
"Waaah... Betapa lucunya keponakan Paman..." Seru Ghali dari arah depan rumah. Hari itu, dia sudah diizinkan pulang oleh pihak Rumah Sakit. Dua hari setelah kepulangan Iffah, sebelumnya.
Ghali meraih Bayi mungil Jingga dari gendongan kakaknya itu.
"Hati-hati, Dek. Lukamu belum kering." Ujar Iffah khawatir.
"Tidak apa Kakak. Ghali sudah sembuh." Sahutnya bergegas duduk di kursi ruang utama, tempat Iffah dan keluarga suaminya menantikan kepulangan Ghali.
"Kenapa semua dari wajah keponakanku merupakan salinan darimu dirimu, kakak ipar?" Tanya Ghali sedikit merengut. Dia mengamati dengan lekat setiap sudut wajah Jingga yang masih merah dan mentah.
"Waktu mengandung Jingga, Kakakmu ngidam diriku. Dia sama sekali tidak bisa jauh dari kakak iparmu yang tampan ini." Sahut Toni percaya diri.
Satu cubitan halus mendarat di pinggang Toni, sehingga dia sedikit meringis karenanya.
"Kenapa kamu marah, Sayang? Itu kenyataannya, bukan?" Ungkap Toni sambil menggosok-gosok pinggangnya tanpa rasa bersalah. Pipi Iffah semakin menampakkan kememerah-merahan disana.
"Haruskah kamu beritahukan kepada semua orang tentang itu?" Bisik Iffah ke telinga Toni. Matanya melotot penuh ancaman. Keluarga Toni tertawa melihat tingkah mereka.
"Tidak mengapa... Ketika Jingga sudah besar nanti, Jingga akan memiliki Gingsul seperti Pamanmu ini, Sayang." Ghali mengedipkan matanya berusaha menggoda keponakannya itu.
"Kenapa harus memiliki gingsul sepertimu?" Protes Toni tidak suka.
"Biar kelihatan lebih manis dong, Kakak Ipar. Memangnya Kakak Ipar tidak lihat bahwa saya begitu tampan?" Sahut Ghali juga dengan percaya diri tinggi.
"Ngaku-ngaku kamu... ke-PD-an..." Ketus Toni mendelikkan matanya. "Kamu tidak tahu betapa berantakannya gigimu itu?" Ledek Toni lagi.
"Kakak... Lihatlah suami kakak... Bahkan jika Ayah masih hidup, dia akan marah kepada kakak ipar. Tidak tahukah kakak Ipar? Ayah kami juga memiliki gingsul sepertiku. Makanya ibuku begitu tergila-gila kepada beliau." Ghali berbicara di luar kendalinya.
"Haahh?" Toni ternganga mendengar penuturan adik iparnya. Dia menoleh sungkan kearah Iffah. Istrinya itu hanya membalas dengan senyuman pias.
"Itu yang sebenarnya... Menjelang kami berangkat ke villa untuk pertama dan terakhir kalinya bersama-sama, ibu mengakui semua dengan senyuman. Dia begitu tulus mengatakannya kepadaku...
__ADS_1
Memang benar. Terkadang orang jahat terlahir, karena dia merasa kebaikannya tidak dihargai sama sekali." Ungkap Iffah masih dengan tersenyum, namun mulai tampak getir.
Ghali hanya menunduk. Dia merasa bersalah telah mengungkit tentang ibunya pada saat itu.
"Maaf..." Toni terlihat menyesal. Mendadak, suasana menjadi canggung.
"Betul sekali, Nak. Semua orang pada dasarnya baik. Karena Allah menciptakan segumpal darah dalam diri manusia berbentuk sama. Hanya saja, Jika dia baik, maka baiklah seluruh anggota tubuh. Dan dia itu adalah hati." Sambung Bobi membenarkan ucapan menantunya.
"Dan setelah apa yang dilakukan mertua Toni, bukan berarti beliau tidak baik. Hanya saja, beliau belum kembali baik." Tambah Chellin.
Iffah dan Ghali menyeka air mata mereka masing-masing. Mereka tersadar, bahwa mereka perlu memaafkan kesalahan ibu mereka. Mereka menjadi percaya, banyak orang yang bisa berada di posisi ibu mereka.
*****
Setelah mendapat persetujuan Ghali dan Iffah, ibu mereka dipindahkan ke RSJ. Ternyata, berbagai tekanan perasaan yang dialami Ridha selama itu membuatnya menderita Skizoafektif.
