayang. Mudah-mudahan kamu akan terus baik-baik saja ya, Nak." Bisik Iffah sembari mengelus-elus perutnya yang sudah mulai terlihat membuncit kala itu.


"Hmm... Mama jadi rindu Papa, Sayang." Ungkapnya sambil memejamkan matanya.


Tiba-tiba ponselnya kembali berdering, Iffah dengan segera membuka matanya dan meraih ponselnya yang berada tepat di sampingnya kala itu.

__ADS_1


'Antoniku'


"Hah... Sayang... Papa juga merindukan kita sepertinya, Nak." Wajah Iffah berseri ketika mendapati nama suaminya yang mengisi panggilan di layar ponselnya itu. Tanpa pikir panjang, Iffah segera menerima panggilan vidio dari suaminya itu.


"Assalamu'alikum Istri cantikku..." Sapa Toni dari seberang.


"Wa'alaikumussalam, Sayang... Kamu makan siang di rumah kan, Sayang?." Iffah begitu berambisi menanyakan suaminya.


"Iya... Insyaa Allah... Bayi dan istriku pasti sangat merindukan aku. Makanya aku harus makan siang di rumah." Sahut Toni.


"Memangnya kamu tidak merindukan kami juga, hmm" Sungut Iffah mendengar jawaban dari suaminya yang mengatakan seolah-olah hanya dirinya yang merindu saat itu.


"Oh tentu dong, Sayang. Bagaimana mungkin tidak? Memangnya, rinduku akan tertinggal dimana lagi?" Toni terkekeh melihat wajah sembab istrinya itu dari layar ponsel yang digunakannya. Dan cemberut Iffah membuat wajahnya itu semakin membengkak karenanya.


"Mana tau kamu tinggalin dimana gitu?" Iffah masih mendelikkan matanya.


"Tidak kok, Sayang. Rinduku kepadamu, selalu aku bawa kemana pun. Jadi kamu jangan takut. Aku akan selalu merindukan kamu, dimana pun aku berada. Dan bahkan meski aku di sampingmu sekalipun." Aku Toni dengan sungguh.


Pipi Iffah yang menyembab terlihat memerah seketika.


"Ya sudah, sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu segera, biar cepat selesainya. Aku tunggu kamu di rumah." Ujar Iffah mulai bersemangat kembali.


"Oke Sayang... Assalamu'alaikum..." Pamit Toni.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam..." Panggilan vidio dengan suaminya pun berakhir.


Hmm beruntungnya hidup di zaman sekarang...~ Gumam Iffah sembari menatap lekat ponselnya yang pipih.


__ADS_2