
“Pappaaa…” Seorang gadis mungil berlari menghampiri Toni dari dalam rumah kediaman Arayan. Dan dengan tangkas, lengan kekar pemuda itu menyambut putri kecilnya. Tidak henti-hentinya dia menghujani kepala gadis itu
dengan ciumannya. Semua orang melihat dengan tidak begitu asing bagi mereka.
Mereka tau hubungan yang tercipta antara anak dan pemuda itu, kecuali Iffah dan gadis mungil itu sendiri.
Ya, gadis mungil itu jelas belum tau hubungan apa yang terjalin diantara dirinya dengan seseorang yang dipanggilinya papa. Yang dia tau, lelaki itu sangat memanjai dirinya. Dan diapun juga diajarkan untuk memanggilya dengan sebutan papa.
Berbeda dengan Iffah. Meski dia bingung dan terheran-heran, tetapi tidak sedikitpun pikiran buruk merasuk ke dalam benaknya hingga dia memperoleh penjelasan dari seseorang.
Iffah tak berkedip melihat kedekatan antara lelaki yang akan menjadikan dirinya istri sekaligus atasannya di kantor itu denga si gadis kecil yang bernama Milka. Dia bahkan juga ikut dengan seksama mendengarkan celotehan yang keluar dari mulut cantik milik gadis mungil itu.
Tidak buruk juga, belum menikah tapi sudah terlihat sekali jiwa seorang ayah dalam dirinya.~ Batin Iffah seraya tersenyum tipis.
“Hei Ton, sudah dari tadi?.” Seorang lelaki datang sambil menggandeng tangan istrinya yang terlihat tengah hamil muda. Perutnya belum terlalu membuncit kala itu. Mereka tidak lain Kemil sepupu Toni dan Kamelia,Ibu dari Milka kecilnya.
“Tidak juga, baru saja kami datang.” Saut Toni menghentikan obrolannya dengan Milka.
“Ibuuu, ayaaah…” Milka turun dari pangkuan Toni dan berlari kearah Kamelia dan Kemil.
Oh, jadi itu orang tuanya?. Iffah menepiskan senyumannya kearah sepupu Toni dan istrinya itu.
“Nenek, bagaimana kabar nenek?.” Kamelia dan Kemil bergantian menyalami Neneknya Toni beserta Chellin, Bobi dan Iffah yang juga ikut malam itu berkunjung kesana.
“Alhamdulillah, nenek Baik. Kamu sendiri bagaimana? Calon adiknya Milka, sehat?.” Nenek mengelus pelan perut Kamelia.
__ADS_1
“Alhamdulillah Nek. Kamel dan calon bayi sehat.” Sahut Kamelia seraya menepiskan senyumannya.
“Oh iya Kemil, kak Id dan kak Maya mana.” Chellin sedikit mendongakkan kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan orang tua Kemil.
“Mama dan papa belum pulang dari Villa, Bi. Palingan sebentar lagi. Alhamdulillah rekaman persentasi yang kami terima sangat menyibukkan warga desa, dan mereka sangat senang akan hal itu. Saya bangga sekali sama kamu, Ton. Kamelia hanya menanmbahkan sedikit kesan tradisional di dalam acara peresmian Villa kita nanti, anak-anak disisni juga memiliki banyak talenta yang harus di kembangkan. Jadi acaranya mungkin besok akan memakan waktu yang lama.” Tutur Kemil.
“Alhamdulillah, Kemil. Semua ini juga ide dari Iffah.” Tunjuk Toni mengarah kepada Iffah yang sedari tadi hanya menjadi pendengar yang baik diantara mereka.
“Iffah?. Apa dia Iffah yang sama dengan yang kamu katakan waktu itu, Ton?.” Kamelia tampak berbinar memandangi Iffah. Iffah hanya menampakkan wajah kebingungan mendengar pertanyaan Kamelia.
Toni hanya tersenyum menyauti pertanyaan Kamelia yang sudah terlihat melupakan masa lalunya bersama Toni.
