
Hingga malam kala itu, Iffah masih saja tertidur sembari memeluk suaminya di atas pembaringan yang hanya diperuntukkan untuk satu orang pasien saja.
Semua dari keluarga mereka berdua telah menunggu dengan perasaan haru disana.
Ghali, Bobi dan Chellin sudah berdiri menatap pemandangan haru di hadapan mereka sedari lepas isya tadi.
Meskipun dokter mengetahui hal itu, tetapi dokter membiarkan saja Iffah tertidur disana. Dokter bahkan ikut menunggui mereka untuk beberapa saat.
Ketika tenaga medis kami hendak melakukan pemeriksaan sore tadi, dia juga terkejut dengan pemandangan ini. Tenaga medis kami bahkan hendak membangukan istri pasien dan memintanya untuk segera istirahat di rumah. Tetapi, tenaga medis kami melihat pasien mengeluarkan air matanya.
Tanpa pikir panjang, tenaga medis kami memanggil saya untuk melakukan pemeriksaan secara langsung. Awalnya saya tidak percaya dengan ini, tetapi kekuatan cinta mereka telah memberi keajaiban terhadap pasien. Bahkan pasien sempat menggerakkan jemarinya sesaat.
Stimulasi terencana yang telah dilakukan istri pasien sedari awal beliau koma, dapat membangkitkan pasien dari situasi komanya.
Kita juga perlu berdo’a kepada-Nya agar harapan kita untuk pasien terkabulkan.
Hening…
Chellin begitu kuat memeluk Bobi dengan harapan yang terucap di dalam hatinya kala itu, seraya terus memandangi Toni yang terbaring lemah disana. Dia berharap akan kekuatan cinta yang diucapkan dokter itu mampu mengembalikan putranya.
Kemungkinan-kemungkinan yang dituturkan dokter kepada mereka, membuat mereka tidak ingin beranjak dari sana.
Mereka ingin terus menunggu sampai kapanpun, seperti Iffah yang sampai ketiduran disana.
Mereka ingin melihat Toni mereka membuka matanya seperti bayi yang terlahir ke dunia.
Di sebuah bangku taman yang indah. Toni tengah duduk bersama Bram kala itu. Mereka tampak tertawa sambil berbincang-bincang hangat disana. Sudah lama sekali mereka tidak bersama, bahkan sedari dia belum mengenal Iffahnya.
“Sampai kapan kamu akan disini terus bersama Papa, Ton?” Tanya Bram seraya menatapnya dengan penuh kehangatan.
“Selamanya mungkin, Pa.” Jawab Toni dengan sungguh. Tidak sedikitpun keraguan tampak di wajahnya.
“Lalu bagaimana dengan putrimu, Milka? Ah cucuku itu…” Tanya Bram lagi.
“Ada Kemil ayahnya, Pa. Toni tidak akan meragukan itu.” Sahutnya lagi seraya tersenyum.
“Tetapi dia sangat merindukanmu, Ton.” Tutur Bram meyakini Toni.
“Apa begitu, Pa?” Toni merasakan kegetiran mendengar putrinya juga merindukan dirinya.
__ADS_1
“Tidak hanya putrimu saja. Istrimu sudah sangat kurus menantikan kedatanganmu kembali kepada mereka, nak.” Ujar Bram seraya meraih pundak Toni. “Kembalilah kepada mereka. Dengan papa, suatu hari nanti kamu akan menemui papa kembali.” Bujuk Bram.
(Aku mohon, demi apapun, bangunlah…) Suara Iffah membuat Toni berdiri dari duduknya. Bulu pipinya meremang mendengar suara yang tidak begitu asing baginya saat itu. Dia memegangi dadanya yang terasa berat saat itu.
Toni berkeliling mencari asal suara yang membuatnya ingin kesana, hingga sebuah cahaya datang menyilaukan matanya saat itu.
“Toni… Anakku…” Seru Chellin hendak menghampiri putranya itu dari dekat, ketika penglihatannya mendapati mata Toni mengerjap sedikit demi sedikit.
“Biarkan Dokter memeriksanya terlebih dahulu, Ma.” Tahan Bobi seraya mengeratkan dekapannya ke tubuh Chellin.
Wajah Ghali tampak berbinar mendapati kakak Iparnya telah mulai sadar saat itu.
Setelah diperiksa dokter, entah apa yang dikatakannya kepada Bobi sebelum dia keluar dari ruangan itu.
