TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MERENGEK


__ADS_3

Maaf kakak ipar, Saya hanyalah anak keci yang tidak bisa diajak berbohong~ Sebuah pesan teks masuk ke dalam ponsel Toni.


Ya, pesan jahil yang dikirim adik iparnya itu.


Tidak perlu minta maaf. Lihat saja, saya pasti akan membalasmu... ~ Toni membalas pesan dari adik iparnya.


Wah... Takuuuut... Kabur ah, bisa-bisa dibakar warga...~ Ledek Ghali.


"Aeehh... Meyebalkan..." Gerutu Toni.


Tidur sana~ Gertak Toni kemudian.


"Ghali mengganggumu lagi, sayang?" Tanya Iffah seraya mendekat kearah Toni yang berada di atas tempat tidur mereka.


"Kalau tidak mengganggu, bukan Ghali namanya. Tapi aku senang... Aku senang karena Ghali yang menjadi adikmu, Sayang." Ungkap Toni seraya mendaratkan satu kecupan di dahi lebar milik istrinya itu.


Iffah tersenyum mendengar pengakuan dari Toni. "Terimakasih telah menyenangi Ghali sebagai adikku, Sayang." Ujar Iffah seraya membenamkan wajahnya di dalam dada bidang milik suaminya.


"Sayang..." Panggil Iffah lagi dengan lirih.


"Hmm..."


"Apa sekretaris baru kamu sekarang cantik?" Tanya Iffah. Nada suaranya terdengar cemas kala itu.


Ya, semenjak dirinya mengikuti program hamil, Iffah tidak lagi bekerja sebagai sekretaris suaminya di kantor.


"Bagaimana bisa dikatakan cantik jika dia adalah seorang laki-laki, Sayang?" Sahut Toni bertele.


"Iiih kamu... Kenapa tidak bilang jika dia laki-laki? Kalau gitu, aku tidak akan bertanya tadi." Sungut Iffah dengan kulit pipi yang bersemu menahan malu.

__ADS_1


Toni terkekeh mendengar sungutan istrinya itu. "Jadi, kalau dia seorang perempuan, kamu akan cemburu?" Tanya Toni menggoda Iffah.


"Tidak..." Elak Iffah.


"Beneraan?" Toni terus berusaha menggoda Iffah.


"Beneran..." Sahut Iffah berlagak cuek.


"Kok gitu?" Toni tampak menyerah.


"Karena aku percaya suami aku... Dia tau, kalau istrinya menunggu di rumah dengan kepercayaan besar untuknya." Tutur Iffah terlihat begitu tenang.


"Terimakasih, Sayang..." Bisik Toni sembari mengelus lembut kepala Iffah yang berada di dalam dekapannya.


"Sayang..." Panggil Iffah lagi.


"Kamu tahu tidak? Akhir-akhir ini, aku suka tidak tahan untuk tidak jauh-jauh dari kamu. Boleh tidak aku besok ikut ke kantor bersamamu?. Aku janji, aku tidak akan mengganggu kamu... Aku hanya akan duduk menungguimu sambil membaca, main ponsel atau apa pun lah... Asal aku bisa dekat-dekat dengan kamu terus." Pinta Iffah berharap.


"Hmm bagaimana ya?" Toni tampak berpikr sembari tersenyum di atas kepala istrinya itu.


"Boleh lah, Sayang... Pleaseee... Aku mohon..." Iffah merengek seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan. "Kalau tidak, aku akan menangis sampai kamu pulang kantor, seperti akhir-akhir ini aku lakukan." Ancam Iffah ketika permohonannya terdengar tidak digubris oleh suaminya itu.


"Akhir-akhir ini kamu menangis?" Tanya Toni seraya menurunkan sedikit tubuhnya dan mensejajarkan wajahnya itu dengan wajah istrinya.


Iffah mengangguk pelan. Dia terlihar tidak berbohong sama sekali dari raut wajahnya saat itu. "Aku nggak tahan jika sudah merasa rindu, setidaknya untuk melihat wajah kamu saja sudah lebih dari cukup bagiku..." Tutur Iffah.


"Tapi kamu jangan marah, jika aku terlihat mengabaikan kamu, ya. Kamu kan tahu sendiri bagaimana sibuknya aku di kantor sekarang." Pinta Toni berusaha meminta pengertian istrinya itu.


"Aku janji, aku tidak akan ngeyel, bandel dan cemburu sama pekerjaan kamu. Karena, sepulang dari kantor, kamu sudah jadi milik aku lagi seutuhnya." Ikrar Iffah bersemangat.

__ADS_1


*****


Gema Adzan shubuh membangunkan Toni dari tidurnya yang tidak seberapa dari semalam.


Bekas luka di telapak kakinya membuat tidurnya ikut terganggu. Hampir sepanjang malam, telapak kakinya serasa bedenyut hingga ke ulu hati dan jantungnya. Begitu perih.


Dan Shubuh itu pun rasa sakitnya kembali muncul. Matanya menyembab karena kurang tidur dan berusaha menahan sakit.


Sedangkan Iffah, Toni sama sekali tidak ingin membangunkan istrinya itu jika kakinya terasa berdenyut. Toni sama sekali tidak ingin Iffahnya menjadi khawatir akan dirinya.


"Sayang... Sudah Adzan ya?" Tanya Iffah dengan suara serak khas bangun tidurnya. Dia mengucek bola matanya yang masih terasa berat saat itu.


" Sudah, Sayang. Ayo bangun... Kita Shalat Shubuh." Sahut Toni seraya mengajak istrinya itu untuk bangkit.


"Iya suami tampanku..." Iffah menurut. Dia bangkit dan beranjak menuju ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu.


Seperti biasa, mereka akan melakukan beberapa rangkaian ibadah di Shubuh itu.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2