Aku? Kenapa denganku? Antoni menceritakan apa tentangku kepada mereka?.~ Banyak pertanyaan bersarang di benak Iffah seketika.
“Tentu om. Toni sudah bercerita sedikit kepada kami, kami hanya menunggu undangannya saja.” Kemil seakan mengerti maksud Bobi yang ingin menggoda sepupunya itu.
Meski tidak mengerti, tetapi wajah Iffah ikut memerah karenanya. Mereka seakan berada di tengah orang-orang yang sedang membuli mereka habis-habisan malam itu.
*****
Meski Milka sudah terlelap di dalam gendongannya, namun Toni seakan enggan melepaskan gadis mungil itu. Dia masih saja berdiri di belakang pelataran rumah milik ayah dari mamanya. Sesekali dia menciumi bagian tubuh gadis mungilnya yang dapat terjangkau oleh bibirnya.
Malam itu selepas makan bersama dengan keluarga besar omnya, Toni mengambil Milka dan menidurkannya didalam dadanya sesaat setelah mereka menghabiskan percakapan panjang dengan gadis yang banyak bicara seperti burung Murai berkicau.
“Apa dia sudah tidur?.” Kemil datang mengusik rasa takutnya.
__ADS_1
“Sudah, tapi biarkanlah sesaat aku melepaskan rinduku dangan Milka, Kemil.” Ujarnya lirih.
Kemil tersenyum seraya mensejajarkan tubuhnya dengan Toni. “Apa kamu pernah berfikir untuk membawa Milka dari kami, Ton?.” Tampak wajahnya khawatir menanyakan hal yang sulit untuk dijawab oleh Toni.
“Jika aku boleh jujur, aku ingin memilliki Milka seutuhnya, Kemil. Tentang Milka, aku bisa menjadi serakah.” Kemil tidak memperlihatkan kemarahan yang mulai tumbuh dalam hatinya. Dia tau lelaki itu sudah menjadi lebih bijak dari semenjak lama.
“Aku hanya tidak ingin menambah banyak kekacauan akibat keegoisanku. Membiarkan Milka tetap bersama kalian adalah keputusan yang tepat bagiku. Selain aku masih bisa mengunjunginya, aku juga masih punya keluarga olehnya. Aku hanya takut untuk memulai darimana aku harus bercerita tentang Milka kepada Iffah. Apa dia akan sama sepertimu yang masih mau menerima Kamelia meski kamu tau...” Toni merebahkan sedikit kepalanya ke kepala Milka yang terlelap di bahunya. Dia tidak lagi ingin melanjutkan ucapannya.
“Sepertinya, Kamelia benar. Iffah gadis yang baik, dia pasti akan menerimamu apa adanya , Ton. Bahkan Milka sekalipun. Asalkan saja kamu tidak terlambat untuk mengakuinya. Perempuan terkadang begitu bijak, jika dia
mengerti dari awal hingga akhir. Tetapi sebaliknya, dia akan begitu sulit untuk menerimanya jika dia hanya tau sedikit dari kebenaran yang terlihat dan terdengar olehnya. Jika kamu tidak ingin menyesal, ceritakanlah semuanya ketika kamu masih disini, biar semua terlihat jelas olehnya.” Tutur Kemil dengan bijaksana. Entah sejak kapan dia seperti itu. Tapi dia benar-benar menjadi sepupu Toni yang paling bijak semenjak menikah dengan perempuan yang telah dihamili Toni.
Toni terdiam mendengar penuturan Kemil. Dia seakan ragu untuk menggali kembali kenangan yang dia rasa telah di kubur dalam oleh Kamelia. Dia saat itu takut, karena kepentingannya, Kamelia harus terusik lagi.
“Aku akan memikirkannya, Kemil. Terimakasih atas saranmu, kamu sungguh sepupuku yang baik.” Toni menepiskan senyumannya dan disambut dengan tepukan menenangkan dari Kemil di pundaknnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1