TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
SEBELUM JANJI TEMU


__ADS_3

Aku sungguh tidak tau harus memulai dari mana. Tapi yang jelas, aku ingin mengawali hariku dengan melihat wajahmu.  Ya, seperti yang kamu ingini.


Aku tidak pernah peduli dengan masa lalukku dan masa lalumu lagi. Tapi bagiku kamu adalah masaku. Kamu masa laluku, masa kiniku, dan masa depanku. Karena, semua telah tercatat di Lauhul Mahfudz, dan namamulah yang tertulis disana kala itu. Entah berapa ribu tahun yang lalu. Tapi yang jelas, di masa lalu.


Sebagaimana yang telah terjadi diantara kita. Kamu tidak mencariku dan aku tidak pula mencarimu, tetapi kita hanya dipertemukan oleh-Nya.


Pagi menjelang siang kala itu, Toni meregangkan tubuhnya sembari mengatur posisi duduknya. Beberapa tumpukkan dokumen terlihat berserakan di atas meja kerja kantornya. Dia terlihat berusaha menghilangkan


rasa penat yang menggerayang tubuhnya, dari semalam dirinya disibukkan oleh beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikannya untuk seminggu itu.


Sesekali dia mengusap matanya yang terlihat masih mengantuk dan memerah.


TOK…. TOK…. TOK….


“Masuk…” Perintahnya dengan nada malas. Pintu ruangannya terbuka dari luar, tampak Iffah masuk setelah menyapanya dengan formal.


“Kemarilah…” Perintahnya kembali ketika melirik sedikit kearah Iffah yang memang hendak menemuimu.


“Pagi pak. Saya…”


“Ssst… Mendekatlah kesini… Aku butuh asupan energy sedikit…” Pintanya memelas sambil meraih lengan Iffah yang tidak terlalu jauh darinya. Dia memeluk pinggang Iffah dan menyandarkan kepalanya ke perut Iffah.


“Antoniiii… Malu…” Iffah berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Toni yang begitu kuat menahannya.


“Kenapa mesti malu? Kan Cuma kit…?


“Ahem hmm …” Terdengar suara berdehem dari pintu. Toni begitu terkejut dan segera melepaskan tubuh Iffah yang sedari tadi telah menyadari kedatangan seseorang.


“E, mm, Papa?” Toni terlihat gugup. Mukanya yang putih bersih tampak bewarna dibuatnya.

__ADS_1


“Maaf, sepertinya Papa mengganggu kalian…” Bobi berusah menahan tawanya melihat wajah Toni yang memerah seperti udang di rebus saat itu.


“T-tidak kok, pak. Saya akan segera keluar setelah ini.” Seru Iffah gugup dan berusaha seformal mungkin. “Ini persentasi unuk hari ini yang bapak minta kemarin…” Iffah menyodorkan sebuah berkas lagi dan meletakkannya di


atas meja kerja Toni.


“Terimakasih…” Ucap Toni, dia masih terlihat gugup dan berusaha menangkap dirinya yang sempat terbang sedari kedatangan Bobi dengan begitu tiba-tiba ke ruangannya.


“Permisi Pak.” Pamit Iffah kepada Bobi ketika melewati papa mertuanya  yang masih berdiri di ambang


pintu. Bobi menganggukkan kepalanya berusaha menahan kegelian yang menggelitik hatinya melihat tingkah gugup anak dan menantunya itu.


“Masuk, Pa.” Seru Toni lagi.


“Ada apa dengan pipimu, Ton?” Bobi pura-pura bertanya dengan gaya santainya.


“M m memangnya kenapa dengan pipi Toni, Pa?” Toni berusaha mengusap-usap kasar pipinya.


“Ah papa…” ketusnya berlagak kesal.


“Tapi benar loh, Ton. Tidak pernah kamu sekikuk ini sebelumnya.” Ledek Bobi lagi dengan wajah serius.


“Memangnya kelihatan, Pa?” Tanya Toni lagi benar-benar serius menanggapi  ucapan lelaki yang


dipanggilinya dengan sebutan papa.


“Tidak hanya kelihatan lagi, tapi benar-benar jelas jika kamu saat ini tengah malu.” Bobi kembali tertawa melihat reaksi Toni yang menampakkan betul rasa malunya.


“Ah, papa. Lagian papa kenapa tidak bilang-bilang mau datang?” Rengutnya.

__ADS_1


“Hahaha… Kamu saja yang pagi-pagi sudah ingin romantis-romantisan, padahal Iffah sudah berusaha mengelak. Dia masuk keruanganmu ini juga untuk memberitahukanmu atas kedatangan papa.” Tutur Bobi semakin memojokkan Toni pada rasa malunya.


“Memang begitu, pa?” Toni terlihat tidak yakin akan penuturan papanya itu.


“Iya, bukannya hari ini meeting dengan perusahaan konveksi MIQNA’ MUSLIM yang telah kita sepakati pada surat permohonan janji temu pekan lalu?” Ujar Bobi mencoba membuat Toni mengingat kembali dengan janjinya terhadap perusahaan tempat adik iparnya bekerja.


“Oh iya, Pa. Toni sempat lupa tadi… Habisnya, pekerjaan Toni berberapa minggu ini numpuk semua. Papa sih, pakai bilang mau pensiun segala.” Rengut Toni sembari mengemasi berkas-berkas yang berserakan di atas meja


kerjanya itu.


“Kan sekali-sekali Papa juga bantuin kamu seperti ini. Lagian, kapan lagi kamu akan bisa menyelesaikannya sendiri, Ton? Kamu seharusnya juga membuat Iffah mau beristirahat di rumah. Apa kamu tidak memikirkan cucu untuk papa dan mamamu dari Iffah? Adiknya Milka bisa bertambah lagi dari kamu, kan?” Goda Bobi.


“Ah Papa. Nanti kalau sudah waktunya, Allah akan kasih kok pa. Papa tenang saja…” Toni menyahuti dengan begitu yakin.


“Iya, Allah maha pemberi. Tapi tiada do’a yang terkabul, jika tidak di barengi usaha, Ton.” Dengus Bobi mulai serius.


“Kami usaha kok pa.” Sahut Toni berbinar.


“Haissh, kamu ini. Memangnya kamu sudah pernah konsultasi ke dokter kandungan?” Tanya Bobi sedikit kesal karena merasa diperolok putranya itu.


“Hehe, belum, pa. Nanti kami rencanakan, pa.” Ujar Toni mulai serius.


“Ya sudah, sekarang berkemaslah. Papa tunggu kamu di lobi.” Bobi bangkit dari kursi yang didudukinya, Toni mengiyakan perintah papanya itu dan ikut bangkit untuk berkemas terlebih dahulu sebelum menyusul papanya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2