
Semua makanan yang dipesan Toni akhirnya ludes tidak tersisa. Suapan demi suapan yang masuk ke dalam mulut Toni membuat Iffah juga ingin menikmatinya. Namun, caranya benar-benar membuat Toni merasa kewalahan di dalam hati.
Dia ingin makan, jika hanya dari tangan suaminya. Ah, betapa repotnya Toni saat itu. Beruntung saja Toni suami penyabar yang dihadiahkan Allah untuk Iffah. Sehingga dengan suka rela, Toni melakukan apa pun yang diinginkannya. 'Asaal... Jangan melampaui batas'. Begitulah cara mereka menghargai dan menghormati satu sama lain.
"Kamu tunggu disini ya, Sayang." Pinta Toni ketika sampai di depan kantornya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Iffah dengan kening yang mengkerut. Tangannya yang sedari tadi menggamit lengan Toni, berusaha keras menahan langkah suaminya itu.
"Hemhh, bukannya kamu tadi ingin ubi rebus?" Sahut Toni kembali mengingatkan keinginan istrinya tadi.
"Sekarang sudah tidak ingin lagi... Aku kenyang, entah jika nanti." Ujar Iffah begitu acuh.
"Jadi?"
"Ya, pokoknya sekarang sudah tidak ingin..."
Toni menggeleng, dia tampak lelah meski sudah beristirahat sedari tadi.
"Tidak mengapa jika kita kembali ke ruang kerjaku?" Tanya Toni hati-hati.
Iffah mengangguk setuju. Tangannya sama sekali tidak berniat melepas lengan suaminya itu walaupun untuk sedetik.
__ADS_1
Apa yang terjadi? Kenapa Iffah akhir-akhir ini begitu berbeda?
Tidak masalah, hanya saja begitu tiba-tiba...
Toni tampak berpikir keras saat itu. Namun, dia tetap memperlakukan Iffah dengan begitu baik.
"Duduk yang baik ya, Sayang. Jangan rewel seperti anak kecil. Ok..." Gurau Toni ketika sampai di ruang kerjanya. Telapak tangannya yang lebar mengacak-acak kepala Iffah, namun tidak sampai merusak kerapian pasmina yang terpasang menutupi mahkota istrinya itu.
Iffah memanyunkan bibirnya mendengar pesan yang bernada gurauan itu.
Toni kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Seperti janjinya, Iffah berada disana hanya untuk melihat suaminya bekerja. Dia tidak mengganggu, dan tidak pula melakukan apa pun. Yang dilakukannya hanya memandang wajah Toni di sela-sela kesibukan dirinya membaca buku yang dibawanya dari rumah.
Oh Allah... Jangan sampai Engkau cemburu karenanya. Aku hanya memuji kebesaran-Mu yang telah menciptakan lelaki setampan suamiku. Meski aku tahu, Rasulullah masih memiliki ketampanan melebihi ketampanan Nabi Yusuf yang sudah terkenal hingga ke dalam kitab suci-Mu...
Dan jangan biarkan aku mencintai suamiku hanya karena dia begitu tampan saja. Karena aku, bahkan tidak pernah melihat rupa-Mu dalam mencintai-Mu...
Iffah tertidur dengan tenang di sofa yang dia duduki.
Toni tersenyum ketika istrinya itu masih menoleh kearahnya dengan mata yang sudah tertutup rapat. Perlahan, dia mendekati posisi Iffah.
__ADS_1
Toni memperbaiki posisi tidur istrinya itu dan mengecup lembut dahi lebar istrinya. Terimakasih sudah menemaniku, Sayang. Tidak hanya kamu, aku juga diuntungkan oleh permintaan konyolmu ini. Karena aku tau, betapa tersiksanya kita oleh rindu ini...~Bisik hati Toni.
Toni kembali ke meja kerjanya. Kalender meja yang tertata di sisi tepi mejanya mengalihkan perhatiannya seketika.
Dia tampak memikirkan sesuatu ketika melihat angka-angka yang tertera rapi berderet di dalam kalender kecil itu.
"Kenapa aku jadi malu jika memikirkannya, ya?" Bisik Toni kepada dirinya sendiri. "Tapi aku benar-benar tidak salah, bahkan sudah tiga minggu pula dari tanggal yang seharusnya." Bahu Toni bergedik.
Semakin dia mencoba untuk mengabaikannya, semakin dirinya dibuat penasaran dengan hal yang ada di dalam pikirannya saat itu.
Apa mungkin...?
Ah... Sebaiknya aku buat janji saja dengan dokternya... Tapi kalau tidak bagaimana? Pasti Iffah akan kecewa nantinya... Hmm, sebaiknya aku bilang saja untuk periksa lanjutan...
Dan, apa Iffah juga tidak menyadarinya?
Yaa Allah, sesungguhnya Engkau lebih mengetahui apa-apa yang tidak kami ketahui... Hamba mohon kepada-Mu, berikan aku dan istriku segala yang terbaik dari sisi-Mu Yaa Allah...
Toni mengusap wajahnya untuk mengaminkan do'a yang terbesit di dalam hatinya kala itu.
Dia tampak gemetaran. Pekerjaannya kembali tertunda akibat ketidak fokusannya saat itu.
__ADS_1
Dia terlihat ingin. Tetapi rasa takutnya jika mengenang penderitaan Milka kecilnya sebelum pergi, masih saja tidak bisa hilang dalam memorinya.
Dia dilema, namun semangat istrinya untuk memiliki anak membuatnya kembali kuat. Dia juga tidak ingin terlihat egois dengan terus-terusan merasa bersalah terhadap penyakit yang diderita Milkanya. Dia tau, itu hanya akan menyakiti perasaan Iffah, istrinya yang sudah berjuang penuh untuk memenuhi keinginan yang tersembunyi di dalam hatinya. Padahal istrinya juga sangat sulit untuk itu.