
"Pah, Papa masuk saja duluan. Toni masih ingin menghirup udara segar disini." Ujar Toni berbohong. Kala itu mereka telah sampai di teras rumahnya.
"Kok tumben?" Bobi mengerinyitkan dahinya seakan menangkap tingkah aneh putranya.
"Iya Pa. Entah kenapa udaranya segar sekali malam ini." Sahut Toni sambil terus menahan rasa sakitnya. Dia tidak ingin jika Bobi mengetahui bahwa kakinya saat itu sedang terluka.
"baiklah..." Akhirnya Bobi menurut. Dia meninggalkan Toni sendirian di teras rumah itu.
Setelah Toni yakin bahwa papanya benar-benar telah meninggalkannya sendirian disana, Toni segera memakai sendal jepit yang ada di depan pintu rumahnya itu.
Dengan sedikit terseok-seok, Toni membersihkan darah kakinya yang berceceran di lantai teras dengan menggunakan keset kain lap kaki yang ada disana.
Mudah-mudah nanti malam hujan lagi...~ Pintanya berharap. Dia tidak ingin darahnya yang berceceran sepanjang jalan diketahui oleh keluarganya.
Toni masuk ke dalam rumah dengan hati-hati agar darah kakinya tidak kembali berceceran di sepanjang perjalanannya menuju ke dapur.
Ya, dia langsung ke dapur untuk mencari pertolongan pertama pada kakinya yang masih mengeluarkan darah segar.
Toni mengambil beberapa bawang merah dan sesendok gula pasir. Kemudian dia menumbuk dua bahan tersebut dengan kasar saja.
"Alhamdulillah…" Ucapnya ketika tumbukan bawang dan gula itu di tempelkannya ke bagian kakinya yang sobek karena pecahan beling yang diinjaknya tadi.
Dia terlihat lega ketika darah yang tadinya mengucur deras dari telapak kakinya langsung berhenti seketika.
Setelah kembali membereskannya, Toni langsung beranjak menuju ke kamarnya dengan sebelah kaki yang menjinjit.
"Assalamu'alaikum…" Sapa Toni ketika membuka pintu kamarnya.
"Wa'alaikumussalam…" Sahut Iffah segera menjemput suaminya ke depan pintu kamar mereka. Dia terlihat tidak sabaran untuk bisa berdekatan dengan suaminya itu.
Iffah mencium punggung tangan suaminya, dan disambut kecupan hangat dari Toni di dahi Iffah yang lebar.
"Kenapa lama, Sayang?" Tanya Iffah sedikit bersungut. Entah kenapa, dia terlihat begitu merindukan suaminya itu.
Belum sempat Toni menjawab pertanyaan darinya, Tiba-tiba perut Iffah terasa bergejolak.
__ADS_1
"Ueeek…" Iffah seketika menutup hidung dan mulutnya. Dia merasa mual kala itu.
"S sayang, kamu kenapa?" Tanya Toni terlihat khawatir.
Iffah tidak menyahuti pertanyaan Toni, dia dengan segera berlari ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Dengan sedikit terseok-seok, Toni menyusul Iffah kesana.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Seru Toni dari depan pintu kamar mandi. Dia terlihat semakin mencemaskan istrinya meski kakinya yang terluka masih terasa begitu perih saat itu.
Iffah keluar dengan kondisi lemas setelah memuntahkan sisa-sisa makanan yang sempat di makannya tadi.
"Sayang, kamu kok bau bawang gitu?" Sungut Iffah kembali merasa mual.
"Oh, kamu mual karena bau bawang ya Sayang?." Tanya Toni terlihat merasa bersalah. "Maaf sayang, di telapak kakiku ada bawang."
Iffah mengkerutkan dahinya. Namun tangannya tidak lepas menutupi hidungnya sedari tadi.
"Untuk apa bawang di kakimu, Sayang?" Tanya Iffah keheranan.
"Kakiku sedikit terluka. Jadi untuk memberhentikan darahnya, aku kasih bawang." Ujarnya semakin merasa bersalah.
