TIRAI MASA LALU

TIRAI MASA LALU
MEMINTA SARAN


__ADS_3

Sudah hampir gelap kala itu, Toni masih saja berlarian sepanjang terminal bus di desanya untuk mencari keberadaan Iffah. Bahkan sudah beberapa kali dia turun naik bus dan bertanya kepada knek dengan menyebutkan


ciri-cirinya beserta warna pakaiannya yang  masih diingat Toni sebelum Iffah pergi tadi.


Ketika aku ingin menentukan jalan untuk diriku sendiri, kenapa masih saja ada halangannya?


Kamu dimana Iffah? Jangan membuat diriku cemas disini…


Toni tersandar di sebuah bus yang hendak berangkat ke kota sore itu. Tanpa dia sadari, Iffah berada tepat di belakangnya. Hanya saja Iffah yang mengetahui Toni mengejarnya sampai kesana, segera menyembunyikan kepalanya ke bawah agar tidak terlihat oleh Toni.


Untuk apa kamu masih mengejarku? Belum cukupkah bagimu untuk mempermainkan hatiku?~ Iffah terisak mengingat ucapan Misya yang begitu tajam menjelaskan siapa Toni yang sebenarnya.


Memori tentang Toni begitu akrab dengan Milka dan sedikit canggung kepada Kamelia kembali menari dalam ingatannya.


Bagaimana aku bisa untuk tidak percaya terhadap ucapan perempuan yang bernama Misya itu? Karena sebetulnya memang itu yang terlihat darimu, Antoni.


Aku bahkan tidak tau kenapa aku bisa sebodoh ini? Sampai-sampai aku tidak menyadarinya dari awal.


Iffah tidak sedikitpun berniat menyeka air matanya yang mengalir dengan deras melalui ruas-ruas matanya yang semakin menyembab sedari tadi.


*****

__ADS_1


Setelah mengirimka pesan singkat kepada Bobi, Toni tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia terlebih dahulu mampir ke kediaman Arayan. Tempat dimana dia bisa melupakan barang sejenak segala permasalahannya dengan


menemui putri kecilnya.


“Apa ada masalah?.” Sebuah pertanyaan mendarat dari bibir Kemil ketika dirinya tengah memeluk erat balita mungil itu dengan serakah di halaman belakang rumah.


“Aku terlambat Kemil.” Ujarnya singkat dan mata sedikit berkaca-kaca. Berkali-kali dia mengedipkan matanya yang sedikit menyipit itu agar tidak menumpahkan cairan bening dari dalamnya.


“Maksudmu Ton?.” Kemil mengerinyitkan dahinya tidak mengerti dengan ucapan sepupunya itu.


“Baru saja aku hendak menceritakan semuanya kepada Iffah, Misya telah terlebih dahulu mengacaukan semuanya.” Kemil terkejut mendengar penuturan Toni.


Toni mengangguk pelan seakan menyerah dengan keadaannya saat itu.


“Perempuan itu, entah apa yang diinginkannya…” Kemil bahkan terlihat ikut marah mendengar nama Misya.


“Entahlah Kemil, Aku bahkan juga tidak tau lagi apa yang dia mau.” Sahut Toni dengan nada lelah.


“Milka sepertinya telah nyenyak di pangkuanmu, biark aku pindahkan ke kamar.” Pinta Kemil seraya meraih Milka dari pangkuan Toni.


Setelah mengantarkan Milka ke kamar, Kemil kembali menemui Toni di halaman belakang rumah. Dia tau, saat itu sepupunya sangat membutuhkan seorang teman yang bisa diajaknya untuk bercerita dan mendengarkan keluh kesahnya.

__ADS_1


“Aku harus bagaimana Kemil?” Tanya Toni berharap sebuah saran.


“Memang sulit, Ton. Sungguh, tidak ada yang bisa mengerti seorang wanita. Tapi tidak ada salahnya jika kamu mau untuk terus memperjuangkan cintamu terhadapnya. Dia juga harus mendengar cerita versimu, meski kamu harus sedikit memaksakan. Percayalah, jika kamu benar-benar ingi dirinya menjadi mama untuk Milka dan anak-anakmu kelak. Perjuangkanlah cintamu, ini belum terlambat bagimu dan baginya untuk mengetahui hal yang sebenarnya.”


Tutur Kemil begitu bijak meyakinkan hati sepupunya itu.


“Ya, terimakasih Kemil. Kamu benar, dan mudah-mudahan Ghali adiknya masih mau membantuku untuk melunakkan hatinya .” Toni menghembuskan nafasnya dengan lega setelah mendengar penuturan Kemil.


Mereka terus mengobrol sampai larut tentang banyak hal hingga Toni mampu melupakan keluh kesahnya.


Aku beruntung masih punya keluarga, aku punya Kemil dan yang lainnya. Aku beruntung masih punya mereka. Yang mau memaafkan kesalahanku, menerimaku kembali meski telah banyak melakukan kesalahan, menasehatiku dan paling terutama bagiku selalu ada ketika aku susah dan membutuhkan mereka di sampingku.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2