TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MAAFKAN GHALI


__ADS_3

Iffah terhenyak, tubuhnya begitu lemah setelah mendengar semua cerita dari adik tirinya itu, tentang kebenaran yang telah terjadi terhadap dirinya dan suami pertamanya. Air matanya berderai jatuh membanjiri pipinya.


Diam…


Sesaat masih diam…


Pikirannya melayang ke masa-masa bahagia yang sempat dilaluinya bersama Arjunanya.


Terimakasih sudah menjadi istriku Iffah, (Arjuna mencium punggung tangan Iffah yang diraihnya dengan tangan kirinya saat itu. Terlihat sekali kebahagiaan di wajah mereka berdua. Mereka sedang berada dalam sebuah mobil,


dan Arjuna sendiri yang mengendarainya. Pakaian mereka saat itu pun, masih pakaian pengantin yang membaluti tubuh mereka. Senyum Iffah begitu lebar dan merekah bagai bunga mawar yang sedang mekar.)


Aku janji akan menjagamu hingga akhir hayatku,dan berjanji jugalah untuk terus berbahagia… (Ucap Arjuna dalam kebahagiaan yang mereka rasakan saat itu. Iffah mengangguk dengan wajah yang berbinar-binar. Dia sangat cantik saat itu. Gaun putih yang dikenakannya benar-benar mampu menggambarkan kebahagiaan hatinya.)

__ADS_1


(Tiba-tiba ponsel Iffah berdering.) Ghali menelponku, Arjun. (Lapor Iffah kepada Arjunanya).


Angkatlah, HOOOOOAAAM… hmm bocah itu… Belum ada se jam pisah denganmu, sudah merindukan dirimu saja. (Celutuk Arjuna sambil menguap, dan beberapa kali dia menguap. Hingga dia tertidur sambil menyetir mobilnya dan dia pun tak lagi sadar…)


(Iffah terkejut, telponnya bersama Ghali diabaikannya saja setelah sempat menyapa adiknya itu. Iffah mencoba membangunkan Arjuna. Dia terus berteriak memanggil lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu, membangunkannya seraya menggoyang-goyangkan tubuh Arjunanya. Dia terlihat hilang akal, dan mobilnya pun oleng. Dan sesuatu yang tidak lagi mampu diingatnya setelah itu pun terjadi).


Semua waktu-waktu terakhir Iffah bersama Arjuna kembali berputar di memorinya. Dia terisak, bahkan tersedu-sedu di lantai kamar Ghali.


Hiks… Hiks… Hiks…


“Entah kenapa? Saat ini aku bahkan bisa membenci ibu tiriku sendiri. Sesuatu yang tidak pernah terpikir sekali pun olehku sebelumnya. Biar sekali pun dia selalu membenciku, menghinaku, menyakitiku, memukuliku… Aku hanya diam selama itu… Tapi ini sudah keterlaluan… Dia, bahkan tidak membiarkan aku bahagia bersama Arjunaku.”Isaknya dengan raut wajah penuh kebencian.


“Dengan sengaja, dia melenyapkan Arjunaku. Hiks… Hiks.. ” Ucapnya di sela-sela isak tangisnya.

__ADS_1


“Maafkan Ghali, kak.” Ghali menjatuhkan tubuhnya di depan Iffah yang masih bersimpuh disana. Dia hendak meraih tangan Iffah, namun dengan cepat pula Iffah menepisnya.


Ghali terkejut dengan perubahan sikap Iffah terhadapnya.


“Kamu tidak perlu minta maaf Ghali, ini semua bukan salahmu. Yang paling pasti, hidupku sudah tidak lagi berarti setelah mengetahui apa yang menimpa Arjunaku. Dan itu semua karena kejahatan ibumu… Jika ibumu tidak melakukannya, mungkin aku sudah berbahagia bersama Arjunaku...” Ketus Iffah seraya


berdiri dan meninggalkan Ghali yang masih terperangah memandangi tangannya. Tangan yang baru saja ditepis oleh kakak yang selama ini mati-matian dilindunginya. Meski selalu gagal, tapi tidak sekalipun dia berfikir untuk meninggalkan kakak tercintanya itu.


Kata-kata Iffah yang sempat terucap sebelum  keluar dari kamarnya pun begitu menyakiti perasaannya. Ghali meremas dadanya dengan begitu kuat. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Dia terisak dan bergelung di atas lantai kamar itu.


Kak Iffah, kenapa kaka tega sekali… Ghali tau, Ghali bukan adik yang baik… Tapi Ghali sangat menyayangi kakak…


Ghali hanya dilemma, Kak. Di satu sisi, Ghali sayang sama Kakak. Tetapi di sisi lain, Ghali juga tidak bisa membiarkan ibu masuk penjara.

__ADS_1


Maafkan Ghali, Ayah… Ghali bukan anak yang berbakti.


__ADS_2