
Jingga menampakkan sinarnya pada sore itu di ufuk barat. Meski belum mencapai tujuannya, namun semerbak aroma daun teh telah bersarang di hidung Toni. Dia menghirup begitu dalam udara segar di desa tempat ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh papanya seorang diri.
Ya, meski masa lalunya tidak untuk di kenang lagi. Tetapi dia begitu hafal apapun yang pernah dia alami, bahkan dia masih ingat setiap jengkal tempat dirinya pernah melakukan dosa di masa lampaunya, terhadap Kamelia dan kakak lelaki mamanya sendiri.
Sudah lepas Ashar kala itu, namun Toni masih saja setia pada kursi kemudinya. Dia tidak terlihat lelah sama sekali, menguappun tidak terdengar dan terlihat darinya sedari tadi.
“Tidakkah kamu ingin bersantai barang sejenak, Ton? Kamu seakan menganggap sepele saja Ommu ini.” Bahkan Bobi sudah berulang kali menawarkan diri untuk menggantikannya.
“Tidak apa kok Om. Tanggung, bahkan aroma perkebunan teh kakek Adipati sudah menusuk hidung Toni sedari tadi.” Elaknya masih tetap fokus mengemudi dengan tenang.
Sesekali mobil yang dibawanya berdentum karena bebatuan jalan yang sudah tidak mampu lagi dihindari ban mobilnya.
“Apa Nenek kelelahan?.” Tanya Toni seraya menoleh sedikit ke belakang untuk menengoki keadaan Neneknya.
“Faktor umur yang membuat nenek kelelahan sayang. Kamu harusnya yang kelelahan. Dari pagi tadi menyetir, Cuma waktu shalat dan makan saja kamu berhenti.” Ujar Nenek menyauti dengan cemas pertanyaannya.
“Iya Nenekku yang cantik… Toni kan masih muda.” Seringainya menenangkan kekhawatiran perempuan tua yang sangat disayanginya itu.
“Mau main tebak-tebakan?.” Ajak nenek menghangatkan suasana. Dia tau, sedari tadi Iffah dan cucunya terlihat canggung.
“Mau, mau…” Mereka serentak menyauti ajakan Nenek. “Mau bu, ibu mau kasih tebak-tebakan apa lagi sekarang?. Kali ini Bobi akan menjawabnya dengan benar.” Bobi dengan semangatnya menantang.
“Baiklah, siapapun yang dapat menjawabnya akan Nenek kasih hadiah. Tapi siapa yang tau jawabannya diam ya.” Tutur nenek memberi aturan.
Iffah terbengong sendiri mendengar penuturan nenek, tapi dia lebih memilih untuk mendengar saja.
“Yey, hadiah.” Chellin tampak semangat mendengar kata hadiah.
“Ada seseorang yang tidur, terus dia bermimpi…”
__ADS_1
“Apa mimpinya bu?.” Tanya Bobi seakan tidak sabaran.
“Makanya, kamu dengarin ibu dulu, sayang.” Tegur Chellin cepat.
“Dia mimpi sedang berada di atas jembatan. Tetapi dia terjebak disana, di depannya ada harimau yang siap mengoyak tubuhnya, di belakangnya ada banyak ular berbisa yang siap menggigitnya, dan kalau terjun ke
sungai ada buaya yang siap menerkamnya. Kalau mau terbangpun sayap tidak punya. Jadi orang itu harus lari kemana?.” Nenek begitu antusias memberi mereka teka-teki yang menurutnya begitu sulit.
“Kemana ya?” Chellin tampak bingung hendak menjawabnya. “Semua tampak sulit, Bu.” Tambahnya lagi seraya menggeleng.
“Kamu tau, Bob?.” Tanya Nenek menantang.
“Mungkin mesti terjun deh, Bu. Soalnya kan tidak adil jika harimau yang mendapatkannya.” Saut Bobi asal.
“Iya, Nek. Toni setuju sama Om Bobi. Semuanya sama-sama bunuh diri.” Toni ikut menyauti ucapan asal Omnya itu.
“Weleh-weleh…” Nenek menggeleng-geleng mendengar jawaban Bobi dan Toni. “Asal nyerocos saja nih bocah. Kalau kamu tau tidak, sayang?.” Nenek bertanya dengan lembut kearah Iffah yang hanya tersenyum melihat keluarga itu begitu heboh dan menggelikan.
“Kalau kamu tau, kenapa kamu diam saja, sayang?.” Chellin menatap heran sekaligus penasaran dengan jawaban Iffah.
“Tadi nenek bilang, siapa tau diam saja.” Ujar Iffah tanpa dosa.
“Haaaa, iya juga ya. Tadi kan nenek bilangnya gitu.” Toni tercengang mendengar penuturan Iffah.
“Sekarang sudah boleh, soalnya tidak ada yang tau juga.” Perintah nenek sambil terkekeh.
“Ya, dia harus bangun dari tidurnya dong, nek. Diakan Cuma mimpi.”
“Waaaaah.” Mereka bersorak gemes.
__ADS_1
“Ah, Ibu keterlaluan. Masa menjebak begitu.” Protes Chellin.
“Namanya juga tebak-tebakan.” Nenek tak henti-hentinya terkekeh.
Semenjak aku mengenal beliau, baru ini kali pertama beliau tertawa seperti itu. Apa papa bahagia?.
Toni terus saja memandangi neneknya dari balik spion, beliau tampak bahagia mengusap-usap pundak Iffah dan sesekali bersandar di bahu gadis itu. Toni menepiskan senyuman tipis di bibirnya yang tidak terlalu tebal itu.
Tanpa terasa, tawa membawa mereka sampai ke rumah yang pernah dihuni Toni bersama almarhum papanya dulu. Iffah terus memandangi Toni yang masih berdiri di dekat mobilnya seperti tidak ingin beranjak dari sana.
"Apa disini kenangan itu tercipta?." Tanyanya ketika mencapai sisi Toni.
Toni menyauti dengan anggukan pelan terlihat mengiba.
"Jadi, kapan waktunya?." Tanya Iffah lagi.
"Waktu?." Toni seakan tidak mengerti tentang waktu yang ditanyai gadis itu.
"Waktu bagimu untuk menceritakan kepada calon istrimu ini, semua hal penting dalam hidupmu." Iffah berlalu tanpa menunggu jawaban dari Toni.
Toni tersenyum mendengar penuturan Iffah, namun tak ingin menghentikan langkah kaki gadis itu yang seakan memberi waktu untuknya berfikir.
Tanpa mereka sadari, seseorang yang hendak mendekati mereka mengurungi niatnya dan kembali menjauh.
.
.
.
__ADS_1
.
.