TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KEMUNCULAN YANG TIDAK TERDUGA


__ADS_3

"Kakak ipar..." Seru Ghali ketika menemui Toni yang tengah berdiri sambil celingak-celinguk di pinggiran Taman Kota. Tampang kusut dan menyedihkan, itulah gambaran kakak iparnya saat itu.


"Ghali..." Toni menghadap kearah Ghali yang berusaha berlari mendekati dirinya. "Ghali, kakakmu tidak ada disini... Dia menghilang entah kemana. Padahal dia telah berjanji untuk menungguku di bangku itu." Tutur Toni panik. Rasa khawatir yang menghantui perasaannya saat itu, membuat dirinya tampak frustasi.


"Kakak ipar tenang..." Ujar Ghali berusaha menenangkan Toni.


"Bagaimana saya bisa tenang Ghali? Kakakmu, istriku, dia hilang... Seharusnya dia ada disana. Tetapi ketika saya kembali dia sudah tidak ada. Saya sudah berusaha menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif sama sekali. Saya sudah berusaha mencarinya, tetapi saya tidak berhasil menemukannya, Ghali. Seharusnya saya tidak meninggalkan dia sendiri. Ini semua salah saya. Saya yang salah..." Toni semakin frustasi. Mata dan wajahnya memerah. Dia seperti kehilangan akal saat itu.


"Tenanglah kakak ipar. Kakakku pasti baik-baik saja. Percayalah..." Ujar Ghali lagi. Saat itu dia hanya berusaha menghibur dirinya sendiri. Bahkan dia tidak tau apa yang akan terjadi kepada kakak dan calon keponakannya.


"Ayo kita menemui kak Iffah, Kakak Ipar." Ajak Ghali seraya melangkah kembali kearah motornya terparkir.


"K-kamu tau dimana Iffah sekarang, Ghali?" Pertanyaan Toni menghentikan langkah kaki Ghali. Dia kembali menghadap kearah Toni yang sedikit tertinggal olehnya.


"Sebenarnya, yang membawa kak Iffah adalah ibuku, Kakak ipar." Ungkapnya getir. Tubuhnya mulai menggigil seketika. Ingatan betapa kejam ibunya itu kembali menari dalam memorinya. Yang dia tau, tujuan ibunya hanyalah mencelakai kakak tirinya itu. Apalagi semenjak ayah mereka tiada.


Toni terkesiap. "K-kamu tau darimana, Ghali?" Tanya Toni seraya menghampiri adik iparnya itu dengan perlahan.


"Ibu... Ibuku yang telah membawa kak Iffah, Kakak ipar." Ungkap Ghali seraya menjatuhkan diri di posisi tempatnya berdiri.


Deg.


Jantung Toni berdetak kecang. Cerita Ghali tentang kenekatan ibunya itu terhadap Iffah kembali terngiang di gendang telinganya.


Toni dengan cepat mengembalikan kesadarannya. Dia tahu, bahkan Ghali lebih terguncang dan merasa takut saat itu. Karena Ghali sendiri yang menyaksikan bagaimana kejamnya ibu kandungnya itu terhadap Iffah.

__ADS_1


"Kamu bilang, kamu tau dimana keberadaan Iffah sekarang, bukan? Ayo kita kesana, Ghali." Ajak Toni berusaha menenangkan adik iparnya itu.


Ghali mengangguk. Dengan cepat, Ghali merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya.


"Hallo. Kantor polisi? ... … …" Cairan bening mengalir begitu saja di pipi Ghali.


"Ghali...?" Toni tidak habis pikir dengan tindakan adik iparnya itu. Sesuatu yang sangat bertentangan dengan hati Ghali.


"Sekarang saya baru merasa menyesal, kenapa dulu saya membiarkan ibu saya lolos begitu saja, Kakak Ipar." Ungkap Ghali. Dia terlihat linglung saat itu.


Entah bagaimana hancurnya perasaan Ghali. Dia sendiri yang telah melaporkan ibu kandungnya ke kantor polisi.


"Ayo Ghali. Sebelum terlambat. Ikutlah bersamaku, kamu sedang tidak baik saat ini." Ajak Toni seraya menarik lengan adik iparnya itu. Ghali menurut.


*****


Iffah terus saja memandangi punggung suaminya yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.


Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya datang dan berdiri tepat di hadapanya. Mata Iffah membulat. Dia bangkit dari bangku taman yang didudukinya. Wajahnya terlihat ketakutan dan memucat ketika mendapati seseorang yang ia kenali sebelumnya.


Kakinya berjalan mundur. Matanya pun tidak henti-henti menatap lekat kearah wanita di hadapannya saat itu.


"Apa kabar kamu, Iffah?" Senyuman menyeringai menghiasi wajah liciknya.


"Ja-jangan coba-coba mendekat, ibu." Hardik Iffah dengan suaranya yang terdengar bergetar. Ponsel yang sedari tadi berada dalam genggamannya dibuatnya menghubungi Ghali.

__ADS_1


"Ghali... Ibu..." Dengan sigap, wanita paruh baya itu merampas ponsel Iffah dan memutuskan sambungannya. Dia menonaktifkan ponsel Iffah segera.


"Jangan coba-coba berteriak, atau..." Wanita paruh baya itu mendelikkan matanya kearah sebuah mobil yang siap mengarah dan mencelakai Antoninya.


Iffah terkejut. Dia menelan kasar ludahnya. Rasa cemas terhadap Toni membuatnya menyerah dalam perangkap wanita paruh baya yang tidak lain ibu tirinya, ibu kandung Ghali.


Dia tidak pernah menduga sebelumnya, bahwa ibu tirinya itu akan kembali muncul dan terus saja mencoba untuk mencelakai dirinya.


Entah kebencian apa yang tertanam di hati Ibu Ghali terhadap Iffah, sehingga dia tidak pernah membiarkan Iffah merasa bahagia sama sekali.


Dia terus saja mengacaukan kebahagiaan yang dirasakan Iffah. Bahkan setelah membuat Arjuna tiada sekalipun.


"Ikut saya..." Perintah ibu tirinya seraya menarik kasar lengan Iffah.


Jangan takut ya, Sayang. Kita pasti akan baik-baik saja...~ Gumam Iffah berusaha menenangkan dirinya sendiri. Tangannya memegangi perut buncitnya. Dengan gemetar, kakinya melangkah dan mengikuti ibu tirinya itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2