
Iffah kembali ke rumah Antoni yang baru semalaman itu dihuninya bersama keluarga Zulherman. Dia segera berlarian kearah kamar yang sempat di tempatinya. Tanpa dia sadari, Chellin melihat bingung kepadanya
ketika dia melewati ruangan depan hendak menuju kamar yang berada di bagian ujung rumah itu.
Iffah mengemasi semua barang-barangnya, air matanya yang nakal tidak henti-hentinya mengalir dari ruas matanya yang sudah mulai menyembab.
Kopernya yang tidak terlalu berat seakan berisi bongkahan batu di dalamnya. Dia begitu terluka semenjak mendengar pengakuan Toni tentang siapa Milka.
Iffah terduduk letih di lantai samping tempat tidur yang beralaskan seprei bewarna mustard kesukaan mendiang mamanya Toni itu. Dia menekukkan wajahnjya kelantai dan menepuk-nepuk dadanya yang terasa perih saat itu dengan kepalan tinjunya.
Dia masih saja terisak dalam kesedihan yang begitu mendalam. Semenjak dia lupa segalanya, itulah pertama kalinya hal yang membuatnya paling bersedih.
“Kenapa Yaa Allah? Kenap? Kenapa Engkau mempertemukan aku dengannya hanya untuk menumbuhkan rasa sakit di hatiku saja.” Isak Iffah semakin menjadi-jadi dalam simpuhnya.
Iffah kembali mengambil kekuatannya dan menarik kopernya keluar dari kamar itu.
“Iffah… Apa yang terjadi sayang?” Chellin yang sedari tadi penasaran segera menghampiri Iffah di depan pintu kamar tempat Iffah keluar darisana.
“Tidak apa-apa kok Bi. Iffah harus pulang hari ini juga.” Ujarnya datar.
“Loh, tapi kenapa begitu?.” Chellin tampak khawatir dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya sudah terjadi menimpa gadis itu.
“Tidak kenapa-kenapa Bi, apa Nenek dan pak Bobi belum pulang dari rumah suaminya Kamelia Bi?.” Iffah menanyakan keberadaan Nenek Toni dan Bobi yang tidak terlihat di rumah itu.
“Belum, Nak.” Sahut Chellin lagi masih bingung.
__ADS_1
“Kalau begitu, Iffah minta tolong sama Bibi agar sampaikan maaf Iffah kepada mereka ya Bi. Iffah harus pulang.” Ujarnya bersikukuh mempertahankan kekecewaan dan rasa sakit di hatinya untuk mengambil keputusan.
Chellin tidak lagi bisa berbuat apa-apa untuk mencegah keinginan gadis itu. Meski dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia tau saat itu ada sebuah kekacauan yang membuat gadis itu tampak terluka karenanya.
Iffah meraih tangan Chellin dan menciumi punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum benar-benar pergi dari sana.
*****
“Iffah… Iffah… Iffah…” Toni mengitari setiap sudut rumahnya hingga sampai ke kamar lamanya yang di tempati Iffah semalam.
“Toni… Hey Toni…” Chellin memanggil-manggil Toni yang terlihat kewalahan mencari keberadaan Iffah di rumah itu. “Kamu kenapa ngos-ngosan begitu, sayang?. Tenanglah…” Ujar Chellin lagi menenankan pemuda yang sudah dianggap putra kandungnya itu.
“Bi Chellin…” Toni memeluk perempuan paruh baya itu dan menangis sejadi-jadinya.
“Kamu kenapa, Nak?. Ceritalah dengan tenang.” Chellin mengusap lembut punggung Toni untuk menenangkannya. Tidak biasanya anak itu bersikap sampai segitunya bahkan sesedih apapun yang dirasakan hatinya.
“Iffah sudah pergi, dia bilang kalau dia harus pulang hari ini juga.” Tutur Chellin mengingat gadis itu juga menangis sehingga wajahnya jadi sedikit menyembab.
“Apa? Iffah sudah kembali ke kota?.” Nenek terlihat datang bersama Bobi di depan pintu rumah itu.
“Iya Bu, tadi Chellin bahkan sudah mencegahnya. Tapi Iffah begitu keras dan tidak bisa di cegah lagi.” Ujar Chellin menjelaskan kepada Nenek Toni yang perlahan mendekat kearahnya dan Toni bersama bantuan Bobi.
“Iffah naik apa tadi Bi?.” Tanya Toni kemudian, berusaha menenangkan dirinya.
“Dia naik delman minta diantarkan ke terminal.” Chellin bahkan masih ingat, karena dia yang mengantarkan gadis itu ke depan dan menghentikan delman yang kebetulan lewat.
__ADS_1
“Sebenarnya apa yang terjadi Toni?.” Tanya Bobi berusaha masuk ke inti permasalahan yang tengah di hadapi Toni saat itu.
Toni menceritakan apa saja yang di alaminya tadi di pelataran belakang. Hingga apapun yang membuat Iffah marah dan pergi. “Toni terlambat untuk datang menceritakannya sendiri Om. Toni yakin, pasti Misya telah banyak mengatakan hal buruk hingga Iffah begitu marah dan tidak mau mendengar penjelasan Toni.”
“Gadis itu,,, Masih saja sama. Tidak bisa berubah.” Gerutu Chellin yang sepertinya sudah mengetahui tabiat Misya.
“Lalu Toni harus apa sekarang, Om.” Toni tampak berputus asa dan memelas.
“Kita susul Iffah sekarang ya, sayang.” Usul Nenek yang mengiba melihat kesedihan di raut wajah cucunya itu.
“Tidak, Nek jangan. Biar Toni lihat di terminal saja dulu ya, Nek. Kalau Iffah sudah berangkat, kita susul besok pagi saja. Toni tidak mau nenek kenapa-kenapa jika kita berangkat malam. Ini tidak dekat, nek.” Toni masih terlihat bijaksana dan perhatian kepada neneknya meski suasana hatinya sedang kacau saat itu.
“Tapi nak.” Nenek berusaha protes terhadap keputusan Toni.
“Nenek, percayalah. Iffah pasti baik-baik saja. Nenek do’akan saja ya.” Toni berusaha meyakinkan Neneknya agar bisa lebih tenang.
Bobi dan Chellin mengangguk membenarkan ucapan Toni untuk menambah keyakinan wanita tua itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.