TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KEMUNCULAN MISYA


__ADS_3

Meski senja menampakkan keanggunan cahaya jingga di ufuk baratnya,namun hati Iffah masih terasa gelisah menantikan kehadiran lelaki yang menjanjikan pelataran itu sebagai tempat bagi dirinya mengetahui segala hal


tentang lelaki pujaan hatinya.


Kamelia benar, di sana banyak orang-orang yang menghabisakn waktu senja.~ Batin Iffah. Matanya tidak berhenti menatap lekat kepada setiap orang yang terlihat unik melakukan sesuatu kegiatan untuk melepas jingga.


Layangan juga banyak berterbangan menghiasi langit, dan itupun berasal dari anak-anak dan pemuda yang terlihat disana.


Aku begitu naïf, sok suci, tapi aku benar-benar takut kepadamu Wahai Pemilik Kesucian. Jika seandainya aku bukanlah Iffah yang sesungguhnya, akankah aku bertemu dengan Antoni?. Seseorang yang Kau jadikan sebagai waktu bagi jantungku berdebar merasakan berbagai keanehan?.


Jingga, mengapa kau terlihat sempurna setelah dia yang mengenalkanmu kepadaku?, bahkan sebelumnya aku tidak begitu tertarik denganmu.


Iffah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


Ternyata masih pukul empat lewat, aku pikir aku sudah terlambat. Tetapi dia kemana? Bahkan aku tidak melihat dirinya di rumah tadi.


Suara sepasang kaki melangkah mendekatinya, dengan segera Iffah menoleh kearah suara itu berasal. Dia terpana sesaat ketika seorang perempuan mendekatinya dengan senyum tipis menyeringai di wajahnya yang lumayan cantik.


“Sore.” Sapa perempuan yang tidak lain mantan kekasih Toni.


“Sore juga.” Sahut Iffah menepiskan senyuman ramah di bibirnya.


“Perkenalkan, namaku Misya.” Ya, dia Misya. Orang yang sama. Dia mengulurkan tangannya kearah Iffah.


“Iffah,” Iffah menyambut tangan Misya tanpa berpikiran buruk sedikitpun.


“Apa kamu sedang menunggui Toni disini?.” Tanya Misya tanpa basa-basi.


“B-Betul, kamu mengenali Antoni?.” Iffah balik bertanya dengan raut wajah yang menampakkan  rasa kepenasaran darinya.


“Siapa yang tidak mengenali pemuda itu? Lelaki yang tergila-gila kepada satu wanita hingga dia memperkosa wanita yang dicintainya itu.” Satu kalimat Misya bagai petir yang menggelegar dan menyambar jantung hatinya.

__ADS_1


Sesaat, dia ingin tuli dan tidak ingin mendengar lebih lagi. Tapi rasa penasarannya lebih tinggi dari rasa sakitnya saat itu.


“A-apa maksudmu?.” Tanya Iffah terbata-bata. Air matanya mulai bercucuran dengan deras dan secara tiba-tiba.


“kamelia, kamu tau dia bukan?. Kamelia adalah perempuannya, dan Milka adalah putrinya.” Iffah menutup mulutnya yang sempat ternganga karena penuturan perempuan yang baru dikenalinya itu.


“Kamu jangan mengada-ada. Itu bisa jadi fitnah, karena sehari saya mengenali Kamelia, saya tau dia orang yang baik.” Iffah berusaha mengelak dan tidak mempercayai ucapan Misya yang dianggapnya sebuah kegilaan.


Dia melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Misya yang baru saja di kenalinya itu.


“Aku tidak mengada-ada Iffah, itulah kenyataannya.” Iffah kembali menghentikan langkah kakinya. “Dia hanya menjadikan siapapun perempuan sebagai figuran, permainan… Karena baginya, cinta yang ada di dalam hatinya


hanya untuk Kamelia saja.” Wajah licik Misya begitu berbinar melihat reaksi Iffah. Bibirnya menepiskan senyuman penuh kemenangan.


