TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
TERIMAKASIH DAN MAAF


__ADS_3

Allah…


Ajari aku caranya bersyukur, agar aku tak lagi sibuk untuk mengeluh.


Ingatkan aku pada setiap masa laluku, meski pada masa yang pahit sekalipun. Agar aku tak canggung menatap masa depan…


Cahaya jingga telah menghiasi langit sore di kota tempat Toni dan keluarganya menetap. Mereka baru saja sampai kala itu. Tidak banyak bicara, tidak pula banyak berbuat. Yang dilakukan Toni dan keluarganya hanya


diam di bangku mereka masing-masing. Kebetulan waktu itu Ghali yang mengendarai mobilnya.


Ketika Iffah dan Ghali telah memasuki kamar mereka masing-masing, Toni dan orang tuanya masih tertinggal di ruang utama. Iffah dan Ghali sangat mengerti bagaimana perasaan lelaki itu. Dia pasti sangat ingin berbagi kesedihannya kepada kedua orang tua angkatnya.


Toni duduk bersimpuh di lutut Chellin dan merebahkan pipinya ke paha wanita paruh baya itu. Chellin mengusap lembut kepala putranya yang sangat dia sayangi. Perasaan seorang ibu benar-benar terlukis di wajahnya, meski dia bukanlah seorang ibu. Milka pun juga sudah seperti cucu baginya, selama dia mengenal Toni dalam hidupnya.


Bobi menatap prihatin lelaki yang sudah menjadi putranya itu. Berkali-kali dia mengedipkan matanya yang terasa perih dan memerah. Cairan bening yang menelaga disana, sama sekali tidak dibiarkannya tumpah. Dia tidak ingin putranya bertambah sedih melihat air matanya mengalir.


“Ma, Pa…” panggilnya lirih tanpa menoleh.


“Iya, Nak.” Sahut Chellin seraya meraih tangan Toni yang bergelantung di sofa yang dia duduki.


“Semua yang Toni sayangi telah pergi meninggalkan Toni, Ma, Pa. Bisakah Mama dan Papa berjanji untuk tidak akan meninggalkan Toni juga?” Pintanya dengan penuh harap. Air matanya kembali mengalir dan membasahi bagian paha Chellin.


“Asal kamu mau berjanji untuk tidak bersedih lagi di hadapan kami, Sayang. Kami akan berjanji untuk tidak akan meninggalkan kamu.” Balas Chellin.

__ADS_1


“Semua yang bernyawa akan pergi menghadap kepada-Nya, Nak. Tanpa terkecuali. Jika maut yang memisahkan kita, maka siap atau tidak siap, kita harus siap.” Tegas Bobi.


“Paah…” Toni mengangkat kepalanya dan menatap wajah Bobi dengan sendu.


“Betapa beruntungnya kami memiliki kamu, Nak. Allah mempertemukan kita.  Jika tidak ada kamu,


maka kami tidak punya siapa-siapa. Kami bahkan tidak mampu memiliki keturunan.  Tapi Dia memberikanmu kepada kami sebagai putra kami. Papa juga hidup sebatang kara tanpa siapa-siapa, mamamu juga. Jika bukan karena nenek dan Papa kandungmu, kami tidak akan memiliki keluaraga. Hanya kami berdua, dan entah sampai kapan kami akan saling memiliki. Hanya saja, kami harus siap untuk kehilangan satu sama lainnya.” Bobi akhirnya dapat menyeka air matanya yang nakal, dan keluar begitu saja dari matanya yang hampir mengabur.


“Jadi Papa mohon kepadamu, janganlah larut dalam kesedihan ini. Karena kami tidak sanggup melihat putra kami murung sepanjang hari.” Pinta Bobi. “Usia kami sudah tidak lagi muda seperti kamu, Nak. Kami hanya


mengharapkan kebahagiaan dari kamu. Dan kebahagiaan kami terdapat dalam kebahagiaan kamu. Maka berbahagialah…


Sedang masa depanmu masih panjang bersama Iffah. Apa kamu ingin melihat dia bersedih melihatmu seperti ini?” Bobi semakin berusaha membuat Toni mengerti.


“Maafkan Toni, Pa. Toni janji akan terus berusaha bangkit. Papa benar, tidak seharusnya Toni terus-terusan berada dalam kesedihan ini. Terimakasih sudah menjadi papa yang baik dan bijaksana untuk Toni. terimakasih Mama.” Toni meremas jemari Chellin dan mengecupnya dengan lembut. Chellin dan Bobi tersenyum mendengar ikrar Toni.


“Sekarang bersiaplah, waktu Maghrib sudah hampir.” Bobi bangkit dari duduknya hendak beranjak ke kamarnya yang telah beberapa hari itu ditinggalinya.


“Toni bersiap ya, Ma.” Pamitnya seraya ikut bangkit. Chellin menyahuti dengan anggukan kepalanya.


*****


“Assalamu’alaikum…” Toni masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam…” Sahut Iffah segera menghampiri Toni. Toni menghamburkan dirinya ke dalam dekapan istrinya itu.


“Hmm wangi sekali… Kamu sudah selesai mandi, Sayang?” Tanya Toni tanpa melepaskan Iffah dari dekapannya.


“Sudah, dan sekarang jadi bau lagi karenamu.” Sungut Iffah berusaha mengikuti suasana hati suaminya.


“Tapi aku masih ingin peluk kamu begini.” Toni semakin mempererat dekapannya. “Terimakasih dan maaf, sayang. Hanya dua kata itu yang bisa aku ucapkan saat ini untuk istri cantikku.”


“Terimakasih dan maaf sayang. Hanya dua kata itu juga yang bisa aku ucapkan saat ini untuk suami tampanku ini.” Balas Iffah seraya menghirup nafasnya dalam dan kemudian menghempaskannya lagi dengan perlahan.


Toni melepaskan dekapannya dan mengecup dahi istrinya itu. “Aku mandi ya, Papa dan Ghali pasti akan menungguku.” Ujar Toni segera beranjak ke kamar mandi.


Iffah tersenyum menanggapi ucapan suaminya. Dia terlihat lega mendapati suaminya yang mampu adil terhadap suasana. Tetapi Iffah begitu paham dengan rasa sakit suaminya, sehingga dia tidak ingin suaminya terlalu cepat melupakan kesedihan yang baru saja dialami suaminya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2