Saat itu, giliran Iffah yang mencemaskan suaminya.
"Kamu kok nanyanya gitu sih, Sayang. Satu-satu. Aku jadi terkejut mendengarnya." Gurau Toni berusaha menghentikan kekhawatiran istrinya.
"Sini aku lihat." Iffah menggandeng paksa tangan Toni menuju kearah sofa.
"Tidak apa-apa kok, Sayang. Bukannya kamu tadi mual jika bau bawang?" Toni kembali mengkhawatirkan Iffah.
"Sekarang sudah tidak." Sahut Iffah berbohong. Padahal perutnya begitu bergejolak saat itu.
Iffah mendudukkan Toni di sofa, sedangkan dirinya berlutut di hadapan Toni untuk melihat keadaan kaki suaminya itu.
"Yaa Allah… Ini sobek loh, Sayang. Sepertinya luka kaki kamu dalam deh." Seru Iffah semakin terlihat khawatir ketika membuka bawang yang menempel di kaki Toni.
"Oeeek…" Iffah tidak lagi mampu menahannya. Dia segera kembali berlarian ke kamar mandi setelah mengisyaratkan kepada suaminya untuk tetap duduk disana.
__ADS_1
Tak lama, Iffah kembali lagi setelah memuntahkan sebagian isi lambungnya.
"Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Toni tampak mengkhawatirkan istrinya itu.
"Iya... Lagian, kamu kenapa kasih bawang gitu?" Tanya Iffah keheranan.
"Dulu, ketika mendiang papa aku masih hidup. Papa akan segera ngasih pertolongan pertama seperti ini jika aku terluka." Ujar Toni mengenang kembali Papanya, Bram.
Matanya tampak berkaca-kaca sesaat.
"Memang begitu, ya?." Tanya Iffah bernada merasa bersalah karena dengan tidak sengaja telah membuat Toni mengenang papanya yang telah tiada.
"Iya... Dan Alhamdulillah, hasilnya cukup memuaskan" Ujar Toni kembali tersenyum. Dia tau bagaimana perasaan istrinya saat itu.
"Ini, kenapa bisa luka seperti ini?" Tanya Iffah penasaran.
"Tadi sendalku... Hmm sendal Ghali maksudku." Toni takut berbohong kepada Iffah. Dia yakin, nanti istrinya itu pasti akan tahu kalau sendalnya tidaklah hilang. "Sendal Ghali hilang di Masjid, sayang. Jadi aku menyuruhnya untuk memakai sendalku, sementara aku nyeker ke rumah." Ujar Toni berbohong.
"Jadi ini semua karena Ghali?" Pikir Iffah merasa tidak enak.
"Bukan, sayang. Jangan beritahu Mama, Papa dan Ghali ya sayang. Nanti mereka pasti khawatir. Apa lagi Ghali, bocah itu pasti akan merasa bersalah sekali nantinya." Pinta Toni berharap penuh kepada istrinya itu.
Iffah terlihat berpikir sejenak. "Tapi lukanya sangat dalam, Sayang. Kita ke Rumah Sakit, ya." Iffah masih saja belum berhenti mencemaskam suaminya itu.
"Tidak usah sayang. Nanti pasti sembuh kok." Elak Toni.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Iffah berjongkok di hadapan Toni dan menangis sejadi-jadinya.
"Loh, loh... Kamu kenapa tiba-tiba menangis seperti ini?" Toni begitu panik melihat istrinya yang tiba-tiba saja terisak-isak seperti itu.
"Pokoknya kita ke rumah sakit. Kalau tidak, aku akan menangis terus seperti ini." Ancam Iffah di balik sedu-sedunya. Dia benar menangis karenanya.
"Oke, oke... Kita ke rumah sakit" Toni menyerah. "Tapi kamu harus berbohong untuk kali ini kepada Mama dan Papa, ya" Pinta Toni mengajukan syarat terhadap istrinya itu.
Dengan terpaksa, Iffah mengangguk. Yang penting baginya saat itu, Toni bersedia diajak ke rumah sakit.
__ADS_1