“Tidak mungkin, kamu pasti bohong… Kamu hanya perempuan yang berniat merusak hubungan antara aku dan Antoni, bukan?.” Meski Iffah berkata tidak percaya akan pernyataan Misya, namun raut wajahnya jelas menampakkan keraguan disana terhadap lelaki yang ia harapkan segera untuk menghalalkan dirinya.


“Itu terserah kamu, kamu mau percaya atau tidak percaya bukanlah urusan aku. Tapi kamu dapat tanyakan langsung kepada Toni, siapa Milka dalam hidupnya.” Misya menyeringai di balik ucapannya yang penuh penekanan.


Iffah semakin terkejut melihat kepercayaan diri Misya dalam menghasutnya, dia semakin ragu bertahan untuk tidak  mempercayai perempuan itu.


“Hai Ton.” Misya menyapa dengan wajah yang semakin menyeringai.


“Apa yang kamu lakukan disini Misya?.” Tubuh Toni bergetar hebat ketika melihat air mata Iffah bercucuran dengan deras.


“Dia Cuma memberitahu apa yang harusnya aku tau tentang kamu, Antoni.” Iffah menyela pertanyaan Toni terhadap Misya.


“Me-memangnya perempuan ini sudah bicara apa kepadamu Iffah?” Toni semakin menggigil karenanya. Betapa tidak, dia masih ingat betul apa yang sudah diperbuat Misya pada masa lalunya. Karena hasutan Misya, persahabatannya dengan Kamelia menjadi hancur kala itu.


Dan dia takut, Iffah akan sama sepertinya yang mudah terhasut oleh omongan Misya yang begitu licik dan jahat.


Iffah menggelengkan kepalanya, dia memalingkan tubuhnya hendak berlalu darisana.

__ADS_1


“Iffah, tolong… Dengarkan aku dulu.” Toni berusaha menahan lengan Iffah dan menghadapkan tubuh gadis bekulit kuning langsat itu kearahnya.


“Kamu tidak perlu menjelaskan apa-apa, Antoni. Kamu cukup jawab saja aku, siapa Milka? Dan kenapa dia memanggilimu papa?.” Iffah menatap lekat mata Toni agar dirinya tidak melihat celah kebohongan dari dalamnya.


“Milka?” Toni menatap garang kearah Misya yang tidak tau diri masih saja disana. “Milka, dia… Dia adalah putriku…”Toni menundukkan wajahnya. Terlihat jelas dia sedang terluka karena pertanyaan Iffah.


Iffah tak kalah terkejut mendengar kenyataan langsung dari Toni. Tubuhnya terhuyung ke belakang.


“Sudah cukup jelas semuanya, kenyataan siapa sebenarnya kamu. Dan kenyataan siapa sebenarnya aku bagi kamu, Antoni. Terimakasih kamu sudah mengajarkan arti cinta dalam hidup aku, meski hanya sebatas permainan


bagimu.” Iffah segera pergi meninggalkan Toni yang terluka oleh kata-katany.


“Iffah… Iffah… Dengarkan aku dulu Iffah.” Pinta Toni setengah berteriak dan berusaha mengejar gadis yang telah berhasil mengusir Kamelia dari hatinya.


“Toni kamu mau kemana?.” Tangan Misya berusaha mencegah langkah kaki Toni.


“Kamu benar-benar sudah keterlaluan Misya… Kamu masih saja sama. Masih licik, picik dan egois.” Ujar Toni dengan garang dan penuh amarah seraya menepis kasar tangan Misya dari lengannya.


“Jika aku tidak bisa memilikimu, bukan berarti perempuan lain bisa mendapatkanmu, Toni.” Ujar Misya dengan ambisi yang begitu besar.


“Kamu benar-benar tidak waras , Misya.” Hardi Toni, sesaat sebelum ia pergi untuk mengejar perempuan yang menjadi mimpinya itu.


“Iya, Ton. Aku benar-benar sudah tidak waras. Aku tidak waras hanya karena mencintai kamu, Toni.” Teriak Misya semakin menggarang. Telapak tangannya mengepal dengan kuat. Nafasnya tersengal-sengal karena ambisi


yang terlalu tinggi telah menguasai jiwanya. Hatinya begitu keras, sehingga tidak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2