
Siang itu, selepas Toni makan siang bersama Iffah. Dia menerima panggilan telepon dari Kemil, sayangnya dia meninggalkan ponselnya di meja kerja kantornya.
Ketika dia kembali, dia melihat lampu notif ponselnya berkedip. Meski tidak terburu-buru, tetapi dia tetap “menyempatkan untuk melihatnya.
“Kemil?” Beberapa panggilan tak terjawab dari sepupunya sekaligus ayah dari putri kecil yang sangat di sayanginya itu, “Ada apa, ya? Kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?” Gumam Toni seraya mengaktifkan layar ponselnya dan segera mungkin menelpon Kemil kembali.
Tut… Tut… Tut…
“Assalamu’alaikum Kemil…” Sapa Toni ketika suara dari seberang terdengar mengangkat telpon darinya.
“Wa’alaikumussalam, Ton…” Sahut Kemil sedikit gusar dari seberang.
“Ada apa, Kemil? Maaf, tadi ponsel saya ketinggalan di kantor pas saya makan siang di luar.” Ungkap Toni.
“Milka sedari tadi ingin berbicara denganmu, Ton. Suhu tubuhnya tiba-tiba tinggi sekali…” Ujar Kemil mengabarkan keadaan Milka.
“Lalu sekarang bagaimana, kemil?” Toni tampak cemas dan berdebar mendengar kabar Milka.
“Baru saja Milka tertidur, hanya saja panasnya belum turun. Rencananya mau dibawa ke puskesmas dulu. Sedari tadi Kamelia tampak begitu cemas, dia tidak berhenti menangis melihat Milka demam seperti itu.” Suara Kemil berubah serak kedengarannya.
“Sebenarnya, aku dan Iffah ada rencana berkunjung esok pagi. Tapi aku akan berangkat siang ini juga, Kemil. Terimakasih kamu sudah mengabariku dengan cepat.” Ujar Toni dengan tubuh yang mulai bergetar.
__ADS_1
“Kita orang tuanya, Ton. Sudah seharusnya aku mengabarimu.” Sahut Kemil. “Baiklah, Ton. Hati-hati, saya tunggu kedatanganmu. Assalamu’alaikum…”
“Iya, Kemil… Wa’alaikumussalam.” Toni menutup panggilan di teleponnya, matanya tampak berkaca-kaca. Tidak sekalipun sebelumnya dia merasa secemas itu. Dengan segera, dia mengemasi barang-barangnya dan keluar dari ruang kerjanya.
“Apa yang terjadi, sayang?” Iffah segera bangkit dari duduknya ketika mendapati wajah Toni tengah gusar saat keluar dari ruang kerja suaminya itu. Padahal baru saja mereka makan di luar, dan Toni pun tadinya
baik-baik saja tampaknya.
“Kita berangkat ke desa sekarang ya, sayang.” Ajak Toni.
“T-tapi kenapa?” Tanya Iffah ikut cemas.
“Milka sakit, sayang. Kemil baru saja mengabariku.” Sahut Toni masih dalam keadaan cemas.
Iffah hanya diam dan tak ingin bertanya apa-apa, dia tau saat itu suaminya tengah panik. Toni melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi daripada biasanya.
Sebelum berangkat ke desa, dia sempatkan mampir ke rumahnya untuk berpamitan kepada Bobi dan Chellin, sekalian untuk mengambil boneka yang telah dibelikan Iffah kemarinnya.
“Kamu tunggu disini ya, biar aku yang ambil bonekanya.” Pinta Toni dan disahuti anggukan kepala oleh Iffah.
“Toni memang begitu sangat menyayangi Milka. Dulu waktu Milka demam karena tumbuh gigi saja, Toni juga khawatirnya seperti itu.” Tutur Chellin menenangkan Iffah yang tampak ikut khawatir melihat kepanikan putranya.
__ADS_1
“Iya Ma, wajar saja.” Ungkap Iffah tanpa mengurangi perasaan khawatirnya. Walau bagaimanapun, hatinya juga telah berhasil diambil oleh gadis kecil yang lucu itu.
“Pa, Ma. Kami berangkat ya, tolong papa sampaikan saja ke Ghali kalau kami mempercepat keberangkatan kami ke desa.” Pamit Toni setelah kembali dari kamarnya sambil menenteng dua boneka doraemon yang besar-besar.
“Iya, Nak. Hati-hati… Kalau ada apa-apa dan bagaimana perkembangan Milka nantinya, tolong segera hubungi mama dan papa ya.” Pinta Bobi terlihat berharap.
“Iya, Pa. Papa dan Mama do’ain saja agar Milka tidak kenapa-kenapa.” Pinta Toni masih dengan cemasnya.
“Iya, sayang.” Sahut Chellin. “Kamu jangan panik begini, kamu harus tenang. Ingat, bawa mobilnya jangan kebut-kebutan.” Chellin wanti-wanti mengingatkan Toni.
“Iya Ma…” Sahut Toni seraya meraih tangan Chellin dan mencium punggung tangan mamanya itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.