
Waktu terus berlalu. Setelah menjalani rawat inap dan beberapa rangkaian fisioterapi ringan, Toni sudah dinyatakan pulih oleh dokter.
Do’a keluarganya bagai anak panah yang melesat tepat mengenai sasaran.
Hal pertama yang dia inginkan adalah mengunjungi putri cantiknya ke desa yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Rasa kasihnya terhadap Milka tiada tara. Dia bahkan lebih memilih sakit apapun dari pada harus melihat Milkanya menangis. Dan semua orang tau itu. Kebahagiaannya bertambah ketika Kamelia sudah tidak lagi terlihat membencinya, sehingga dia bisa leluasa membawa Milkanya meski tidak dengan waktu yang lama. Karena dia mengerti Kamelia juga tidak bisa tenang jika Milka tidak bersamanya di waktu malam.
Karena Toni masih baru keluar dari rumah sakit, maka Ghali yang menyetir untuk mereka setelah Ghali mendapatkan izin cuti dari kantornya. Toni terlihat sangat senang dengan kunjungannya kali itu, meski dia tau
Milkanya akan merengut dan sedikit merajuk nantinya.
Mereka benar-benar terlihat seperti keluarga yang sempurna, saling mengasihi satu sama lain. Tidak terlihat sama sekali kecanggungan diantara mereka.
Ketika itu mereka sampai di kediaman Arayan menjelang maghrib. Milka terlihat begitu jual mahal untuk menegur papanya terlebih dahulu, dia lebih memilih memasang wajah cemberutnya terhadap lelaki yang dipanggilinya papa sejak lahirnya dan berpura-pura bermain bersama Cakrawala yang tertidur nyenyak di pangkuan kemil. Meskipun begitu, semua tau bahwa gadis kecil cantik bermata sipit itu sangat merindukan Toni setelah hampir setahun tidak bertemu.
__ADS_1
“Apa begitu caranya menyambut kedatangan papa yang sangat merindukan gadis cantik ini?” Bujuk Toni seraya membungkukkan sedikit badannya untuk mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala yang beraroma Anggur itu.
“Siapa?” Rengut Milka sembari mencebikan bibirnya.
“Papa dong sayang…” Sahut Toni segera mengangkat Tubuh Milka yang sudah mulai tinggi dan sedikit berat dari sebelumnya dia gendong.
“Mil sudah punya dedek Cakhha, jadi Mil tidak lagi meghindukan papa.” Ucapnya berbohong. Dia sudah menjadi gadis tiga tahunan yang tidak lagi cadel seperti sebelumnya kecuali di huruf R yang terlalu berat untuk lidah pendeknya.
“Hohoho… Tapi papa sangat merindukan Milka, sayang.” Ungkap Toni getir. Matanya tampak berkaca-kaca karena tidak mampu menyembunyikan perasaan rindunya lagi.
“Papa kan sibuk, Nak.” Jawab Toni berbohong. Berkali-kali dia mengecup pipi Milka yang tembem dan menggemaskan.
“Papa selalu sibuk.” Gerutunya sambil merebahkan kepalanya di bahu Toni dan mengalungkan tangannya di leher papanya itu.
Toni mengelus lembut pundak Milka dengan penuh kasih dan ketulusan. Dia menghirup aroma anggur yang ada pada tubuh Milka dengan begitu dalam. Dia sangat merindukan gadis kecilnya itu.
__ADS_1
“Sebagai permintaan maaf papa, besok kita main laying-layang bersama mama Iffah.” Rayu Toni kepada gadis kecilnya yang masih tampak merengut dan bersedih hati dalam dekapannya.
“Benarghkah?” Wajah Milka mulai menampakkan binar-binar kebahagiaan.
“Hu-um..” Toni mengangguk antusias melihat perubahan wajah putri kecilnya yang begitu senang mendengar ikrarnya.
“Horeee, dedek Cakkha di bawa juga pa…” Tanyanya dengan begitu bersemangat.
“Kalau boleh sama ayah dan ibu, kenapa tidak sayang?” Ujar Toni begitu senang melihat senyum Milka.
“Dedek Cakra besok nggak bisa ikut, Sayang.” Bantah Kemil cepat.
“Kenapa, Ayah?” Tanya Milka cepat. Dia dan Toni segera menoleh kearah Kemil secara bersamaan.
“Dedek Cakra kan masih kecil, kasihan kan sayang.” Sahut Kemil beralasan. Dia ingin Toni bisa leluasa menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya. Dia tau bagaimana perasaan toni saat itu, meski dia tau Toni akan senang jika dia juga membawa Cakra dan Kamelia ikut bersama mereka. Hanya saja Kemil lebih ingin membiarkan Toni menghabiskan waktu bertiga terlebih dahulu setelah sekian lama kebersamaan mereka terjeda.
__ADS_1
Sesuatu yang paling menbahagiakan adalah, ketika melihat senyuman menghiasi wajah keluarga.