Sudah dua bulan semenjak kelahiran Jingga. Dan hari itu pertama kalinya mereka bertiga, Toni, Iffah dan Jingga mengunjungi ibu kandung Ghali disana.
Kali itu, Ridha terlihat tenang. Tidak seperti sebelum-sebelumnya sewaktu Ghali dan Toni mengunjungi dirinya. Ridha sering mengamuk dan berteriak. Dia terus saja memanggil-manggil nama Ghali. Putranya yang dia pikir telah meninggal karena kejahatan dirinya.
"Ibu... Maaf, Iffah baru bisa mengunjungi ibu. Tapi suaminya Iffah sudah beberapa kali mengunjungi ibu bersama Ghalinya kita." Iffah berusaha mengajak ibu tirinya berbincang-bincang, meski hatinya begitu remuk.
"Ghali? Ghaliku?" Ridha mulai menolehkan wajahnya kearah Iffah. Iffah mengangguk, dia menyeka air matanya yang begitu nakal dan keluar dengan sendirinya.
Iffah menangis melihat keadaan Ridha yang tampak menyedihkan di matanya.
"Dimana Ghaliku? Apa dia mati?" Ridha mulai meracau. "Aku telah membunuhnya, aku membunuhnya." Teriak Ridha tak terkendalikan.
"Tidak ibu... Ghali kita baik-baik saja, bu." Iffah mencoba memeluk tubuh Ridha yang terasa bergetar dengan begitu kuat.
"Dia sering mengunjungi ibu bersama suamiku, Antoni. Ibu tidak mengenali Ghali kita?" Tanya Iffah. Dia berusaha menahan kesedihannya melihat kondisi ibu tirinya itu.
__ADS_1
"Ghaliku masih hidup? Dimana dia? Dimana Ghaliku?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Dia akan datang ibu... Dia akan datang bersama calon istrinya, calon menantu ibu." Sahut Iffah terlihat begitu antusias. Perlahan, Ridha kembali terlihat tenang.
"Ibu..." Panggil Iffah lagi. Dia meraih tangan Ridha, dan mengecup punggung tangan ibu tirinya itu.
"Aku minta maaf... Iffah minta maaf ibu. Untuk ibu kandung Iffah juga, untuk ayah juga. Ibu pasti sangat tersiksa selama ini." Air mata Iffah dibiarkannya mengalir begitu saja. Dia sudah tidak sanggup lagi menahannya.
Ridha terlihat kebingungan. Tiba-tiba, ibu jari tangan kanannya mengusap lembut pipi Iffah yang basah. "Cantik..." Katanya.
"I-ibu..." Iffah begitu senang mendapat perlakuan dari ibu tirinya itu. Dia segera memeluk perempuan yang selama ini sering membuatnya merasakan penderitaan terlalu banyak.
Saat itu, Iffah mencoba untuk balas dendam terhadap ibu tirinya yang jahat. Membalas dengan memaafkan semua kesalahannya. menerimanya kembali. Dan terluka ketika melihat ibu tirinya itu tampak begitu menyedihkan di hadapannya.
"Ibu tahu? Putriku, cucunya ibu sudah terlahir. Ayo kita menemuinya." Ajak Iffah seraya menggandeng tangan Ridha kearah tempat Toni menunggunya.
"Apa semua baik-baik saja, Sayang?" Tanya Toni seraya bangkit dari duduknya, ketika mendapati istrinya bersama Ridha sudah berada di sampingnya.
"Iya, Sayang... Ibu sudah terlihat tenang kembali. Aku ingin mengenalkan Iffah kepada neneknya untuk sebentar. Bolehkah, Sayang?" Iffah menatap Toni yang tengah menggendong Jingganya, dengan penuh harap.
"Boleh... Ibu pasti senang." Sahut Toni seraya menangkupkan sedikit wajah Jingga dari gendongannya agar terlihat oleh mata Ridha.
"Cantik... Seperti putriku." Ridha menunjuk Iffah kecil yang berada di dalam foto, yang entah sedari kapan foto itu di peganginya.
Iffah kembali menitikkan air matanya. Dia jadi benar-benar yakin, bahwa selama itu ibu tirinya sangat menyayanginya. Hanya saja, kecemburuan Ridha membuatnya tidak ingin mengakui perasaannya.
.
.
.
__ADS_1
.
.