TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
LUAHAN HATI SEORANG AYAH


__ADS_3

“Milkaaaaa…”


Pertengahan malam kala itu. Kamelia terbangun dan langsung berteriak memanggil nama putri kecilnya yang sudah tiada. Deru nafasnya berpacu, mengantarkan keringat dingin keluar dari pori-pori kulitnya yang tipis.


Air mata Kamelia kembali mengalir dari pipinya terlihat tirus dan memucat. Dia terisak setelah mengingat bahwa putrinya itu baru saja terkubur kemarin.


“Ibu rindu Milka, Nak…” Isak Kamelia seraya memangku kedua lututnya.


Sesaat, Kamelia menoleh kearah sampingnya. Matanya yang memiliki lingkaran panda itu tidak mendapatkan Kemil di sisinya saat itu.


“Kemil dimana?” Tanyanya seorang diri.


“Kemiiiil, Sayang kamu ada dimana?” Serunya seraya berjalan kearah kamar mandi di dalam kamarnya.


Kamelia menarik gagang pintu kamar mandi, namun dia tidak menemukan suaminya disana.


Kamelia bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan suaminya. Dengan perlahan dan sedikit mengendap-endap, Kamelia terus berjalan menelusuri ruangan demi ruangan. Namun sama sekali dia tidak menemukan suaminya itu dimana pun.


Apa mungkin kemil ada di halaman belakang?~ Gumam Kamelia seraya bergegas mencari ke sana.


Ketika Kamelia baru mencapai pintu keluar, dia melihat Toni tengah berdiri disana. Toni yang menyadari keberadaan Kamelia di belakangnya segera menoleh dan hendak menyapa, namun Kamelia meletakkan jari telunjuknya ke bibir tipisnya yang mengatup.


Air mata Kamelia kembali mengalir begitu saja di pipinya. Dia juga ikut mendengar apa yang didengar Toni saat itu.


Mereka sama-sama menguping disana.


Milka cantiknya Ayah.  Ayah rindu sekali sama kamu, Nak… Ayah sangaat rindu… Ayah tidak bisa tidur tanpa mendongengkan kamu dulu, sayang…

__ADS_1


Apa Milka bobok nyenyak disana, sayang?


Apa Milka kedinginan?


Apa Milka takut, sayang?


Disini Ayah lebih takut lagi, Nak… Ayah takut kamu akan merasakan kesepian disana.


Ayah takut ada yang mengganggumu, sedang ayah tidak bisa menjagamu lagi…


Kemil memeluk Foto Milka yang ada di dalam genggamannya saat itu. Air matanya yang sempat tertahan semenjak Milka divonis menderita Leukemia akhirnya tumpah ruah malam itu.


Dia begitu terpukul, dan yang paling terpukul diantara mereka semua. Hanya saja dia sanggup menahannya, agar Kamelia-nya bisa ikut tegar sepertinya.


Owh,,, Kenapa begitu cepat Engkau ambil putri kecilku itu Ya Rabb?


Bahkan aku belum sempat mengucapkan terimakasih kepadanya. Terimakasih karena lewatnya Engkau pertemukan lagi aku dengan Kamelia-ku…


Kemil semakin terisak dalam luapan kesedihannya.


Toni dan Kamelia yang mendengar tidak mampu berkata apa-apa. Mereka hanya berdiri dan mendengarkan apa saja yang diucapkan Kemil di halaman belakang.


Kamelia segera pergi meninggalkan posisinya karena sudah tidak sanggup lagi menahan isak tangisnya mendengar keluhan Kemil. Dia takut akan mengganggu suaminya, karena dia baru menyadari bahwa suaminya hanya berusaha menahan kesedihan selama itu.


Dia membiarkan Kemil untuk melepaskan beban yang ada di dalam hatinya.


Ketika hendak kembali ke kamarnya, Kamelia mendengar suara tangisan putranya dari dalam kamar mertuanya yang dia lewati saat itu.

__ADS_1


Tok… Tok… Tok…


Kamelia mengetuk pintu kamar mertuanya, dan tidak lama pintu pun terbuka dari dalam.


“Kameel?” Seru Idris setengah berbisik.


“Maaf Papa… Kamel mengganggu papa malam-malam. Kamel tidak sengaja mendengar tangisan Cakra. Dia pasti haus, Pa.” Kamelia berusaha membuang sebagian kesedihannya di depan mertuanya itu.


“Loh Kamel? Kamu belum tidur, Nak?” Rahmah datang menghampirinya sambil menggendong bayi Cakra-nya.


“Kamel terbangun karena mendengar suara tangisan Cakra, Ma.” Sahutnya berbohong. “Mama dan Papa pasti kelelahan, biar Kamel bawa Cakra ke kamar kami ya Pa, Ma.” Pinta Kamelia.


“Tapi, kamu tidak apa-apa, Nak?” Tanya Idris sedikit cemas. Secara, dia tahu kondisi menantunya belum terlalu stabil semenjak Milka terkubur.


“Tidak apa-apa kok, Pa. Kamel sudah banyak merepotkan Mama dan Papa selama ini. Makasih ya MA, Pa.” Ucapnya sungkan.


“Mama dan Papa tidak pernah merasa direpotkan, sayang. Ini sudah tugasnya Papa dan Mama.” Tukas Rahmah seraya mengelus lembut pipi menantunya itu.


“Ya sudah, setelah kamu menyusui Cakra. Kamu harus istirahat ya, Nak.” Perintah Idris.


“Iya Pa. Kalau gitu, Kamelia bawa Cakra ke kamar ya Pa, Ma. Sekali lagi, Kamelia berterima kasih sama Mama dan Papa.” Ucapnya seraya menampakkan sedikit senyumannya. Idris dan Rahmah menyahuti dengan membalas senyuman menantunya itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2