
Mungkin hari ini semakin ringan, beban yang ada semakin berkurang. Dia menjadi wanita yang istemewa setelah menerima segala kekuranganku di masa lalu. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahukan Iffah tentang siapa Milka, karena dia juga menyukai putri kecilku itu setelah beberapa kali bertemu semenjak kesalah pahaman di hari itu terjadi.
Ya, minggu lalupun Kemil mengajak Milka bersama Kamelianya berkunjung kesini. Momen yang paling membahagiakan ketika aku membawanya berkeliling bersama Iffah, kami terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
Terkadang pikiran jahat merasuk naluriku. Aku berharap agar Iffah tak lagi menemukan memorinya yang hilang di masa lalu, lalu kamu menikah dan hidup berbahagia sampai maut memisahkan kami. Simpel bukan?.
Tapi entahlah, Ghali mengatakan itu bisa saja terjadi. Tetapi kemungkinan kecilpun juga ada untuk Iffah kembali menemukkan memorinya.
“Pgi Nek, Mah, Pa…” Toni menghampiri keluarga kecilnya yang sudah menunggu dirinya bergabung untuk sarapan.
“Pagi…” Sahut mereka hampir bersamaan seraya menepiskan senyuman manis untuk lelaki tampan yang menjadi kebanggaan mereka di rumah itu.
Tampaknya mereka sudah saling terbiasa dan tidak lagi memiliki kecanggungan satu sama lain.
“Bagaimana dengan rencana lamaranmu nanti, Nak? Apa kamu sudah mempersiapkan cincin yang pas untuk Iffah.” Bobi memulai percakapan sebelum mereka menyantap sarapan yang masih baru di sendoki Chellin.
“Sudah, Pa. Toni akan buat malam nanti menjadi malam yang spesial untuk kami berdua.” Toni terlihat bersemangat menyahuti pertanyaan Bobi.
“Hmmm, mama serasa ingin muda kembali karenanya.” Seru Chellin begitu senang melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah lelaki yang bersedia memangilnya mama.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan nenek di beri kesempatan untuk melihat kamu menikah nanti, Sayang.” Ujar Nenek berharap.
“Neneeek, Toni tidak suka Nenek membahas yang bukan-bukan. Toni bahkan baru saja menikmati kebahagiaan ini. Dan Toni ingin Nenek, Mama dan Papa menyaksikannya.” Tegas Toni seraya menciumi punggung tangan neneknya yang mulai keriput di usia senjanya itu.
__ADS_1
Bobi tersenyum seraya merengkuh bahu Chellin yamng berada di sampingnya kala itu.
“Sudah, ayo dimakan. Hari ini bukannya kamu ada persentasi, Ton?” Bobi mulai menyuapi sarapannya
“Iya Pa…” Sahut Toni ikut menyantap makanan yang sudah terhidang di depannya.
******
Kamu tau?
Aku telah memiliki ide cerita di balik hujan. Meski aku tidak tau hari ini akan hujan.
Bintang bersembunyi dan tidak menampakkan kerlap-kerlip sinarnya, mungkin, karena dia tengah cemburu kepadaku yang hendak memintamu.
Hujan juga bukan selalu berarti petanda kesedihan Bumi, tetapi bagiku, dia hanya ingin menciptakan sebuah kenangan untuk kita di musim setelahnya.
Iffah menutup bibirnya yang sempat ternganga dengan jemari tangan kirinya. Dia merasa terharu di perlakukan bak ratu di tempat yang tidak begitu istimewa, namun pernah menjadi kenangan oleh mereka ketika Toni menyampaikan isi hatinya kepada Iffah. Bayak mata yang ikut terharu menyaksikan hari kebahagiaan mereka saat itu.
Gerimis semakin menderas membasahi tubuh mereka di senja tanpa jingga kala itu. Toni masih saja menunggu jawaban dari Iffah, meski reaksi Iffah sudah memberitahukannya.
Iffah mengangguk pelan. Sementara Toni menjatuhkan lututnya di hamparan rumput jarum yang menghiasi taman itu. “Terimakasih Yaa Rabb…” Ucapnya berkali-kali.
“Bisakah kamu simpan cincin ini hingga aku halal menyentuhmu? Dan kemudian memasangkannya di jari manismu.” Pinta Toni setelah berdiri dari berlututnya.
__ADS_1
Iffah meraihnya dari tangan Toni. “Terimakasih sudah melamarku Antoni.” Ucap Iffah lirih. Dia terus memandangi cincinpemberian Toni sebelum menutupnya kembali.
“Kamu menyukainya?.” Iffah mengangguk pelan seraya melukis senyum bahagia di bibir tipisnya.
“Basah, nanti kamu sakit lagi.” Iffah mengalihkan suasana haru yang terjadi. Dia begitu tidak kuat dengan debaran yang terjadi saat itu di dalam dadanya.
“Hujan sudah mulai reda, ayo kita menemui mereka.” Toni memutar tubuhnya hendak berlalu meninggalkan tempat itu.
“Mereka?” Iffah menatap bingung punggung Toni yang seketika menghentikan langkahnya.
“Keluargaku dan Ghali. Mereka sudah menunggu kita untuk makan malam di rumahku.” Sahut Toni seraya kembali membalikkan tubuhnya untuk menghapus kebingungan Iffah.
“Ghali?” Namun Iffah semakin terlihat bingung karenanya.
“Iya, Ghali sudah menunggu kita di rumah Nenekku. Mama yang telah mengundangnya.” Tutur Toni kembali. “Ayo… Kasihan mereka menunggu lama”
“Mm, baiklah.” Iffah akhirnya menurut, dia bahkan tidak tau, bahwa itu sebuah kejutan untuknya di hari lamarannya yang begitu spesial dari Toni.
.
.
.
__ADS_1
.
.