“Ma-maa… Pa-paa…” Panggil Toni ketika dia baru tersadar. Air matanya kembali menetes di ruas-ruas tepi matanya.
“Iya, nak. Mama dan Papa ada disini sayang…” Sahut Chellin dengan air mata yang mengucur deras.
Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagi mereka saat itu melainkan atas kembalinya Toni dari komanya selama berbulan-bulan.
Toni menepiskan senyumannya kearah Ghali yang terlihat menangis bahagia menatap dirinya di sudut pembaringannya.
lebar di depannya.
Iffah segera turun dari atas tempat pembaringan pasien itu dan mundur beberapa langkah dari sana. Berkali-kali dia mengucek matanya untuk memastikan yang dilihatnya bukanlah sekedar mimpi belaka.
Toni menggerakkan kepalanya sedikit demi sedikit demi menoleh kepada istri yang sangat dirindukannya, dan selalu dirindukannya. Dengan perlahan dia berusaha mengangkat tangannya yang terasa berat setelah lama
terkulai di pembaringannya. Dia mengulurkan tangannya kepada Iffah seraya menepiskan senyuman di bibir pucatnya.
Kemanapun kamu berusaha untuk lari dan hilang, kamu tidak akan pernah lepas dari taqdirmu…
Seperti taqdirku. Mencintaimu selalu, meski dalam sadar atau pun tidak sadarku...
Aku hanya akan terus menunggumu, hingga kamu memantapkan hatimu hanya untukku. Dan melepaskan bayangan masa lalu yang terus berada dalam pelukanmu…
Aku pernah berpikir, akan lebih baik bagiku untuk melepaskanmu. Seseorang yang aku harapkan, namun terus saja memeluk bayangan masa lalunya…
Karena aku pernah merasakan bagaimana patah hati yang mematikan kala itu, hanya saja taqdirku ada padamu… Dan aku tidak bisa lari dan hilang darinya…
__ADS_1
Aku tau, ini sungguh egois bagimu… Tapi satu hal yang harus
kamu tahu, aku tidak pernah memakasmu dengan ambisiku dalam mencintaimuk selain
dari penantianku…
Aku masih ingat kala itu kamu meminta kepadaku. (Bantu aku agar bisa menjadi makmum yang baik, aku ingin ke surga bersamamu. Dan jangan lepaskan tanganku apabila aku memilih jalan yang salah di kemudian hari).
Dan aku tengah berusaha untuk itu.
Melihat itu bukanlah sebuah mimpi, Iffah tersenyum dengan air mata yang telah membanjiri pipinya. Dengan segera dia meraih tangan Toni yang sudah menantikan tangannya. Berkali-kali dia mengecup punggung tangan suaminya itu.
“Aku minta maaf… Aku minta maaf, Antoni. Aku salah…” Ucapnya di sela-sela tangisnya.
“Aku baik-baik saja bukan?, jadi jangan lagi menangis…” Pinta Toni dengan perlahan.
Iffah berlari memeluk Chellin yang berada di seberangnya.
“Mama, Antoni kita sudah kembali…” Serunya dengan senang. “Pah…” Iffah menoleh kearah Bobi setelah melepaskan pelukannya dari Chellin. Bobi tersenyum dengan mata yang lembab seraya membelai lembut kepala Iffah yang dilapisi kerudung jingganya.
“Ghali… Lihatlah, kakak iparmu sudah kembali, Dek.” Seru Iffah bersemangat seraya mendekat kearah Ghali. Ghali mengangguk sembari mengusap kasar pipinya yang basah. Dia tersenyjum melihat senyuman bahagia kakaknya yang sempat hilang beberapa bulan itu.
“Mendekatlah… Kenapa semuanya menjauhiku?” Sungut Toni. Chellin dan Bobi tertawa karenanya. Mereka segera mendekat, dan memeluk Toni mereka yang sudah lama tidak bersuara seperti itu.
Kamu tahu? Meskipun kamu sudah kembali, tapi rindu ini tidak ingin hilang dari hatiku. Dia sudah terbiasa berada disini.
Dan kamu tahu? Saking bahagianya aku saat ini, aku ingin bersorak dan memberitahukan ke seluruh dunia bahwa Antoniku sudah kembali lagi.
Terimakasih Yaa Rabb…
.
.
.
.
.
__ADS_1