TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
KALUNG PEMBERIAN NENEK


__ADS_3

“Apa kamu letih, sayang?” Tanya Toni seraya mengusap lembut kepala Iffah yang berada dalam dekapannya malam itu.


Sudah dua malam terakhir Toni dan keluarganya menginap di desa, dan sore tadinya mereka telah sampai kembali di kediaman Zulherman. Malam itu, Toni duduk berselonjor di atas tempat tidurnya sambil mendekap Iffah yang


bersandar di dada bidangnya.


“Aku tidak pernah lelah jika bersamamu, apalagi untuk bertemu Milka. Hmmm… Cakrawala juga sangat menggemaskan sekali…” Ungkap Iffah dengan begitu gemasnya.


“Terimakasih sayang…” Toni mengecup kepala Iffah yang dekat dengan dagunya saat itu.


“Kamu selalu berterimakasih untuk hal kecil sekali pun.” Ujar Iffah datar.


“Karena tiada ketulusan yang akan di balas dengan sesuatu selain dari terimakasih…” Bisik Toni di telinga istrinya itu.


Sesaat Toni membenarkan posisinya. “Telah banyak yang kamu lalui hidup bersamaku, sayang. Dan belum ada apa pun yang aku berikan untukmu.” Tutur Toni dengan getir.


“Aku tidak lagi ingin apa-apa, karena hidup bersamamu saja sudahmerupakan  pemberian yang begitu besar dari Allah untukku. Dan aku bahkan tidak tau harus berterimakasih seperti apa lagi kepada-Nya. Dia begitu baik kepadaku.” Iffah memandangi wajah getir suaminya. Lalu mengusap lembut di pipi Toni dengan telapak tangan mulus miliknya.


“Oh iya, ada sesuatu yang sempat aku lupakan sayang.” Toni bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah menuju  lemari ujung kamarnya itu. Iffah hanya memandangi suaminya dengan raut wajah bingung bercampur rasa penasaran di benaknya.

__ADS_1


Tidak lama, Toni kembali dengan membawa sebuah kotak perhiasan yang di ambilnya dari laci lemari itu.


“Harusnya aku sudah memberikannya dari sebelumnya kepadamu, sayang.” Ungkap Toni dengan wajah tidak enak.


“Memangnya itu apa?” Tanya Iffah sembari menatap lekat ke kotak yang berada dalam genggaman suaminya itu.


“Karena kamu yang berhasil menjawab tebak-tebakan dari Nenek waktu itu, jadi nenek memberimu hadiah ini. Nenek menitipkannya kepadaku pagi, sebelum pernikahan kita. Pagi sebelum beliau pergi. Bahkan beliau memintaku memberikannya kepadamu karena takut tidak sempat kala itu… Dan pada akhirnya, itulah kenyataannya.” Tutur Toni kembali getir. Tampak kesedihan kembali mengelamkan wajahnya.


Iffah menggenggam tangan Toni, dan memberikan kehangatan untuknya.” Bukankah aku sudah pernah mengingatkanmu kembali kala itu? Kamu sendiri yang menasehatiku, tetapi pada dirimu sendiri pengecualiannya.”


“Aku hanya terkenang, sayang. Nenek begitu menyayangiku, dan Nenek juga memberiku mama dan papa. Serta nenek pula yang membuatku berani menghalalkanmu. Dari nenek, aku menemukan banyak cinta dalam kehidupanku.” Mata Toni mulai menelaga. Tapi dengan segera di tepisnya dengan menghirup dalam-dalam udara di sekelilingnya saat itu.


Toni membuka kotak itu, dan mengeluarkan sebuah kalung dari dalamnya.


Iffah tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Dia membalikkan tubuhnya memunggungi Toni.


Toni memasangkan kalung pemberian dari Neneknya untuk Iffah di leher istrinya itu.


“Kalungnya bagus, pasti ini sangat mahal sekali…” Ucap Iffah dengan begitu senang, tapi tidak mampu menyembunyikan rasa sungkan di wajahnya saat itu.

__ADS_1


“Yang sangat penting, kalungnya begitu berharga bagi Nenek. Dan di berikannya untukmu yang juga begitu berharga pula di hidupnya.” Iffah mengkerutkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan suaminya itu.


“Kalung ini merupakan pemberian kakek untuk Nenek waktu kakek melamar Nenek dulunya.” Tutur Toni menjelaskan apa yang pernah di katakana Neneknya dulu saat menitipkan kalung itu kepadanya.


Iffah terbelalak tidak percaya akan penjelasan Toni.


“Ya ampun, berarti kalung ini benar-benar sangat berharga untuk Nenek.” Ucap Iffah lirih. “Pasti nenek begitu istimewa bagi kakek, sehingga kakek memberikan kalung ini kepada nenek.” Iffah begitu terharu membayangkan itu semua.


“Iya, seperti Nenek menjaadikanmu begitu istimewa baginya. Apa pun yang terjadi, tetaplah bersamaku sayang.” Pinta Toni lirih seraya membawa Iffah ke dalam dekapannya kembali.


Iffah mengangguk, dia menyandarkan kepalanya ke dada Toni dan mengambil kenyamanan disana.


Meski kamu telah Allah halalkan bagiku, tapi namamu akan tetap ada dalam setiap sujud terakhirku.  Karena entah mengapa, aku menakuti setiap kejadian hari ini, yang hanya akan berubah menjadi kenangan di hari esok.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2