TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
DORAEMON


__ADS_3

Sudah hampir pukul Sembilan malam, Iffah masih saja memandangi dua boneka biru putih itu sembari tersenyum. Matanya yang bening tampak memerah dan berkaca-kaca. Toni menghampiri istrinya itu kearah sofa, dan menyilangkan lengannya ke dada Iffah dari belakang.


Iffah sedikit tersentak karenanya, tangannya meraih lengan Toni yang masih bersilang di dadanya saat itu.


“Yang menyukai pemilik kantong ajaib ini ternyata bukan saja Milka dan Cakra sepertinya, istri cantikku ini tampaknya juga menyukai Doraemon ini.” Bisik Toni di ceruk leher Iffah.


“Siapa yang tidak menyukai Doraemon, sayang? Dia karakter lucu dan memiliki banyak keajaiban, sifatnya juga bijak dan baik.” Tutur Iffah sembari tersenyum getir.


“Kenapa tidak beli tiga saja tadi? Untukmu satu.” Sesal Toni.


“Aku tidak terlalu menyukai boneka, aku senang karena menghayalkan bagaimana bahagianya Milka dan Cakra nantinya ketika menerima boneka ini, sayang.” Tutur Iffah lagi.


“Dia pasti bahagia sekali, sayang. Apalagi yang memberi adalah kamu, mamanya.” Bisik Toni seraya mempererat dekapannya di tubuh Iffah. Wangi straubery yang keluar dari tubuh Iffah membuatnya betah berlama-lama disana.


“Kamu seperti ingin ******* habis tubuhku saja, aku jadi susah bernafas sayang.” Rengut Iffah sedikit meronta.


“Hehe… Iya maaf…” Seringai Toni seraya mengendorkan dekapannya ke tubuh Iffah. “Kamu aku perhatikan begitu senang ketika berada di Mall tadi, bukankah kata Ghali kamu tidak suka jalan-jalan ke Mall?” Toni masih begitu penasaran. Setahunya, selama dia mengenal Iffah, tidak sekalipun Iffah kesana.


“Kemanapun aku pergi, asal bersamamu, aku suka sayang. Aku tidak merasakan kebosanan sama sekali jika masih dapat melihat wajahmu. Maka dari itu, jangan pernah sakit lagi, hmm.” Pinta Iffah memelas. Dia melepaskan tubuhnya dari dekapan Toni. Iffah mengambil tangan Toni dan menggenggamnya dengan tulus dan perasaan yang begitu hangat.


“Iya, sayang. Aku tidak akan pernah sakit lagi untukmu.” Ikrar Toni. Iffah merebahkan tubuhnya ke dada Toni dengan perlahan.


“Kehidupan itu seperti air mengalir, namun terkadang juga seperti roda yang berputar. Hidup kita tidak akan terus damai seperti ini, sayang. Akan adakalanya kita menemui masa sulit nantinya. Berjanjikah kamu, bahwa kamu tidak akan pernah melepaskan genggaman tanganku jika hal itu terjadi terhadap kita?” Tanya Iffah sendu.


“Tidak akan pernah lagi aku melepaskan genggaman tanganmu sayang, kendatipun kamu yang memintanya. Aku tidak akan pernah rela untuk itu.” Ujar Toni seraya mendaratkan satu kecupan di kepala Iffah. “Dan rencana kita untuk memberi Milka adik lagi dari kamu, kita perlu bersabar sayang. Karena bersabar bukan berarti menyerah untuk itu. Hanya saja kita tidak boleh sedih, berkecil hati dan pesimis. Tiada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak, kita hanya perlu merayunya dengan tulus dan sangat harap.”

__ADS_1


“Maafkan aku, sayang. Aku hanya terlalu terburu-buru. Aku percaya setiap ucapanmu…” Bisik Iffah sambil mengalungkan lengannya di pinggang Toni dan semakin membenamkan wajahnya di dada lelaki yang sudah lama halal baginya.


“Iya… Dan Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Kita lakukan saja yang menjadi bagian kita, dan biarkan Allah melakukan yang menjadi bagiannya. Kamu percaya, bukan?” Tanya Toni segera mengeluarkan wajah Iffah dari dalam dadanya. Iffah mengangguk seraya menepiskan senyuman penuh kesabaran terhadap suaminya itu.


 ******


“Pagi, Ma. Pagi, Pa.” Sapa Ghali ketilka mendapati keluarga suami kakaknya sudah berada di meja makan.


“Pagi juga, Ghali.” Sahut Bobi dan Chellin hampir bersamaan.


“Kakak Ipar, thanks ya. Berkat kakak ipar, saya mendapatkan promosi naik jabatan di kantor.” Ungkap Ghali sembari tersenyum dan mengeluarkan lesung pipinya.


“Benarkah Ghali?” Tanya Iffah dan Chellin hampir bersamaan. Mereka begitu senang mendengar kabar itu.


“Alhamdulillah…” Ucap mereka lagi hampir bersamaan.


“Jangan sibuk kerja terus meskipun kamu telah naik jabatan, kenal-kenalkan dia ke kami setelah ini.” Pinta Toni dengan nada terdengar memaksa.


“Uhuk uhuk…” Ghali tersedak mendengar permintaan Toni yang begitu tiba-tiba. “Siapa?” Tanya Ghali setelah menghabiskan setengah gelas air.


“Siapa saja…” Sahut Toni acuh. Semuanya tersenyum melihat tingkah kakak dan adik ipar itu.


“Saya mau jagain kakak Iffah sajalah dulu.” Elaknya seraya kembali menyuapi sarapannya.


“Kakakmu sudah ada aku yang menjaganya, carilah perempuan lain yang harus kamu jaga.” Suruh Toni sedikit memaksa.

__ADS_1


“Ya sudah kalau gitu, karena kakak ipar yang menjaga kakak saya, saya menjaga kakak ipar saja.” Ketusnya. Toni memlototkan matanya mendengar penuturan Ghali yang terdengar memalukan baginya.


“Memangnya saya anak kecil, haah.” Toni sedikit berteriak mengomeli adik iparnya itu.


“Terkadang kakak ipar sampai lupa diri jika untuk kak Iffah, jadi biar saya melindungi kakak ipar saja. Ok.” Ghali segera bangkit dari


duduknya setelah menghabiskan paksa sarapannya.


“Mah, Pa. Ghali berangkat.” Pamit Ghali segera menyalami tangan kedua orang tua kakak iparnya itu. Dia sengaja menghindar dari Toni jika membahas tentang masalah percintaannya yang belum diketahui sama sekali oleh keluarga barunya itu.


“Dasar…” Celutuk Toni. Orang tua dan istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka yang terkadang seperti anak kecil di hadapan mereka.  “Kapan lagi dia akan memikirkan dirinya sendiri, jika terus-terusan memikirkan kakaknya. Lain kali kamu harus bujuk dia, sayang.” Pinta Toni masih dengan mengomel


“Kalau soal itu, papa ahlinya. Iya kan, Pa.” Iffah melemparkan tugas yang diberikan suaminya kepada papa mertuanya itu.


“Iya, Insya Allah. Nanti Papa coba…” Sahut Bobi mengiyakan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2