TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
BERANGKAT


__ADS_3

“Assalamu’alaikum…” Seru Toni dan keluarganya kepada Iffah dan Ghali yang sudah tampak menunggu kedatangan mereka di teras rumah minimalis kediaman Iffah dan adiknya itu.


“Wa’alaikumsalam…” Saut mereka hampir bersamaan seraya tersenyum ramah.


Chellin dan Neneknya Toni melambai riang dari dalam mobil ketika mendapati Iffah sudah menantikan kedatangannya. Dan Iffah membalas lambaian mereka dengan begitu antusias.


Ghali menatap pemandangan yang begitu mengharukan di matanya itu dengan seksama.


“Oh jadi ini adikmu yang disangka suamimu oleh Toni itu, Iffah?.” Ujar Bobi menyeringai dan sukses membuat wajah hingga ke telinga Toni memerah.


Ghali berusaha menahan tawanya untuk meledek Toni yang telah termalukan oleh pertanyaan Bobi kepada Iffah. Dan Toni hanya membabalas dengan melototkan matanya.


“Iya, betul Pak. Dia Ghali, adik saya.” Saut Iffah seraya memperkenalkan Ghali kepada atasannya di kantor sebelum dipegang Toni.


Ghali menyalami Bobi, Chellin dan Nenek Toni yang hanya berada di dalam mobil saja menantikan Iffah.


“Kamu tidak mau ikut, Ghali?.” Tawar Bobi dengan ramah.


“Tidak Pak, terimakasih. Lain kali saja, pekerjaan saya benar-benar tidak bisa ditinggal, Pak.” Saut Ghali sungkan.


“Oh, memangnya kamu kerja dimana?.” Tanya Bobi lagi.


“Konveksi MIQNA’ MUSLIM, Pak.” Jawab Ghali.


“Wah konveksi besar itu… Bisa ajukan kerja sama nantinya tuh, Ton.” Bobi terlihat antusias.


“Insya Allah om, kita baru saja sedang merencanakan itu. Pekerjaan mereka bersih dan cepat, harga juga terjangkau. Pakaian peresmian esokpun ambil disana malah kemarinnya.” Toni menyauti dengan semangat ambisi


Bobi.


“Wah, gerak cepat juga kamu rupanya.” Puji Bobi dan disauti seringai membangga dari Toni.

__ADS_1


“Ya sudah, Ghali. Kami berangkat dulu ya, jangan lupa makan yang benar, angkat jemuran, bersihin rumah, dan kunci pintu.” Ledek Toni.


“Huuu memangnya saya anak kecil yang mesti diomongin begitu.” Ujar Ghali kesal. “Bapak tu jagain kakak saya dengan benar. Awas kalau kak Iffah kenapa-kenapa, saya tutup jalan.” Ancamnya.


“Siap bos, kamu tenang saja. Calon istriku aman.” Bisik Toni seraya merangkul leher Ghali.


“Toni… Ayo, kamu jangan becandain Ghali terus, Nak.” Seru Chellin dari dalam mobil. Ghali mencibir ke arah Toni.


“Iya, Bi.” Saut Toni cengengesan. Dia mengambil koper mini milik Iffah dan memasukkannya ke bagasi belakang mobilnya.


“Ya sudah, Dek. Kamu hati-hati di rumah ya. Kakak berangkat dulu.” Pamit Iffah sambil menyodorkan tangan kanannya untuk disalami Ghali.


“Iya Kak, Kakak juga hati-hati disana. Jangan lupa kasih kabar kepada Ghali ya.” Ghali mengantar Iffah masuk ke dalam mobil yang akan membawa kakaknya dan keluarga Toni pergi dari sana. “Hati-hati Nek, Bi, Pak Bobi.” Dia juga tidak lupa menyapa kembali keluarga Toni. Mereka menyautinya sebelum Toni melajukan mobilnya meninggalkan rumah minimalis itu.


Ghali masih terlihat meninggikan tangan kanannya melambai mengantar mobil itu hingga menjauh dari pandangan matanya.


Dia menghela nafas berat dan kembali menghempaskannya dengan kasar.


 *****


Meskipun Iffah bukanlah siapa-siapa bagi mereka, tapi mereka memang memperlakukan Iffah sebagai bagian dari keluarga mereka. Ditambah lagi, Toni begitu menyukai gadis yang saat itu berkerudung peach terang.


“Ahem… Ahem…, kok Bibi baru menyadari ada yang lagi kompakan ya?.” Mereka yang awalnya hanya diam, tiba-tiba menjadi heboh karena pertanyaan Chellin. “Sayang, kamu sih. Sudah aku bilang, pakai baju putih saja. Biar kita juga kompakan.”


Karena baru ngeh maksud dari ucapan Chellin, Iffah dan Toni sama-sama melihat ke baju mereka masing-masing. Toni yang sedang menyetir segera melirik ke kaca spion depannya untuk melihat Iffah yang ada di belakangnya. Deg,,, lagi-lagi pandangan mereka bentrok satu sama lain. Toni segera menepiskan senyumannya.


“Cieeee, ada yang intip-intip ni.” Goda Bobi ikut menyauti cara istrinya.


Meski sudah hampir setengah perjalanan, mereka tak hentinya menggoda sepasang anak muda yang berada semobil dengan mereka saat itu. Hingga Bobi akhirnya memutuskan untuk tidur karena kelelahan.


“Jika kamu lelah, bangunkan om ya Ton.” Pinta Bobi seraya merebahkan kepalanya ke sandaran korsi mobil yang didudukinya.

__ADS_1


“Sip Om, Om tidur sajalah dahulu.” Sautnya tetap fokus mengemudi.


“Iffah, kalau kamu lelah. Tidur jugalah, Nak. Bibi juga terkantuk.” Bisik Chellin ke arah Iffah, karena mereka duduk diantara Nenek yang sudah tertidur sedari tadi.


“Iya Bi, Bibi tidurlah dulu.” Balasnya setengah berbisik pula.


Hanya tinggal mereka yang masih membuka mata, namun mereka tidak berbicara satu sama lain.


Sesuatu terlihat oleh mata Iffah, sekelabat bayangan masa lalunya melintas begitu cepat di benaknya. Dia memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit saat itu.


“Kamu baik-baik saja?.” Toni yang tidak sengaja melihat reaksi Iffah, segera melunakkan pijakan kakinya di pedal gas mobilnya itu.


“Eh i-iya, aku baik-baik saja kok.” Sautnya gelagapan seakan tertangkap karena melakukan kesalahan.


Toni menyodorkan sebuah minuman kepada Iffah lewat bahunya. “Minumlah, kamu pasti kelelahan.”


“Makasih…” Ucap Iffah sembarim mengambil minuman mineral dari tangan Toni.


Setelah meminumnya, Iffah menyandarkan kepalanya dan mencoba memejamkan matanya yang mulai menyayu.


Ketika episode-episode perjalanan hidupku, aku lalui dengan beragam tingkahku. Tapi aku lupa, di episode mana aku mulai memikirkan surga bersamamu. Dan aku bahkan tidak tau, kenapa begitu bijaksananya hatiku menerima keputusanmu untuk bersabar dalam penantian ini.


Toni mulai menatap lurus kearah depan setelah dia tau Iffah benar-benar sudah terlelap di belakangnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2